RSS

Teater Rumahan, Alternatif Pentas Murah

04 Feb
Abu Bakar

Abu Bakar

Beberapa kali terjadi: Dramawan Abu Bakar menjadikan rumah kediamannya di Jalan Sakura I, Denpasar, sebagai ”gedung pementasan.” Dengan penonton yang sangat terbatas, Abu selalu bisa ”mengendalikan” audience-nya. ”Kalau tidak menyukai pementasan ini, mohon dengan sangat agar keluar dengan diam-diam. Siapa tahu ada yang masih suka melanjutkan menonton.” Selalu begitu. Abu selalu mengucapkan kalimat itu sebelum pementasannya dimulai. Ia tidak mau tidak dihargai. Ia tidak mau penonton ngobrol sendiri, sementara pementasan sedang berlangsung.

Abu berhak bersikap begitu karena ia bicara di rumahnya sendiri. Penonton adalah tamu-tamunya. Biasanya, ada suguhan kecil, kue dan kopi atau teh.

Inilah pementasan rumahan. Inilah teater rumahan. Tak perlu panggung besar. Tak perlu sibuk dengan setting. Teras bisa dijadikan panggung. Pemain bisa keluar masuk kamar, memanfaatkan pintu, lubang angin, dan kaleng-kaleng bekas sebagai properti. ”Untuk mendapatkan set teater yang kukehendaki sering aku terlibat dalam kerepotan teknis yang melelahkan. Mana lagi duit jadi barang langka di kantong. Yang celaka, set minimalis pun perlu kocek atawa pinjam sana-sini. Maka tiba-tiba sadar, ngapain aku tak pentas di rumah saja dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada? Kilah Abu kepada Bali Tribune. ”Toh dalam menggarap Kereta Kencana-nya Ionesco terjemahan Rendra yang absurd itu lekak-lekuk rumahku mau diajak bicara. Tinggal disiram lighting, jadi. Awal idenya hanya begitu,” tambahnya.

Teater rumahan seperti inilah yang bisa dilakukan Abu ketimbang terus berkeluh-kesah tentang kurang memadainya gedung pementasa di Bali. Beberapa saat lalu, kata Abu, pada acara diskusi Pameran Entitas Nurani II di Art Centre, lagi-lagi mencuat keluh-kesah bahwa Bali belum punya  gedung teater  memadai. Maka respons cepat sang Gubernur pun turun. Di pojok timur-utara kawasan Taman Budaya, di atas lahan seluas 20 are akan dibangun gedung teater yang konon akan ”memadai” untuk menampung  kelompok-kelompok sastra dan teater yang merasa terpinggirkan.

”Tapi aku tetap curiga, jika toh gedung keluh-kesah itu terwujud, tetap saja tidak ada jaminan bahwa kita bisa terhindar dalam kerepotan menggarap perangkat set,” kata Abu. ”Lagi pula set pentas ’Kereta Kencana’-ku  tak buruk ’kan? Upaya gampangan itu tiba-tiba dapat menjungkir-balikkan pikiran bahwa ‘gedung teater memadai sungguh diperlukan.’ Jika upaya ini bisa memangkas kerepotan kita, kita pun telah memiliki ratus-ribuan gedung-gedung teater super memadai  yang tersebar di sekitar kita, berupa bangunan-bangunan roboh, pojokan kampung, bawah pohon besar, pinggir kali, rompok pasar, bangunan tua, pasar, gang kampung, dan seterusnya,” ujar Abu. Tinggal bersihkan, pasang kursi, lakon/cerita adaptasi dengan situasi, jauh dari keramaian  mengganggu, siram lighting, jadilah. Bahkan, katanya, kadang kala bisa  memberi hasil yang lebih impresif. ”Berdasar respon teman-teman, bisa jadi pilihat set macam begini akan kucoba ulang di masa depan,” lanjutnya.

Apakah ini langkah baru? ”Tidak,” kata Abu. Penyair Ketut Yuliarsa mengabarkan, teater rumahan itu sudah ada di Spanyol. Dibuat oleh kelompok-kelompok Flaminggo Dancing, kelompok teater miskin yang tak mampu menyewa gedung pertunjukkan. Namun, lama kelamaan jadi tren, hingga pada titik tertentu, orang-orang kaya pun ”nanggap” agar teater rumahan itu dipentaskan di rumahnya.

Apakah Abu nyontek gaya Flamingo Dancing itu? “Taklah. Pantang bagiku nyontek. Bila kebetulan di sana udah ada, ya memang di luar tahuku,” kata Abu.

Tampaknya gaya rumahan itu berlanjut terus. Malam ini ”Kereta Kencana” akan dipentaskan lagi dengan gaya rumahan di Tabanan, tepatnya di di rumah penyair I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, Sabtu (4/2) malam ini. abbas

Rubrik Seni, Bali Tribun, 4 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 4, 2012 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: