RSS

Karena Panggung Memakai ”Style Bali”

04 Feb
Putu Satria Kusuma

Putu Satria Kusuma

”Aku belum pernah dengar pementasan teater rumahan.” Itulah komentar Putu Satria Kusuma, dedengkot Sanggar Kampung Seni Banyuning, Singaraja. Kendati demikian, dia bisa membayangkan, teater rumahan pastilah memiliki karakter tontonan yang beda dengan teater pangggung, karena jarak penonton dengan yang ditonton dekat sekali, bisa dikatakan tidak berjarak. ”Peristiwa teater seperti menjadi peristiwa sehari-hari di dalam rumah. Karena itu sutaradara mesti peka membaca karakter teater rumahan,” ujar Putu.

Nanoq Da Kansas

Nanoq Da Kansas

Putu membayangkan dirinya bereksperimen dengan gaya teater rumahan, maka ia mengaku akan bermain sealami mungkin, tanpa permainan lampu, musik, dan memperlakukan penonton bukan sebagai tamu yang menonton, tapi sebagai anggota keluarga yang tiba-tiba saja disuguhi peristiwa teater yang tidak diduga sama sekali oleh anggota keluarga itu. ”Inilah yang tidak saya lihat pada garapan Abu bakar dalam pentas kemarin. Abu masih memakai konsep teater panggung yang diformat kecil,” tambah Putu sembari menambahkan, apa yang dipentaskan Abu sangat bagus. ”Cuma seandainya diformat sebagai teater rumahan, dan naskah Kereta Kencana disiasati untuk pentas teaer rumahan, pasti hasilnya beda. Lebih real, dan menusuk hati,” ungkap Putu Satria.

Dari Negara, Jembrana, sutradara Bali Ekeperimental Teater (BET), Nanoq Da Kansas mengaku telah berulang kali melaksanakan konsep teater rumahan. ”Kami telah melakukannya di Negara (Jembrana) sejak tahun 90-an. Sejak saya dan kawan-kawan di Negara masih aktif di Teater Kene dan berlanjut dengan BET. Hal ini bahkan sempat kami lakukan secara berkesinambungan dalam kurun waktu 5 atau 6 tahunan (1993-1998),” tutur Nanoq.
Saat itu, kata Nanoq, pementasan dilakukan (terutama) di rumahnya sendiri, rumah penyair DS. Putra, rumah Kaplur Sunantara, rumah Ida Bagus Surya di Desa Batuagung, dan rumah beberapa teman di Loloan Barat dan Loloan Timur. ”Kami memanfaatkan teras atau halaman rumah, ditonton oleh kawan-kawan sendiri dan warga sekitar rumah. Bahkan di lingkungan tempat kontrakan saya dulu, di Banjar Satria, Negara, para ibu-ibu rumah tangga saat itu menjadi terbiasa membujuk anak-anak mereka untuk segera mandi dengan iming-iming mengizinkan anak-anak itu menonton pementasan kami pada malam harinya,” tambah Nanoq.
Pementasan teater di rumah ini tidak saja untuk Teater Kene dan Bali Eksperimental Teater, tetapi juga untuk beberapa kelompok teater dari luar Bali yang sengaja datang ke kota Negara untuk pentas apresiasi. Teater ABDI dari Jakarta, Teater Belgombes dari Malang, Teater TOP dari Semarang, Teater Cemara dari Surabaya, dan Teater Sendiri dari Kendari adalah kelompok-kelompok teater luar Bali yang pernah diajak pentas di rumah. ”Saya juga pernah kerja sama dengan seorang aktor dari Swis dan Belanda mementaskan sebuah karya di halaman dan di ruang tamu. Dengan konsep pementasan rumahan ini kami juga terbiasa ditonton hanya oleh 10 orang, atau kadang-kadang menjadi ramai karena orang-orang yang kebetulan lewat di depan rumah kami jadi penasaran dan akhirnya ikut menonton serta ikut diskusi setelahnya,” lanjur Nanoq.
Bentuk teater rumahan dipilih, menurut Nanoq, teramat sederhana. Di Negara (Jembrana) tidak ada gedung teater, tidak ada sebuah gedung kesenian pun yang bisa dijadikan tempat pentas teater berbiaya murah. Maksudnya, semua gedung yang ada dan dibangun pemerintah atau pun milik desa, berornamen “style Bali” yang dipenuhi ukiran yang dalam pementasan tertentu kondisi itu sama sekali tidak dibutuhkan. ”Jika pun kami memaksakan diri menggunakan gedung-gedung tersebut untuk pentas teater, kami harus mengeluarkan biaya tambahan yang cukup banyak untuk menyiasati atau menutup ukiran-ukiran tersebut dengan berbagai cara,” tandasnya.
”Saya pikir (konsep) ini memang dengan semestinya bisa berkembang atau dikembangkan. Bukankah kesenian-kesenian lain di Bali juga sudah melakukan hal semacam ini? Kalau tidak salah ingat, Almarhum Bli Rai Sulastra pernah menyelenggarakan pameran lukisan di rumahnya,” ujar Nanoq.
Bagi Nanoq, tidak ada kelemahan yang berarti dari konsep atau pola pementasan rumahan ini. Justru keunggulannya yang lebih menonjol. Pertama-tama, tidak perlu sewa atau izin penggunaan gedung dari pihak-pihak tertentu, tidak perlu bayar ongkos kebersihan karena sehabis pentas seluruh crew dan penonton bisa langsung membersihkan rumah bersama-sama. abbas

Rubrik Seni, Bali Tribun, 4 Februari 2012

 
1 Comment

Posted by on February 4, 2012 in Artikel

 

One response to “Karena Panggung Memakai ”Style Bali”

  1. Nanoq da Kansas

    February 4, 2012 at 7:55 am

    Hehehe terima kasih Mas Abbas, omongan saya yang kacau dikutip juga. Salam hormat.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: