RSS

Poliandri Mosuo

09 Dec

DALAM sebuah perjalanan ke China beberapa tahun lalu, seorang pemandu wisata menawari saya sebuah ”petualangan kultural” ke kawasan Danau Lugu yang berada di perbatasan China dengan Tibet. ”Sangat indah. Danau itu berada di ketinggian sekitar 2.700 meter di atas permukaan laut,” tutur si pemandu wisata dengan Bahasa Inggris yang membuat kepala saya pening. Ia pun membisikkan sesuatu ke telinga saya. ”Siapa tahu Anda terpilih,” katanya.

Terpilih jadi apa?

Ia pun bercerita tentang suku Mosuo yang hingga kini tetap kukuh berpegang pada tradisi matriarchat dan sekaligus menjadi pelaku poliandri yang sah dan legal. O la la … tentu saja cerita si pemandu wisata itu sangat tidak patut dipercaya. Ia melebih-lebihkan di banyak bagian untuk menarik minat wisatawan.

Tapi, inilah cerita yang sebenarnya.

Suku terasing Mosuo tinggal di sekitar wilayah Danau Lugu yang sangat indah, berada di antara belantara lebat dan pegunungan. Masyarakatnya masih memegang teguh adat turun-temurun selama ribuan tahun. Mereka menganut salah satu sekte agama Budha yang menganggap Lama sebagai pimpinan tertinggi. Peran Lama sangat penting bagi seluruh prikehidupan mereka.

Pada suku Mosuo, perempuan memegang peran sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Perempuanlah yang berperan sebagai kepala keluarga. Perempuanlah yang mengatur segala tetek-bengek kehidupan keluarga yang biasanya terdiri dari 10 hingga 30 anggota.

Perempuan suku Mosuo yang bertindak selaku kepala keluarga sangat dihormati. Seluruh anggota keluarga, tak terkecuali, laki dan perempuan, tunduk pada setiap keputusan sang kepala keluarga. Perempuan inilah yang bertanggung jawab atas seluruh anggota keluarga.

Perempuan suku Mosuo yang telah berusia 13 tahun segera saja ditahbiskan sebagai perempuan dewasa melalui sebuah upacara khas. Malam harinya ia bebas memilih lelaki mana saja yang disukainya untuk datang ke bilik rumahnya, memadu cinta di sana. Hanya malam hari si ”lelaki pilihan” boleh tinggal di bilik sang gadis. Keesokan harinya, pagi-pagi benar, lelaki itu harus sudah pergi. Ia boleh datang lagi malam selanjutnya jika si gadis masih menginginkannya. Untuk itu, si gadis akan memberi isyarat dengan membuka pintu. Jika pintu si gadis tertutup, itu pertanda lelaki tadi tak diinginkan lagi. Sangat mungkin si gadis telah berpindah ke lain hati.

Begitulah mereka melewatkan ”perkawinan” tanpa pernikahan. Pihak perempuan yang menentukan ia menerima siapa dan menolak siapa. Perempuan pula yang memutuskan kapan hubungan dimulai dan kapan diakhiri. Jika hubungan itu menghasilkan anak, maka si anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab si perempuan. Tak ada hak sedikit pun pada laki-laki. Lagi pula, yang tahu siapa ayah si anak kan hanya si perempuan. Hanya ia yang tahu dengan siapa saja ia melakukan hubungan.

Inilah yang menyebabkan suku yang kini berjumlah sekitar 50.000 orang itu disebut sebagai pelaku poliandri. Karena kekuasaan begitu besar ada di tangan perempuan, maka kawasan tempat tinggal mereka sering pula dipanggil dengan sebutan Kawasan Danau Perempuan.

Kini wisatawan dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, doyan bertandang ke kawasan pegunungan sejuk itu. Tentu saja banyak wisatawan lelaki yang otaknya dipenuhi angan-angan menjadi ”lelaki pilihan” yang dibukakan pintu oleh gadis-gadis Mosuo. ”Saya banyak mengantarkan tamu dari Jakarta ke sana. Tak sedikit yang rela tinggal tiga-empat hari dengan harapan bisa berkenalan dengan gadis setempat dan dipilih menjadi pendamping sang gadis,” celoteh pemandu wisata yang berjanji menguruskan segala keperluan perjalanan cukup jauh dari Guangzhou ke Danau Lugu.

Hubungan tanpa ikatan pada suku ini dikenal dengan istilah Axia. Inilah perkawinan bebas tanpa ikatan. Kaum lelaki Mosuo menyebut para perempuan mereka Axia yang berarti ”teman intim” dan para perempuan menyebut kaum lelaki atau kekasih sebagai Azhu. Tidak ada ikatan apa pun, semua bebas merdeka. Hubungan lebih bersifat mutual dan kasih sayang. Kendali sepenuhnya ada di tangan kaum perempuan.

Konon industri pariwisata dengan sangat tidak tahu malu ”menjual” tradisi ini kepada calon wisatawan yang acap kali ”terbakar” oleh keinginan berpetualang dalam tradisi unik itu. Tentu saja sangatlah tidak mudah mendapatkan kesempatan mengisi bilik gadis Mosuo. Bahkan hampir tak mungkin. Sebab gadis-gadis Mosuo hanya akan memilih lelaki yang telah mereka kenal sejak kecil.

Tapi, aha, industri pariwisata tentu tak kehilangan akal. Mereka pun menciptakan gadis-gadis Mosuo gadungan yang siap menerima kehadiran wisatawan tolol yang telah terbakar syahwat ke dalam pelukan tradisi palsu.

Kopi Pagi, Harian Bali Tribun, 9 Desember 2011

 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: