RSS

Sidak

28 Nov

KALI ini saya tidak ingin berkomentar panjang lebar. Baca sajalah berita-berita yang saya kutip dari beberapa media nasional berikut. Sesudah itu, beri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini: Siapakah yang sesungguhnya tolol? Siapakah yang sesungguhnya menipu? Siapakah sesungguhnya yang patut tercengang?

Alkisah, Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana membantah adanya fasilitas di dalam Rumah Tahanan Salemba seperti kamar mewah yang diceritakan oleh mantan narapidana, Syaripudin S. Pane, melalui rekaman video yang dibuatnya dan disiarkan oleh banyak stasiun televisi.

“Tidak ada bukti adanya kamar mewah di dalam rutan. Dan blok-bloknya juga sudah berubah,” kata Denny saat mengunjungi Rutan Salemba, Rabu (16/11).
Pada saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke rutan Salemba, Wamenkumham Denny Indrayana datang bersama Menkumham Amir Syamsuddin. Mereka mengitari setiap blok yang ada di Rutan Salemba untuk mengetahui apakah benar kehidupan di dalam rutan sesuai dengan pernyataan Syaripudin yang pernah ditahan pada 2007-2008 lalu.
Menkumham dan Wamenkumham tidak menemukan adanya berbagai fasilitas seperti kamar mewah serta arena perjudian. Sidak yang dilakukan oleh menteri dan wakil menteri itu sudah diketahui oleh para petugas rutan. Pasalnya, ketika tiba di pintu rutan, mereka disambut dengan tabuhan rebana yang dilakukan oleh anak-anak.

Pengamat komunikasi UI, Effendy Ghazali menilai ‘sidak’ yang dilakukan Menkumham Amir Syamsudin hanya pencitraan belaka, bukan sidak dalam arti sesungguhnya untuk memperbaiki keadaan.

“Kalau sidak yang benar adalah untuk memperbaiki dan mencocokkan laporan Syaripudin Supri Pane. Tapi kalau LP Salemba sudah dipersiapkan anak buahnya itu bukan sidak, melainkan pencitraan,” ujar Effendy di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, berdasarkan keterangan sejumlah wartawan yang ikutdalam ‘sidak’ Menkumham Amir Syamsudin dan Wamenkumham Denny Indrayana diketahui bahwa suasana LP Salemba sudah berubah. Sejumlah anggota pramuka tampak berjejer di sana. Sejumlah staf LP pun sudah disiapkan menyambut menteri.

Komisi Hukum DPR pun mengkritik gaya kepemimpinan Menkumham Amir Syamsuddin dan Wakilnya Denny Indrayana. Wakil Ketua Komisi Hukum DPR Nasir Djamil dari PKS mengatakan respons cepat Amir dan Denny menanggapi beredarnya video kesaksian mantan narapidana, hanya reaktif dan pencitraan belaka.

Ini lagi: Terjadi di Kalimantan Timur. Ada dugaan kuat terjadi pembantaian orangutan Kalimantan jenis Morio (Pongo Pygmeus Morio) di areal sawit PT Khaleda Agroprima Malindo, anak usaha Metro Kajang Holdings Bhd asal Malaysia. Dugaan itu dibuktikan dengan puluhan foto dan rekaman video. Tapi hal itu dibantah Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Farouk Ishak.

“Saya sudah katakan berkali-kali bahwa pemerintah daerah, baik provinsi dan Kutai Kartanegara bersama dengan kepolisian di Polda dan Polres, sudah ke lapangan. Kita tidak menemukan bukti adanya pembantaian itu,” kata Awang kepada wartawan usai menghadiri Rapat Paripurna ke-33 di Gedung DPRD Kaltim, Jl Teuku Umar, Samarinda, Jumat (18/11).

Menurut Awang, tidak ada yang perlu diragukan karena tidak ada bukti-bukti terjadinya pembantaian orangutan, sebagaimana yang ramai diberitakan di media massa.

“Pasti, jangan diragukan. Kita juga sangat terganggu dengan pemberitaan itu, seolah-olah kita tidak perduli. Padahal selama ini, kita bekerjasama dengan konservasi orangutan dan pengusaha,” ujar Awang.
Saat ditanya tentang hasil penelitian tulang orangutan yang dilakukan peneliti orangutan Dr Yaya Rayadin dari Universitas Mulawarman, diduga mati tidak wajar serta beredarnya foto-foto kondisi orangutan yang mati cukup mengenaskan dan diduga berada di areal sawit perusahaan tersebut, Awang kembali menyangkal.
“Ya diusut foto-foto itu darimana? Kan ada polisi yang menyelidikinya. Kita juga lakukan penyelidikan. Kalau setelah penyelidikan, tentu ada penyidikan,” katanya.

”Hahahahahaaaaa … Sidak? Hahahahahaha,” komentar keponakan saya saat menyaksikan berita kedua Sidak pejabat itu di televisi. ”Sidak apaan kok disambut seperti itu?” katanya tentang keriuhan Sidak Menkumham ke Rutan Salemba. Ia menduga, sebelum sang menteri bersama rombongan datang melakukan ”Sidak”, tentu telah dipersiapkan segala-galanya secara cermat dan sesuai kebutuhan pencitraan.

Lalu tentang Sidak sang Gubernur yang menghasilkan ”Tidak ada bukti mengenai pembantaian orangutan” itu, keponakan saya berkomentar lebih konyol lagi. ”Masak sih orang disuruh membantai orangutan di hadapan gubernur dan kapolda dulu agar ditemukan bukti? Saya kok merasa jadi sangat bodoh, Om. Kayaknya kecerdasan saya sangat dilecehkan, deh, Om,” kata ponakan saya, mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di Jawa.

Para pejabat kita lucu ya?

Kopi Pagi, Harian Bali Tribun, 21 November 2011

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: