RSS

Kalah (lagi)

28 Nov

KURNIA Miega menyergap bola yang meluncur deras. Ia berhasil menepis tendangan penalti yang dilakukan Kapten Tim Malaysia, Bakhtiar Baddrol. Sayang bola itu tak tertangkap dan melenggang memasuki gawang. Indonesia kalah. Tim merah-putih harus keluar lapangan dengan wajah murung. Sekitar 80 ribu penonton di Gelora Bung Karno pun pulang dengan muram. Jutaan penonton lain yang menyaksikan pertandingan penuh emosi itu melalui televisi pun larut dalam kepedihan.

Apa boleh buat. Pedih memang. Penantian panjang untuk meraih gelar juara di ajang SEA Games kembali terkubur. Tapi untuk kali ini kekalahan Tim Merah Putih tidak membuat kita berduka. Kita menerima kekalahan itu dengan sedih. Memang. Tapi permainan Egi Melgiansyah dan kawan-kawan sangatlah membuat kita bungah. Mereka tampil luar biasa. Trengginas. “Kita sudah mencapai hasil puncak. Kami harus syukuri dan terima. Aku bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah diberikan kepada kami pada babak pertama, kedua, hingga perpanjangan waktu,” ungkap Titus Bonai (Tibo) kepada wartawan seusai pertandingan. Ia mengucapkan selamat kepada tim juara dan menerima kekalahan.

Ada banyak cara untuk melihat kekalahan seperti ini. Kita bisa saja melihatnya sebagai kegagalan berulang setelah lebih dari 20 tahun bangsa ini tidak merasakan kegembiraan sebagai juara di ajang resmi persepakbolaan. Bisa saja kita menganggapnya sebagai semacam ”kutukan” dengan segala latar belakang yang bisa kita susun berderet-deret, mulai dari kisruh PSSI, ketidakprofesionalan pemain, kecenderungan untuk tidak disiplin, atau tidak adanya mental juara. Kita juga bisa melihat kekalahan ini sebagai sekadar kejadian biasa, sama saja dengan ratusan peristiwa yang acap kita lihat di televisi. Kekalahan ini tidak beda dengan cerita tentang peradilan yang tidak becus, politik korup, dan mental maling di hampir seluruh jajaran pengelola negara. Semua itu hanyalah rangkaian peristiwa-peristiwa besar yang lewat begitu saja dan terlupakan: Kita tidak belajar apa-apa dari sana. Terlalu banyak kebusukan, terlalu banyak keteledoran, terlalu banyak kegagalan, terlalu banyak kekecewaan, hingga kita terbiasa dan menganggapnya biasa-biasa saja.

Tapi kita juga bisa melihat sisi lain yang lebih bercahaya, yang lebih mencerahkan. Kekalahan Tim U-23 dalam ajang SEA Games pastilah memedihkan. Benar. Tapi kita bisa melihat begitu banyak hal positif pada tim ini. Dalam pandangan saya, inilah tim terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dalam kurun 20 tahun terakhir. Inilah tim yang membuat kita sangat betah berlama-lama di depan televisi menyaksikan kenyinyiran para komentator hanya karena sedang menunggu Tibo dkk akan berlaga. Inilah tim yang membuat kita lebih bisa menegakkan kepala sembari berkata, ”Ada masa depan di sini.”

Masa depan itu jelas terlihat pada Tim U-23 kita. Masa depan persepakbolaan kita nyata tampak pada Kurnia Meiga, Gunawan Dwi Cahyo, Abdul Rahman, Hasim Kipuw, Egi Melgiansyah, Oktovianus Maniani, Andik Vermansyah, Titus Bonai, Patrich Wanggai, dll. Masa depan sepak bola Indonesia juga akan sangat menjanjikan di tangan Coach Rahmad Darmawan. Yang tak kalah penting, masa depan persepakbolaan Indonesia sangat ditentukan oleh dukungan yang begitu besar dari pecinta sepak bola tanah air. Kita punya pelatih dan pemain hebat. Kita punya suporter luar biasa.

Lalu apa lagi?

Ini saatnya pengurus PSSI mawas diri. Timnas U-23 seperti memberi teguran keras kepada PSSI. Mereka seperti berkata, ”Tanpa sentuhan tangan PSSI pun kami bisa memberikan sesuatu kepada persepakbolaan nasional.”

Maka, kini, tugas PSSI adalah ”diam” saja. Tak perlu terlalu banyak campur tangan. Biarkan saja RD membangun tim ini dengan kebebasan penuh. Jangan ambil tindakan aneh-aneh lagi. Jangan sok tahu, menganggap RD gagal lalu menggantikannya dengan pelatih Tarkam dari Belanda atau Jerman atau dari aman pun. Sokong RD dengan memenuhi semua kebutuhannya untuk membangun tim yang baik.

Pengalaman mengajarkan, campur tangan PSSI selalu menghasilkan kebobrokan. Timnas senior adalah contoh paling jelas. Kompetisi Liga Indonesia adalah contoh lain. Karena itu, kini saatnya PSSI duduk manis saja, biarkan RD bekerja dengan tenang.

Sekali lagi, satu-satunya tugas PSSI adalah DIAM.

Kopi Pagi, Harian Bali Tribun, 23 November 2011

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2011 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: