RSS

Partai Nasdem

19 Nov

SANGAT bisa dipahami jika banyak anggota Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) yang menimbang-nimbang keberadaannya di organisasi itu sejak diluncurkannya Partai Nasdem yang kini telah disahkan oleh Kemenkumham. Paling tidak, sangat mungkin itulah yang dirasakan oleh mereka yang berasal dari lingkungan perguruan tinggi, pegawai negeri, orang-orang yang berprofesi khusus yang menuntut independensi diri dari keterlibatan dengan politik praktis, dan anggota parpol lain.

Kendatipun ada penegasan bahwa Nasdem sebagai organisasi massa (Ormas) tidak serta-merta terlibat dalam Partai Nasdem, namun tetap saja akan ada pertanyaan tentang independensi saya sebagai wartawan, misalnya, jika saya tetap mengenakan jaket biru. Saya sangat paham kenapa Sri Sultan Hamengkubuwono X mengundurkan diri dari organisasi itu. Saya yakin banyak pengurus dan anggota Ormas Nasdem yang akan mengundurkan diri, mengikuti jejak Sri Sultan. Atau, paling tidak, akan menarik diri secara perlahan, diam-diam, tidak lagi terlalu aktif.

Langkah Nasdem untuk mendeklarasikan Partai Nasdem mempertegas kemenangan ”faksi politik” dalam tubuh organisasi besutan Surya Paloh dan Sri Sultan itu. Dalam sosialisasi ke berbagai daerah tahun lalu, baik Surya Paloh, Syamsul Mu’arif, Sri Sultan, dan pengurus lainnya selalu berkata bahwa ”Mendirikan partai politik adalah halaman ke-999 dari 1000 halaman buku perjalanan Nasdem.” Mereka juga selalu mengumandangkan kalimat indah ini: ”Nasdem hanya akan menjadi partai atau mendirikan partai politik kalau yakin akan lebih besar dari Golkar, PDI-P, maupun Demokrat.” Pernyataan yang sama masih terus didengung-dengungkan saat Rapat Pimpinan Nasional Ormas Nasdem di JCC, 30 Januari-1 Februari 2011 lalu.

Lewat 5 bulan setelah ulang tahunnya yang pertama, pernyataan-pernyataan itu ”dilanggar” sendiri oleh para petinggi Nasdem. Mereka tidak mampu menahan keinginan berkuasa melalui politik praktis. Mereka mendirikan partai.

Lalu, apakah mereka kini yakin telah (bisa) lebih besar ketimbang Golkar, PDI-P, dan Demokrat? Apakah mereka sudah bekerja dengan sangat luar biasa sehingga menganggap dirinya telah melewati 998 halaman dari 1.000 halaman buku perjuangan sebagai ormas? Jujur, saya sangat tidak yakin. Bahkan, sepengetahuan saya, program ormas itu pun belum benar-benar tersusun dengan sistematis. Apa yang ditelurkan Rapimnas di Jakarta awal Februari lalu hanyalah kilasan-kilasan pikiran yang tidak tersusun secara sistematis. Sementara itu, sebagian besar anggota yang dihimpun organisasi ini adalah orang-orang yang bersedia bergabung karena Nasdem ”bukan partai politik.” Mereka berasal dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk orang-orang yang enggan bergabung dengan parpol atau bersinggungan dengan politik praktis. Tentu saja akan sangat sulit ”menarik” mereka ke parpol baru.

Sialnya, ada kesan bahwa Ormas Nasdem hanya dijadikan jaring penangkap binatang buruan. Setelah terkumpul mereka digiring ke ”peternakan” partai politik. Seribu alasan bisa disampaikan untuk menolak anggapan ini. Tapi itulah salah satu kesan yang muncul di antara banyak kesan lain.

Konon parpol Nasdem dipaksakan segera muncul karena ingin mengekor keberhasilan Partai Demokrat yang didirikan ketika PDI-P yang berkuasa mulai kehilangan pamor, sementara keyakinan masyarakat terhadap partai-partai lama belum benar-benar pulih. Kini mereka melihat gerbong Partai Demokrat yang berkuasa pun mulai kehilangan arah dan beragam persoalan mengikis kepercayaan masyarakat padanya. Mereka beranggapan, inilah saatnya mendirikan partai baru.

Namun ada persoalan besar yang dihadapi Partai Nasdem yang telah disahkan oleh kementerian Hukum dan HAM itu. Masyarakat sudah terlampau muak dengan partai politik. Harapan baru dengan kehadiran partai baru pun dinodai oleh Partai Demokrat. Pada awalnya, membuncah harapan bahwa Partai Demokrat, dengan SBY-nya, akan membawa angin baru dalam perpolitikan nasional. Tapi, setelah rakyat memberi kepercayaan sangat besar, setelah Partai Demokrat berkuasa, harapan itu tertanam menjadi hanya tinggal harapan. Ternyata Partai Demokrat dan SBY tidak membawa perubahan apa-apa. Yang mencuat ke permukaan justru kemerosotan moral pemimpin, korupsi di mana-mana, dan penegakan hukum yang amburadul.

Kini masyarakat tidak akan dengan mudah membangun harapan yang sama. Tidak untuk PD, tidak juga untuk partai lain.

Di sisi lain, sebagian orang yang bergabung dalam Ormas Nasdem pun merasa dikecewakan. Tidak semua orang bersedia bergabung dengan partai yang dengan jelas mengekor popularitas Ormas Nasdem. Nama tetap menggunakan ”Nasdem”, logo pun menggunakan logo Nasdem (hanya dibalik). Maka, wajar jika seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri mengaku melipat jaket Nasdem-nya, tidak akan pernah lagi menggunakannya dengan bangga seperti beberapa bulan lalu sebelum Partai Nasdem diluncurkan.

Kecurigaan sebagian orang sepertinya terbukti: Ormas Nasdem hanya digunakan untuk menjaring orang untuk kemudian digiring ke kandang parpol.

Kopi Pagi, Harian Bali Tribun, November 2011

 
Leave a comment

Posted by on November 19, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: