RSS

Seks

13 Nov

MARI kita bicara tentang seks. Mari kita mencoba melepaskan diri dari aneka tabu yang terlampau lama menjebak kita. Mari kita melambungkan ingatan dan angan-angan ke arah cinta, ke arah keindahan, ke arah penyatuan jiwa pada titik spiritualitas yang sangat tinggi, yang setiap hari kita sebut SEKS.

Terlalu banyak kita mendengar kata ”jangan” pada setiap hal yang berhubungan dengan seks. Padahal dengan sekslah kita tercipta. Melalui hubungan sekslah kehidupan berlanjut. Hampir semua makhluk hidup membutuhkan seks untuk memastikan keberlanjutan kehidupan. Hampir semua makhluk hidup membutuhkan ”pasangan” untuk melakukan aktivitas seks. Dan hampir semua hubungan seks diwarnai kenikmatan luar biasa yang menjadikannya ekstatif, membius, dan membuat kecanduan.

Seks, kata seorang teman, adalah puncak ekspresi cinta kepada lawan jenis. Seks adalah dialog jiwa dua manusia. Pelaksanaannya tak lagi dibungkus aturan-aturan keseharian. Itulah dialog tanpa sekat (dalam makna yang sebenar-benarnya). Tubuh disatukan. Jiwa disatukan. Pikiran terfokus pada satu titik. Maka kita menjadi sadar bahwa aktivitas seks adalah bersatunya dua tubuh, dua jiwa, dalam puncak ekspresi cinta untuk melahirkan generasi baru. Maka kita menjadi sadar, kelahiran selalu dimulai dari ekspresi cinta yang jujur, ekspresi cinta dua manusia yang telanjang, yang tidak dihambat oleh beragam pakaian dan sekat, ekspresi cinta yang diiringi kenikmatan syahwat yang tak terkira.

Sebagai sebuah dialog, seks adalah cara manusia menyatakan sesuatu kepada pasangannya. Pada saat itu manusia sangat bahagia bisa memberi sesuatu kepada pasangannya. Pada saat itu, mata menggelorakan gairah, mulut menggumamkan gairah, tangan menarikan gairah, seluruh tubuh mengekspresikan gairah. Dialog berlangsung dalam bahasa yang hanya mungkin dipahami pada saat aktivitas itu berlangsung. Bahasa itu hanya menjadi kenangan, tersimpan dalam memori otak kita tanpa benar-benar mampu kita uraikan. Ia hanya terasa. Dan kita merasakan dialog itu, menyimpan dialog itu, dalam kenangan yang sangat indah.

Tapi, begitulah. Keindahan puncak itu hanya akan kita rasakah jika seks dibangun di atas cinta. Seks hanya menjadi sekadar pelepasan syahwat ketika ia dilaksanakan tidak dengan fondasi cinta. Pada tataran inilah seks diperjualbelikan. Pada tataran inilah kita mengenal pelacuran. Pada tataran ini pulalah seks jatuh menjadi komoditas, menjadi sekadar hiburan sesaat yang bisa diperoleh dengan uang.

Pada aktivitas seks, kita memang menemukan unsur rekreasi, unsur hiburan, unsur kenikmatan. Sampai pada titik itu kita bisa membelinya. Tapi keindahan seks yang didasari cita, yang getarannya menyusup hingga ke kedalaman jiwa, yang secara spiritual mampu menggiring jiwa pada kebahagiaan sesungguhnya, yang membuat batin terbebaskan, tidak mungkin kita peroleh hanya dengan uang. Uang bisa memberi kita hiburan sesaat, kenikmatan sesaat, tetapi tidak mungkin menghadirkan efek-efek spiritualitas seperti yang dihasilkan aktivitas seks dengan balutan cinta. Cinta itu tidak mungkin terbeli.

Tapi adat manusia modern kerap kali hanya suka pada hal-hal surfacial, hanya mampu memahami hal-hal yang tampak di permukaan semata. Acap kali manusia tak mampu merengkuh kesejatian. Dalam hal seks, manusia kerap hanya bisa menikmati kenikmatan pergesekan kulit dengan kulit, kenikmatan ejakulasi. Itulah kenikmatan surfacial pada aktivitas seks.

Untuk menikmati kesejatian seks memang dibutuhkan perjuangan: ada cinta yang harus dibangun. Ada kejujuran yang harus dipersempahkan kepada pasangan. Ada penghargaan kesetaraan yang harus diekspresikan oleh kedua belah pihak. Untuk itu harus ada komitmen untuk bersama berpelukan dalam lingkaran cinta. Dan, sungguh, tak semua orang bisa dan berani bergumul di dalamnya.

Seks, pada dasarnya, bukan semata pergesekan kulit. Seks bukan semata tertumpahnya sperma. Seks adalah dialog dua jiwa yang menghasilkan kesamaan dan kesederajatan. Seks adalah cara manusia (juga makhluk lain) untuk mempertemukan spermatozoa dengan ovum agar menghasilkan generasi baru. Agar generasi yang dilahirkan itu memiliki karakter kuat, memiliki sifat kasih-sayang, memiliki kecenderungan untuk menebarkan cinta, maka proses pembuahan itu dilakukan dengan cinta, dengan dialog spiritualitas yang intens, juga dengan kejujuran dan penghormatan.

Itulah SEKS.

(Bali Tribun, 9 November 2011)

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: