RSS

Pengantin Bom

13 Nov

MENCOBA membayangkan diri menjadi PENGANTIN.

Merasa gagah, merasa beda dengan yang lain, merasakan diri sangat berharga.

Merasa gagah, karena saya tak takut menghadapi kematian. Merasa beda dengan manusia lain di sekitar saya, karena di balik baju ada serangkaian bom yang siap saya ledakkan hanya dengan menyentuh tombol merah yang ada di dalam saku celana. Merakan diri sangat berharga, karena saya sedang menjalankan misi ketuhanan, misi suci, misi yang hanya mungkin dijalankan oleh orang-orang terpilih. Saya adalah satu di antara orang-orang yang terpilih menjalankan misi suci itu.

Pagi tiba. Saya berjalan di sekitar rumah menikmati cahaya matahari pagi untuk terakhir kalinya. Entah kenapa, Hambali, anak lelaki saya satu-satunya, hari itu rewel. Ia selalu minta digendong. Istri saya kewalahan. Terpaksalah saya membawanya serta.

”Bila dewasa kelak, engkau akan sangat bangga dilahirkan dari lelaki seperti ayahmu ini, Nak. Engkau akan paham bahwa perjuangan menegakkan kebenaran membutuhkan pengorbanan besar. Engkau akan paham bahwa hidup di dunia ini hanyalah sebuah permainan. Hidup sesungguhnya ada di balik kematian.” Begitulah saya bicara kepada anak saya yang baru berumur 2 tahun. Tentu saja Hambali hanya diam, memandangi saya tak mengerti.

Sebentar lagi Hambali akan kehilangan ayah. Sebentar lagi istri saya juga akan menjadi janda. Tantang Umi, istri saya itu, saya telah berpesan kepada salah seorang sahabat saya. ”Jika sesuatu menimpa saya, aku minta kamu mau membantu saya. Nikahi Umi. Aku hanya rela ia menikah dengan kamu. Aku hanya percaya pada kamu untuk mendidik Hambali. Aku akan membicarakan hal ini pada Umi.” Begitulah saya bicara kepada sahabat saya itu. Ia hanya bengong. Tidak tahu apa-apa. ”Kamu tidak perlu paham. Lakukan saja. Ambil Umi jadi istri keduamu,” kata saya kemudian.

Pendek kata, saya telah melakukan apa pun yang bisa saya lakukan untuk persiapan menjadi PENGANTIN.

Inilah saatnya. Saya menyaksikan dari jauh orang-orang mulai memasuki gereja. Wajah mereka tampak teduh. Sebagian tertawa, bercakap dengan teman-temannya sambil berjalan. Beberapa gadis muda berjalan bergerombol. Wajah mereka cantik, manis. Ada juga beberapa keluarga mengajak serta anak-anak mereka. Sangat mungkin salah seorang atau beberapa orang di antara mereka akan ikut bersama saya meninggalkan dunia fana ini.

Sebentar lagi, ketika mereka berkumpul dalam gereja, ketika mereka sedang khusyu mendengarkan khutbah, ketika mereka tidak menduga sama sekali bahwa pada tubuh salah seorang di antara mereka (saya) ada bom yang dirakit khusus dengan ratusan paku yang akan terlontar dan melukai siapa saja yang ada di dekat saya.

Ini bom peringatan. Tidak terlalu besar. Tetapi cukup kuat untuk melukai beberapa orang di sekitar saya. Sangat mungkin juga akan membunuh orang yang kebetulan sangat dekat dengan saya. Ini bom yang dirancang agar mudah dibawa, tidak terlalu kentara, dan (yang terpenting) hanya bertujuan untuk memberi peringatan bahwa kami, para pejuang Tuhan, tidak suka pada ketidakadilan yang kami, dan umat kami, terima.

Saya mulai memasuki gereja. Saya membayangkan, sebentar lagi saya akan membuka pengaman tombol, lalu memencet tombol berwarna merah itu. Blar. Bum. Saya akan segera berada di alam sana. Tujuh bidadari akan menjemput saya dengan senyum cantik. Mereka akan mendukung saya memasuki sorga. Mereka akan memperkenalkan saya kepada para malaikat, lalu para bidadari itu menyiapkan segala kebutuhan saya, menyediakan diri untuk kesenangan saya. Mereka, para bidadari itu, adalah perempuan-perempuan muda yang selalu muda, yang selalu perawan, yang selalu wangi, yang selalu siap kapan pun saya membutuhkan mereka.

Saya terhenyak ketika seorang lelaki duduk di sebelah saya. Ia tersenyum. Seorang anak lelaki duduk di sebelahnya. Anak itu mengangguk sopan ke arah saya sambil tersenyum. Saya teringat pada Hambali. Saya membayangkan senyum anak saya itu. Saya pun teringat pada Umi, ingat pada ekspresi perempuan yang saya cintai ketika ia melahirkan Hambali. Ketika ia melihat anaknya, ia tersenyum. Ia menolah ke arahku. ”Lelaki, Mas. Lelaki. Ia akan jadi presiden,” katanya.

…. Ah, Umi. Apakah akan aku biarkan dia sendirian saja mendidik Hambali? Apakah akan aku biarkan dia sendirian saja mencetak seorang presiden?

Aku berdiri. Aku pulang. Ternyata aku bukanlah seorang PENGANTIN. Ternyata aku hanya orang biasa yang sangat mencintai anak dan istriku. Ternyata aku tetap tidak bisa memahami, apa sih yang ada di dalam otak para PENGANTIN yang dengan mudah meledakkan diri sendiri dan menyertakan orang lain ke dalam kematiannya untuk bisa bertemu tujuh bidadari dan masuk sorga?

Untuk saat ini, Umi-lah bidadariku. Hambali-lah malaikatku.

Ah, saya tidak berhasil membayangkan diri jadi PENGANTIN.

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: