RSS

Paedofilia (2)

13 Nov

KENAPA kita sangat “membenci” prilaku paedofilia? Sebab ia menghancurkan masa depan anak-anak yang menjadi korbannya. Menghancurkan masa depan anak-anak adalah menghancurkan masa depan bangsa, menghancurkan masa depan kemanusiaan. Sama dengan pendeta, anak-anak adalah representasi kesucian,” ungkap budayawan Dr. IBM Dharma Palguna dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu. Bersikap buruk kepada anak-anak, sama artinya dengan bersikap buruk kepala pendeta. Menyodomi anak-anak sama saja dengan menyodomi pendeta. Itu berarti bersikap buruk dan menyodomi kesucian. Begitulah logika moralnya.  Begitulah keyakinan kita, masyarakat Bali.

Kasus paedofilia akan cenderung meningkat. Sebab, seperti diungkapkan Prof. Dr. L.K. Suryani, Sp.KJ, selain mengalami trauma berkepanjangan, korban paedofilia punya kecenderungan untuk menjadi paedofil pula ketika ia dewasa. Ini semacam ”penularan” ala vampire dalam cerita-cerita film picisan hollywood. Seorang paedofil menularkan kebiasaan itu kepada dua tiga orang korban, yang tertular menularkan lagi pada anak-anak lain. Begitu terus membentuk deret ukur atau penyebaran dengan pola piramidal.

Padahal, biasanya, kaum paedofil sangat pembosan dan tidak cukup hanya menggagahi satu dua anak. Tahun 1996, seorang warga Amerika Serikat bernama James, misalnya, dikabarkan melakukan pemerkosaan dan penyiksaan terhadap 180-an anak miskin di Bali selama empat tahun. Hingga kini lelaki bejat itu tidak jelas rimbanya. Pada tahun yang sama, di Lombok muncul nama William Stuart “Bill” Brown. Bersama tiga temannya  ―yang oleh anak-anak setempat biasa disapa Peter Hijau, Peter Kuning, dan Robert― Bill memangsa tak kurang dari 14 anak. Komplotan ini lolos dari kejaran polisi. Namun, kemudian diketahui, Bill yang pernah menjadi diplomat Australia dan belakangan bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris, mendekam di Bali dan berganti nama menjadi Tony. Di Bali, ia kembali merayu anak-anak kecil dengan uang, mainan, es krim, atau baju baru. Tony baru tertangkap pada 6 Januari 2004, sebelum akhirnya divonis 13 tahun penjara. Ia bunuh diri di sel Lapas Amlapura, Karangasem, pertengahan Mei 2004. Kasus lain melibatkan Mario Mannara, bule asal Roma, Italia, kelahiran tahun 1944. Pria gaek itu disebut-sebut mencabuli sembilan anak kecil, sebelum ditangkap tahun 2001 dan dijatuhi hukuman 10 bulan penjara. Mario beruntung, ia mendapat potongan masa tahanan, sehingga praktis hanya meringkuk empat bulan di Lapas Buleleng.

Kasus-kasus itu hanyalah puncak gunung es yang sempat terlihat. Mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, pernah membeberkan, jumlah kasus paedofilia sama besar dengan jumlah perkosaan terhadap orang dewasa.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dalam Laporan Perkembangan Penelitian Eksploitasi Seksual Komersial Terhadap Anak di Lingkungan Pariwisata Tahun 2004 menyebutkan, paedofil asing yang beroperasi di Indonesia umumnya berkewarganegaraan Australia, Jerman, Kanada, Belanda, Italia, Prancis, di samping orang Indonesia sendiri.

Hasil penyelidikan Kepolisian Federal Australia (AFP) menemukan pola kerja sistematis para paedofil dari Negeri Kanguru itu saat mencari mangsa di Bali. Pola pertama dinamakan resident pedophiles. Pada pola ini para paedofilia menyewa tempat tinggal untuk waktu lama. Bahkan ada yang membeli lahan atau rumah tinggal permanen. Lokasi pilihan mereka biasanya daerah tujuan wisata yang relatif sepi. Pola kedua disebut fly-in pedophiles, yakni pelaku paedofilia hanya datang dan singgah sebentar di lokasi-lokasi tertentu. Mereka kemudian mencari anak-anak untuk melampiaskan nafsu bejatnya. Beberapa daerah di Bali Timur dan Utara yang relatif miskin disinyalir sebagai wilayah operasi mereka.
Kuat dugaan, para pelaku mengalihkan sasarannya ke Bali dan wilayah lain di Indonesia lantaran mereka tak lagi leluasa beraksi di beberapa negara, seperti Thailand dan Filipina. Ditambah lagi, penegakkan hukum di negeri ini relatif lemah dan masyarakat belum cukup memahami persoalan paedofilia. Bahkan, seperti diungkapkan aktivis perlindungan anak Luh Putu Anggreni, sering terjadi masyarakat justru melindungi kaum paedofil karena mereka dianggap banyak membantu.

Sekali lagi, hingga kini pun Bali masih tetap menjadi kawasan incaran kaum paedofil. Karena ruang gerak di kawasan Buleleng dan Karangasem mulai menyempit, mereka pun, konon, mulai memasuki kawasan-kawasan wisata baru yang sepi dan masyarakatnya sedang sangat mengelu-elukan kehadiran ”tamu bule.” Beberapa pengamat telah mendeteksi beberapa ”kawasan baru” kini sedang berada di bawah cengekeraman kaum paedofil.

Berhati-hatilah.

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: