RSS

Megalomania

13 Nov

KEINGINAN baik tidak selalu berarti baik. Ada orang yang memiliki kekuatan sangat besar untuk melakukan kebaikan. Ada juga orang yang terobsesi sangat kuat untuk selalu berada dalam posisi ”orang baik” dan cenderung melakukan segala upaya untuk mewujudkannya. Sialnya, di antara sekian banyak orang yang punya obsesi seperti itu, ada yang mewujudkannya ”hanya” dalam bentuk angan-angan. Ia berfantasi seakan-akan dirinya berlimpah kekayaan, memiliki kesaktian dan kejeniusan tak terkalahkan, dan kemampuan tak berbatas.

Itulah megalomania. Itulah sikap orang yang terjangkit penyakit kejiwaan yang dikenal dengan istilah megalomania yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti suatu kelainan jiwa yang ditandai oleh khayalan tentang kekuasaan dan kebesaran diri. Sedangkan menurut terminologi medis yang didefinisikan oleh Online Medical Dictionary, Universitas New Castle Inggris, adalah suatu kondisi mental di mana pasien memiliki delusi mengenai kebesaran diri berlebih dan perasaan kebesaran atas dirinya sendiri. Pada orang yang terjangkiti megalomania, muncul kepercayaan diri yang berlebihan, tidak mau tunduk pada kenyataan, dan merasa memiliki kemampuan luar biasa dan bahkan potensi terpendam yang hebat. Akibatnya, kaum megalomania cenderung membutuhkan kekuatan total untuk melakukan kontrol terhadap segala hal, termasuk terhadap orang lain, dan cenderung kurang berempati atas segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhannya itu.

Kaum megalomania juga cenderung sangat mencintai diri sendiri. Cenderung narsisistik. Karena itu, Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah definisi klinis moderen atas penyakit jiwa yang dikaitkan dengan megalomania.

Janganlah terlalu heran jika ada orang yang begitu getol menderetkan beragam sebutan di depan dan belakang namanya. Jangan juga heran jika ada orang yang sangat bernafsu mendirikan dan mengetuai beragam organisasi. Jangan pula tercengang menyaksikan orang yang selalu berusaha mendapat tempat duduk paling depan pada setiap acara. Itulah orang-orang yang selalu berfantasi tentang kehebatan diri. Ia akan berjalan dengan kepala mendongak, menyapa orang dengan satu-dua kata seperti anjing menggeram, dan memagari rumahnya dengan pagar tinggi dengan pintu gerbang perkasa bak istana raja-raja.

Raja-raja. Benar. Mereka, kaum megalomania, memimpikan dirinya berposisi menjadi raja: tak terbantah, tak tertolak, segala keinginannya harus terlaksana, dan mengharuskan setiap orang yang berada di dekatnya selalu tunduk, selalu tafakur, selalu mendengar, dan melaksanakan apa saja titahnya.

Menurut Sigmund Freud, megalomania tumbuh dari narsisisme kedua. Narsistis ini bersifat patologis. Artinya, megalomania adalah narsistik yang sakit. Penderitanya memiliki kepercayaan diri yang dibesar-besarkan, dan diyakini secara absolut. Mereka cenderung enggan menerima kritik, kendatipun ia tahu ia melakukan kesalahan. Hal ini terjadi karena keyakinan yang menganggap diri maha sempurna dan tidak mungkin melakukan kesalahan.

Bayangkanlah jika orang semacam ini memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan yang berpengaruh terhadap orang banyak. Bayangkanlah jika kaum megalomania megang kekuasaan kenegaraan atau perusahaan. Akan banyak ketidakwarasan yang diciptakannya. Akan muncul masalah-masalah besar.

Kekuasaan yang ada di tangan kaum megalomania akan menghasilkan keputusan megalomania yang ditetapkan oleh pemimpin yang sakit. Tentu saja hal itu akan mengarah pada kehancuran, karena landasan yang digunakan adalah irasionalitas, bertujuan hanya untuk memenuhi hasrat kebesaran yang dimiliki oleh sang pemimpin megalomania. Tidak berpihak kepada yang dipimpin. Bahkan tidak berdasar pada kenyataan sama sekali.

Jadi, sesungguhnya, orang-orang yang senang berada di angin, senang menjadikan dirinya bahan sanjungan, senang mengumbar kelebihan diri sendiri, sering memasang iklan untuk menunjukkan keagungan diri sendiri, senang mempertontonkan kekuasaan di hadapan bawahannya, dan sangat anti pada kritik, adalah orang-orang yang sakit jiwa.

Ia sakit. Pantas dikasihani. Harus disembuhkan, tidak disingkirkan.

 
1 Comment

Posted by on November 13, 2011 in Esai

 

One response to “Megalomania

  1. Dwi

    January 4, 2012 at 2:58 pm

    Thanks ataz pngetahuan nya.
    Aku punya tman yg hmpir sma dgn hal2 yg tlah d’jlaskan.
    Tp, smoga tmen aku bkan megalomania

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: