RSS

Ngejot dll.

28 Jul

Ada banyak sekali kenangan di masa kanak-kanak. Sebagian besar menyenangkan. Sebagian besar sangat inspiring: terlalu banyak kemuliaan yang bisa dikutip darinya. Ingat kebiasaan pada musim petik kopi. Kami, kakak-beradik, diberi kebebasan memetik kopi milik keluarga. Ambil sebanyak yang kami bisa. Sesudah itu kami diperbolehkan menjual langsung kopi yang kami petik sendiri itu. Kini kami mengenang peristiwa itu sebagai pendidikan penting dari keluarga. Kami dididik untuk bekerja keras, memanjat pohon kopi di pagi buta, menggendongnya sendiri naik-turun lembah untuk kemudian menjualnya. Kami diajari cara menghargai tiap tetes keringat di balik tiap recehan rupih.

Ingat pula, di masa kanak-kanak, kami (aku dan saudara-saudaraku) diajak oleh kakakku yang bekerja sebagai belantik sapi, berjalan keluar-masuk desa yang tak semuanya kami ketahui namanya, mencari sapi yang akan dibeli dan kemudian dijual kembali di pasar atau di rumah jagal. Sepulang dari desa-desa itu kami menuntun tiga-empat ekor sapi, melewati pematang sawah, jalan setapak di antara perkebunan, atau di antara perkampungan yang dihuni orang-orang yang sangat ramah, yang selalu menyapa dengan senyum, bahkan tidak pernah enggan memberi kami pinjaman tikar untuk alas tidur mana kala kami kemalaman. Tak jarang kami tidur berbantalkan tas berisi uang yang cukup untuk membeli lima ekor sapi. Toh kami tetap nyenyak. Tak ada kekhawatiran bakal ada perampok atau begal atau maling tengik.

Ah, tahun 1970-an itu Bali memang benar-benar sorga. Sorga itu bukan genjrang-genjreng musik keras dan gemerincing dolar. Sorga itu bukan minuman keras dengan pendamping perempuan molek. Sorga itu bernama rasa tenang, rasa aman.

Saat itu tak pernah terbayang bakal bertemu begal. Satu-satunya yang kami takutkan adalah sisa-sisa dendam peristiwa pembantaian 1966. Kami juga was-was pada cerita-cerita tentang cetik: racun tradisional yang konon biasa dibubuhkan pada minuman dan makanan yang disajikan orang yang mendendam pada kita. Tapi, sepanjang puluhan kali perjalanan keluar-masuk belasan kampung untuk membeli sapi itu, kami tidak pernah terkena cetik. Cerita-cerita seru tentang cetik tanpaknya hanyalah cerita yang pantas diawali kata ”konon”.

Sedangkan dendam 1966 sangat tak kentara. Dendam itu tersimpan rapat di hati beberapa orang dan hanya ditujukan untuk orang-orang atau kelompok tertentu pula. Kami, orang yang berjalan lurus hendak membeli sapi, diperlakukan biasa-biasa saja, diperlakukan sebagai ”Bukan siapa-siapa.” Dong nyen-nyen.

Tulisan ini saya buat ketika pagi ini seorang tetangga ”ngejot”. Entah mimpi apa, pagi-pagi benar ia datang membawa pisang goreng hangat, lengkap dengan gula ganting, gula aren yang sudah dicairkan. Disebut ganting karena gula cair itu terlihat jernih dan kental. Tidak ada basa-basi, karena penganan enak itu dibawa oleh anak kecil, bungsu si tetangga. ”Dari Mama, Om.” Hanya itu yang diucapkan si pengantar. ”Suksma, nah. Orahin Mama. Suksma.” (Terima kasih, ya. Bilangin Mama, terima kasih). Itu kata saya.

Saya pun teringat pada Bali masa lalu. Teringat pada kehangatan orang-orang sekitar di masa kanak-kanak saya. Teringat pada Bibi Ancak, perempuan berhati mulia yang tinggal di Desa Sudaji, Buleleng. Sangat sering ia datang ke rumah saya, ponakannya yang beda agama, di sebuah desa yang berjarak 45 menit berjalan kaki dari Sudaji, hanya untuk ngejot, membawa penganan kecil yang sempat dimasaknya, atau membawa macam-macam buah-buahan di Hari Raya Pagerwesi atau seusai Nyepi. Pun dengan kami. Selalu tak lupa ”ngejot” ke Sudaji, pada manis lebaran atau saat maulid. Bibi Ancak (saudara perempuan dari ayah yang masih memeluk Hindu) adalah bibi favorit kami di masa kanak-kanak.

Saya rindu pada masa itu. Rindu pada Bibi Ancak. Rindu pada tawa renyah gadis-gadis kecil yang berangkat sekolah dengan telanjang kaki. Rindu pada air terjun di kali pinggir desa. Rindu pada gadis yang tersipu malu ketika harus mengantar kue ke rumah dan bertatap muka dengan saya.

Romantisme itu muncul begitu saja ketika saya mulai sadar bahwa Bali telah berubah banyak. Romantisme itu mendesak muncul ke permukaan memori saya ketika begitu banyak berita tentang bentrok antarwarga dan kebengisan masyarakat Bali.

Saya tertegun: Anak dan cucu saya tidak akan pernah menemukan romantisme itu.

(Kopi Pagi – Bali Tribun, Kamis, 28 Juli 2011)

 
Leave a comment

Posted by on July 28, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: