RSS

Pemilu Kada

26 Jul

Indonesian Corruption Watch (ICW) mencatat, hampir separo kepala daerah di Indonesia terindikasi melakukan praktik korupsi. Sebagian dari mereka kini sedang diproses oleh KPK. Yang menyedihkan, ada sebagian dari mereka mengendalikan pemerintahannya dari dalam penjara. Bahkan, anehnya, beberapa waktu lalu kita ”dihibur” oleh berita tentang pelantikan aparat daerah yang dilakukan di aula penjara, sebab sang bupati yang baru terpilih harus meringkuk di balik jeruji.

Setahun lagi, tahun 2012, Kabupaten Buleleng akan kembali menyelenggarakan perhelatan lima tahunan Pemilu Kada. Hiruk-pikuk dan kehangatan suasana menjelang diselenggarakannya Pemilu Kada itu telah terasa. Masing-masing kandidat mulai pasang beragam aksi untuk menarik perhatian pemilih. Masyarakat Buleleng mulai sibuk berbincang dan berdebat tentang para kandidat yang harus mereka pilih. Masyarakat kembali akan diharu-biru oleh berbagai slogan dan janji dalam kampanye. Dan, kalau mengacu pada Pilkada yang telah lewat, masyarakat akan kembali harus menerima kenyataan bahwa mereka sesungguhnya sangat miskin sehingga bersedia menjual suara mereka dengan recehan 20, 50, atau paling banter 100 ribu rupiah.

Praktik money politics seperti itu, sesungguhnya, bisa berdampak sangat luas. Di satu sisi, kandidat yang ”membeli” suara rakyat tidak akan merasa perlu terlampau berpihak kepada pemilihnya. Sangat mungkin mereka akan berkata, ”Apa yang kamu tuntut? Kamu tidak punya hak apa-apa, sebab suara kamu sudah aku beli.” Walhasil, rakyat tidak lagi menjadi perhitungan sangat penting dalam kebijakan-kebijakan yang ditetapkan jika nantinya sang kandidat memenangi Pemilu Kada. Di pihak lain, rakyat yang telah terbeli suaranya pun tidak cukup memiliki alasan untuk bersikap kritis terhadap kepala daerah yang dipilihnya berdasarkan jumlah uang yang mereka terima.

Selain untuk membeli suara secara langsung kepada pemilih, kandidat juga harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk, antara lain:

  1. Membeli dukungan dari partai politik. Jumlah dana yang dikeluarkan untuk ini sangat beragam, tergantung basah-keringnya daerah, juga besar kecilnya partai;
  2. Biaya sosialisasi dan dana kampanye seperti pengadaan bendera, kaos, selebaran, biaya tatap muka, dan lain-lain;
  3. Honorarium untuk tim sukses;
  4. Sumbangan sosial kepada banjar, kelompok kesenian, pura, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Ini hampir tak beda dengan bentuk money politics yang disalurkan langsung kepada pemilih secara perorangan yang disertai janji (tak jarang disertai sumpah) untuk memilih kandidat yang memberi sumbangan.

Efek yang paling membahayakan dari kebiasaan money politics dalam Pemilu Kada adalah keinginan untuk segera mengembalikan ”modal” yang telah dikeluarkan selama proses Pemilu Kada. Gaji yang diterima tiap bulan pastilah tidak cukup untuk mengambalikan modal yang bisa mencapai puluhan miliar rupiah itu. Jalan satu-satunya hanyalah korupsi.

Tak sedikit bakal calon yang ”miskin” berusaha mencari dana ke perseorangan atau kelompok tertentu untuk membiayai ambisinya meraih kedudukan sebagai kepala daerah. Jika nanti terpilih, tentu ia harus siap membayar kembali dana yang telah dipakainya itu dengan proyek-proyek yang acap kali sangat tidak menguntungkan masyarakat. ”Tidak ada makan siang gratis.”

Jika kalah? Lakukan protes. Ajukan gugatan. Kalau perlu siapkan pasukan bayaran untuk membuat kekacauan.

Jadi, sesungguhnya, sangatlah penting menyadari bahwa pelaksanaan Pemilu Kada yang bersih akan sangat menentukan pemerintahan daerah yang bersih pula.

(Kopi Pagi, Bali Tribun, 30 Juni 2011)

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: