RSS

Pahlawan Songan

26 Jul

Jro Selamet tewas dalam pertempuran antarwarga di Kota Bangli, Selasa malam, 19 Juli lalu. Lelaki paroh baya itu terkena bacokan senjata tajam dan tumbukan benda tumpul di sekujur tubuh, termasuk kepala.

Senja di Desa Songan. Masyarakat dirundung dendam lantaran salah seorang anak dari desa sejuk itu dikeroyok oleh anak-anak dari Kelurahan Kawan, sebuah perkampungan tradisional di tengah Kota Bangli. Perkelahian antaranak sekolah yang telah diselesaikan secara internal di sekolah itu membakar kembali dendam lama masyarakat Songan yang pernah bersitegang dengan masyarakan Banjar Kawan.

Senja itu kulkul di desa sebelah utara Danau Batur itu dipukul bertalu-talu. Jro Selamet dan sekitar 800-an warga Songan bergegas keluar rumah. Bersenjatakan parang, golok, pentungan, dan bambu runcing, mereka berangkat ke Kota Bangli yang berjarak cukup jauh. Kali ini perjalanan mereka tidak mendapat hadangan berarti dari kepolisian. Tidak seperti usaha yang mereka lakukan siang sebelumnya. Ketika itu polisi berhasil menghalau mereka untuk kembali ke Songan.

Begitulah. Jro Selamet dan kawan-kawan memasuki Kota Bangli. Belum sampai Banjar Kawan, mereka dihadang sekitar seribu orang warga di Desa Cempaga, pinggiran utara Kota Bangli. Untuk mencapai Kelurahan Kawan, masyarakat Songan terlebih dahulu harus menyusuri jalan di sisi barat Danau Batur, melewati Batur Tengah, Desa Kedisan, naik ke Penelokan, selanjutnya memasuki Desa Kayubihi. Di desa inilah, siang sebelumnya, polisi berhasil menghalau masyarakat Desa Songan untuk mengurungkan niat mereka menyerbu Kelurahan Kawan. Namun, senja itu mereka tidak mendapat hambatan berarti. Mereka lolos dari Kayubihi memasuki Desa Kubu dan sampai di Cempaga. Di sinilah sekitar 1.000 orang warga Kawan, dibantu warga dari banjar sekitarnya, menghadang rombongan Songan. Bentrokan tak terhindarkan. Kebengisan tak terelakkan. Puluhan orang luka-luka serius. Jro Selamet tewas.

Masyarakat Songan berduka. Mereka memberlakukan jenazah Jro Selamet dengan hormat. Senin, 25 Juli 2011, ia dikuburkan dengan iring-iringan panjang. Hampir seluruh masyarakat Songan, termasuk yang tinggal di balik bukit, tumpah-ruah mengikuti iring-iringan penguburan. Tampak juga dalam rombongan itu Bupati Bangli beserta jajarannya, beberapa anggota DPRD, dan Camat Kintamani. Upacara penguburan berjalan khidmat, termasuk ketika dilakukan upacara penyerahan bendera merah-putih sebagai tanda bahwa jenazah Jro Selamet diserahkan kepada desa. Tidak lagi hanya menjadi ”milik keluarga”.

Harap maklum, hari itu Jro Selamet dinobatkan menjadi Pahlawan Desa.

”Pahlawan Desa Songan.” Anugerah kehormatan itu diberikan karena, ”Mendiang meninggal dalam arena perang.” Itulah yang diungkapkan oleh salah seorang tokoh masyarakat Songan kepada wartawan di sela-sela upacara pemakaman.

Ungkapan itu sungguh menggugah. Bagi masyarakat Songan, sebagai sebuah kelompok dengan ikatan-ikatan tradisional yang sangat kuat, sebagai sebuah kelompok yang memegang teguh kebersamaan, kelompok yang menganggap seluruh anggota merupakan keluarga yang wajib dibela, kematian Jro Selamet adalah kematian seorang martir, seorang anggota kelompok yang rela mengorbankan jiwa atas nama kebanggaan kelompok, atas nama harga diri kelompok, yang tidak boleh diusik oleh siapa pun.

Tapi, di sisi lain, peristiwa penganugerahan ”Pahlawan Desa” dengan konsideran ”Karena yang bersangkutan meninggal dalam arena perang” itu tiba-tiba mengusik kesadaran kita sebagai orang Bali, sebagai warga negara RI, dan sebagai manusia yang diharuskan menghargai kebersamaan. Kita bertanya-tanya, ”Ini perang siapa melawan siapa?”

Bisa jadi, di masa lampau, warga lain yang dipisahkan jurang atau gunung atau sungai, yang tidak pernah berkomunikasi karena dipisahkan alam, pantas dianggap lawan dan pantas diperangi jika terjadi pertikaian. Dulu, memang, Bali terfragmentasi oleh jurang-gunung-sungai dan wilayah kekuasaan raja-raja. Tapi kini Bali adalah ”Bali” dengan satu bahasa, satu budaya, satu suku. Agak mencengangkan jika di dalamnya masih ada pikiran-pikiran terfragmentir tentang banjar, desa adat, atau yang sejenis itu, sehingga orang yang terlibat dalam satu pertikaian dengan banjar lain, dengan desa lain, bisa dianggap sebagai pejuang desa yang kemudian layak disebut pahlawan desa mana kala tewas.

Ini P.R. yang mendesak untuk dicarikan jalan keluar. Kebijakan-kebijakan gubernur dan bupati/wali kota haruslah benar-benar mempertimbangkan persoalan seperti ini. Jangan sampai kebijakan bantuan terhadap banjar, desa adat, sekehe, dll., justru memperlebar jarak antarkonstitusi adat itu. Para pemangku adat juga harus segera duduk bersama dan dengan serius membahas kecenderungan ini.

Bali tidak boleh terfragmentasi ke dalam sekutu-sekutu kecil yang memunculkan anggapan ”darah warga banjar lain sah ditumpahkan.”

(Kopi Pagi, Bali Tribun, 26 Juli 2011)

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: