RSS

Kontroversi BNN

26 Jul

Berkali-kali saya mencoba mereka-reka rekonstruksi atas kejadian sweeping yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) di Lembaga Pemasyarakatan Denpasar, Sabtu (25/6) dini hari. Akhirnya saya ”menemukan” dua skenario yang paling mungkin mendekati kenyataan.

Saya membayangkan serombongan orang mengenakan penutup wajah, diiringi sorot lampu wartawan televisi, dan beberapa wartawan media cetak, menyerobot masuk ke sel-sel tahanan narkotika. Para napi kontan kaget, terbangun. Dalam keadaan belum benar-benar sadar, beberapa orang tersulut. Emosi mereka berkobar. Kontan saja mereka melakukan kerusuhan, merusak fasilitas Lapas … Itu skenario pertama.

Sangat mungkin yang terjadi adalah skenario kedua ini: Ketika ”pasukan” BNN menyerbu, beberapa napi sedang asyik berpesta narkoba. Mereka, tentu saja, terkejut melihat serbuan mendadak aparat BNN. Lalu dengan sengaja ”membakar teman-teman sependeritaan” untuk melakukan kerusuhan. Dengan demikian, sweeping itu dapat digagalkan.

Tentu saja kedua rekonstruksi itu tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Saya tidak sedang berada di TKP ketika peristiwa itu terjadi. Saya pun hanya menduga-duga berdasarkan berita. Yang pasti, aksi ”pasukan” BNN berbuntut kontroversi panjang. Pasalnya, BNN melepas tuduhan, petugas Lapas ikut terlibat dalam pesta narkoba yang dilakukan napi saat sweeping dilakukan. Tuduhan itu memerahkan kuping banyak pihak. Parahnya lagi, BNN menduga, Kalapas juga terlibat.

Walhasil, BNN pun dikeroyok. Kalapas tegas menampik tuduhan terhadap dirinya. Kakanwil Kemenkumham Prov. Bali juga bewrapi-api membela anak buahnya sambil menantang BNN untuk membeberkan bukti. Hebatnya, Komisi III DPR-RI yang berkunjung ke Lapas Denpasar pun melontarkan pernyataan penuh api: BNN melakukan kebohongan publik.

Nah, lo.

Polemik dua pihak yang saling berseberangan tentang satu peristiwa pastilah menyimpan kebenaran di salah satu sisi. Itu artinya, ada kebohongan di sisi lainnya. Pertanyaannya, siapa yang berbohong? Saya sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk memberi penilaian, kendatipun secara pribadi saya memiliki kecenderungan.

Yang sangat pantas membuat kening kita berkerut adalah kenyataan betapa aparat hukum kita tak juga kunjung tiba pada kesamaan langkah. Bukankah BNN dan Kemenkumham sama-sama memiliki tujuan sama untuk menegakkan keadilan? Kalau benar demikian, kenapa mereka baku tembak sendiri di medan pertempuran? Wajar kalau seorang teman bertanya-tanya, ”Ada kepentingan apa di balik silang pendapat ini?”

Pertanyaan bernada curiga seperti itu sangat wajar. Pasalnya, kedua lembaga negara itu seharusnya menderapkan langkah dalam satu nada untuk memberantas peredaran narkoba. Tak peduli adanya di dalam maupun di luar penjara. Tidak peduli melibatkan iblis maupun malaikat.

Yang kita pahami, narkoba adalah laknat. Narkoba menyeret banyak orang ke jurang kebinasaan mental dan fisik. Narkoba, karena itu, menjadi musuh bersama. Siapa pun yang berada di balik peredarannya mestilah menjadi musuh bersama pula. Sangat menyakitkan jika ada pihak yang berusaha melindungi pelaku-pelakunya. Dengan alasan apa pun.

Itulah sebabnya kita mengerutkan kening ketika Kanwil Kemenkumham, ditimpali Komisi III DPR RI, rame-rame menghujat BNN di depan publik. Mestinya mereka secara bersama-sama membeberkan fakta-fakta di satu meja dan menyelesaikannya dengan keprihatinan yang sama.

Tapi begitulah adat negeri. Gemar gaduh. Anda bingung. Sama. Saya juga. Tapi, sepertinya, kian bingung kita kian senang pula para pemimpin. Apa boleh buat.

(Kopi Pagi, Bali Tribun, Senin, 27 Juni 2011)

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: