RSS

Kejujuran untuk Bali

26 Jul

Tahun 1978 Geoffrey Robinson melakukan perjalanan (wisata) ke Bali. Banyak yang ia lihat. Banyak yang ia catat. Sebagian besar mengenai jalan hidup orang Bali yang khas, tenteram, dan harmonis. Tapi, pada 18 April 1978 ia menemukan sesuatu yang berbeda. Ia pun mencatat dalam buku hariannya:

“Saat berjalan menyusuri Ubud, benak kami disesaki oleh banyaknya lelaki bersenjata yang gentayangan. Tampaknya, enam atau tujuh orang telah dibunuh oleh paramiliter lokal ini. Semuanya terjadi di Kuta, tapi ada ketakutan nyata bahwa para pengacau ini (orang Jawa, menurut orang Bali) akan segera hadir di Ubud untuk meneror warga sekaligus wisatawan. Sama sekali tidak ada yang remeh dalam hal ini. Bahkan Ketut, yang berumur empat belas tahun, menghabiskan sebagian besar malamnya di luar rumah bersama sekumpulan besar orang. Para lelaki lainnya membawa pentungan, kapak, tombak, dan sebagainya. Sesuatu yang serius mungkin menjelang. Ada kegirangan di pihak kaum lelaki penjaga malam itu. Suatu luapan sukacita tertentu yang mengerikan, yang mereka perolah dari keterlibatan (atau potensi keterlibatan) dalam kekerasan.” (Geoffrey Robinson, Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasa Politik, terjemahan Arif B Praetyo, PT LKiS Pelangi Aksara, Hlm. xi)

Bali terlanjur dicitrakan sebagai pulau sorga yang serba damai, serba tenteram, berpenduduk ramah, berbudaya tinggi, dan serba menyenangkan. Citra itu diperlukan agar wisatawan tetap mau datang ke sini. Citra itu ditanamkan sejak pemerintah kolonial Belanda mulai sadar bahwa Bali sangat potensial “dijual” menjadi kawasan wisata. Walhasil, segala bentuk kekerasan yang berumur sangat panjang dalam sejarah Bali pun dilupakan orang. Karena dilupakan, orang pun tak mencoba mencari akar persoalan, tak mencoba mencari penyembuh.

Geoffrey Robinson dalam buku “The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali” cukup memberi gambaran bahwa Bali bukanlah melulu sorga seperti tertera pada brosur-brosur pariwisata.

Sampai kini pun Bali terus saja digelitik oleh berbagai persoalan yang acap ditanggapi dengan kekerasan otot. Tekanan politik limbahan dari Jakarta —mau tidak mau— memang akan sangat deras “mengganggu” tidur orang Bali. Simpang-siur pemikiran, ketidakjelasan kebijakan, otonomi daerah yang belum tuntas benar, gerbang Bali yang terus saja dimasuki penduduk musiman, adalah bagian dari ribuan persoalan yang tidak murni berasal dari dalam Bali yang pada akhirnya sangat berpengaruh pada ketenteraman lokal.

Pun persoalan-persoalan dari dalam juga tak kalah banyak. Sampai kini, misalnya, Bali belum dengan baik bisa merumuskan hubungan antarbanjar di Bali agar bentrok antarwarga banjar tidak terjadi lagi. Bali juga belum dengan sangat sempurna menembus sekat-sekat antaragama yang menyimpan berbagai potensi konflik, kendatipun musyawarah antarelit (sekali lagi: antarelit) agama telah dilaksanakan berkali-kali. Dendam sejarah dalam masyarakat Bali juga belum benar-benar hilang akibat warisan kerajaan dan klan masa lalu. Selain itu, Bali juga memiliki dendam politik yang tidak bisa dipandang ringan sebagai akibat represi penguasa terhadap rakyat di masa lalu.

Kini masyarakat Bali harus menerima kenyataan bahwa pariwisata menuntut pelayanan lebih. Wisatawan tidak lagi bisa menunggu musim tanam untuk melihat petani menggaru dan menanam padi di sawah. Beberapa hotel “harus” menggaji beberapa orang petani untuk terus bekerja di sawah untuk ditonton tamu hotel. Well, mungkin itu tidak seberapa. Bagaimana kalau wisatawan tidak bisa menunggu sebuah upacara di pura dan memaksakan masyarakat selalu harus bikin upacara sebagai suguhan kepada wisatawan? Yang sudah sering terjadi: tari-tari sakral yang seharusnya hanya ditampilkan dalam upacara agama mesti diusung ke hotel untuk dipertunjukkan kepada tamu. Ini jelas menyangkut harga diri. Lompatan seperti ini pastilah akan menimbulkan konflik batin. Di satu sisi masyarakat membutuhkan wisatawan, tetapi di sisi lain ada persoalan harga diri yang dilanggar. Tidak selamanya hal-hal seperti ini bisa diselesaikan dengan mudah, memang.

Sangatlah tidak mudah menyadari bahwa Bali mulai memasuki era yang berbeda sama sekali dengan masa lalu. Sangatlah tidak mudah mengakui bahwa ada banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Bali. Tidak terlalu mudah juga menyatakan secara terbuka bahwa kita, masyarakat Bali, membutuhkan tidak hanya ucapan prihatin, ungkapan-ungkapan stereotip tentang keagungan masa lalu, reaksi seadanya dan terkesan mengentengkan masalah bahwa kejadian-kejadian kekerasan yang belakang terjadi tidak sejalan dengan budaya Bali dan dianggap ”bukan Bali.” Tidak mudah, memang, melihat persoalan semisal bentrok warga di Bangli sebagai persoalan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, dan tata laksana bantuan, misalnya.

Harus ada kejujuran untuk mengungkap penyakit sosial-budaya yang sedang tumbuh di Bali. Harus ada upaya kongkret dari semua pihak (terutama Gubernur, DPRD, Bupati, dan para pemangku adat) untuk mencari pemecahan komprehensif yang adil untuk semua.

(Sebagian dipetik dari makalah penulis yang disampaikan pada North Bali International Festival)

(Kopi Pagi, Bali Tribun, 22 Juli 2011)

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: