RSS

Hari Raya

26 Jul

Tidak setiap kita bisa melewati hari raya dengan gembira. Tidak setiap orang bisa menyediakan banyak makanan dan menjamu tamu dengan tawa lebar pada saat hari raya. Selalu ada orang yang terpojok pada kondisi pedih: terlindas kemiskinan atau gangguan kesehatan. ”Terima kasih, kawan. Tapi hari ini kami sekeluarga tidak dapat merayakan Galungan karena ada kedukaan …” balas seorang teman ketika saya mengirim ucapan selamat melalui layanan SMS. Ia mengaku hanya bersembahyang kecil di merajan keluarga.

Hari Raya, pada kebiasaannya, merupakan sebuah upaya untuk mengenang atau mengingat sesuatu. Biasanya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang dianggap penting. Ada peristiwa kelahiran seseorang yang sangat istimewa, ada peristiwa kemenangan, ada peristiwa yang dianggap menjadi tonggak perubahan sejarah, bahkan ada pula peristiwa yang dipercaya pernah terjadi namun sulit dicari jejak sejarahnya. Orang-orang atau sekelompok orang yang merasa berkaitan erat dengan peristiwa-peristiwa itu pun merayakannya dengan berbagai cara. Untuk kelompok agama, peristiwa-peristiwa itu diperingati dengan bersembahyang, beribadah.

Hari raya, pada kebiasaan di negeri kita, dirayakan dengan gembira. Selalu ada penganan berlimpah, pakaian baru, dan wajah-wajah penuh senyum. Hari raya, selain dijadikan momentum lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berbagai upacara, juga dimaksudkan sebagai sarana penyadaran manusia akan kemanusiaan dirinya, akan interaksinya dengan manusia lain dan alam semesta. Hari raya, karena itu, menjadi sesuatu yang penting: saat yang bersamaan kita diajak bergembira sekaligus hirau pada penderitaan orang lain. Kita diajak menikmati makanan, kemewahan, dan penghiburan, sekaligus juga hirau pada lingkungan.

Rasanya sulit mengakui bahwa kita telah benar-benar berhari raya jika kita masih abai pada tetangga kita yang cuma bisa menelan ludah menyaksikan orang-orang bergembira berbaju baru memakan makanan berlimpah. Rasanya tidak masuk akal jika kita bisa berhari raya ketika kita masih abai pada lingkungan yang rusak, abai pada sampah yang menyebabkan banjir, abai pada kondisi politik dan perekonomian yang amburadul, juga abai pada pendidikan anak-anak.

Hari Raya. Apa pun sebutannya: Idul Fitri, Galungan, Natal, Waisak, dan Imlek, bukanlah semata saat memberi sesembahan kepada Tuhan, tetapi juga sesembahan kepada kemanusiaan dan alam semesta. Hari raya, apa pun namanya, pastilah dirancang untuk kepentingan manusia, sebab Tuhan tidak memiliki kepentingan apa pun. Dia tetap agung kendati tidak ada yang menyembahnya. Dia tetap maha suci kendati manusia tidak memujanya. Karena itu, hanya manusia yang berkepentingan yerhadap hari raya. Maka hari raya pun menjadi sangat tidak berarti jika kemudian kehilangan makna kemanusiaannya, jika kemudian ia dijauhkan dari prikehidupan manusia.

Pagi ini, ketika kita sedang mereguk kehangatan kopi, layaklah kita menengok pada seorang anak kecil yang sedang berbaring di bangsal rumah sakit. Kedua orangtuanya terbaring lemah di selasar beralaskan tikar. Mereka tampak sangat lelah. Tak berani menatap dokter dan perawat yang sedang lewat, seakan setiap dokter bakal menanyainya tentang resep yang baru diterimanya kemarin siang dan belum tertebus di apotek.

Pagi ini, ketika pikiran kita sedang sibuk memilih satu di antara begitu banyak alternatif tempat bersenang-senang bersama anak-istri, ingat pulalah ada jutaan orang yang terhimpit pada hanya satu pilihan: Lapar dan pedih. Mungkin pada titik itulah kita bisa mulai berhari raya.

Selamat Galungan dan Kuningan.

(Kopi Pagi, Bali Tribun,  8 Juli 2011)

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: