RSS

Anas Urbaningrum

26 Jul

Apa yang kurang pada Drs. Anas Urbaningrum, MA? Selangkah lagi seharusnya ia menjadi Presiden Republik Indonesia.
Segala prasyarat untuk menjadi presiden telah dipenuhi oleh Anas, panggilan akrab lelaki kelahiran Blitar, Jawa Timur, 15 Juli 1969 itu. Dalam usia sangat muda untuk ukuran Indonesia, ia menjadi orang nomor satu pada partai berkuasa, dan sangat mungkin merupakan partai terbesar di Indonesia. Sejak 23 Mei 2010 ia resmi menjabat Ketua Umum Partai Demokrat. Tak tanggung-tanggung, dalam kongres di Bandung, Anas mengalahkan Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie, dua tokoh yang sangat berpengaruh dalam partai yang kini sedang dirundung banyak masalah itu.
Selangkah lagi seharusnya Anas berkantor di Istana Negara.
Ia adalah tokoh muda yang banyak diharapkan orang ketika negara ini terseok-seok dipimpin politisi gaek. Modal besar untuk meraih kursi RI-1 ada di genggaman Anas. Di lingkungan dua organisasi terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, Anas sangat bisa diterima. Ia sangat dekat dengan hampir semua tokoh Muhammadiyah yang menganggap Anas merupakan tokoh muda Islam dengan pemikiran modern. Sedangkan warga NU tak akan merasa enggan merunduk-runduk mencium tangan Anas, karena ia merupakan menantu pemimpin Pondok Pesantren Krapyak, KH Attabik Ali, yang berarti juga cucu menantu tokoh besar NU, almarhum KH Ali Ma’shum. Sebelumnya Anas menjabat Ketua Umum organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia, HMI, dan kini masih menjadi ketua alumni HMI (KAHMI). Ditambah lagi, ia merupakan salah satu tokoh pergerakan reformasi di tahun 1997-1998 lalu.
Apa yang kurang pada Anas Urbaningrum?
Figur yang dikenal luas sangat cerdas ini selalu berpenampilan kalem. Kendati demikian, dalam berbagai forum ia pun acap tampak galak. Kolomnis sejumlah media dan Direktur Komunitas untuk Transformasi Sosial ini juga piawai beretorika baik lisan maupun tulisan, hal yang jarang ditemukan pada orang seusianya.
Setelah selesai mengikuti studi Sarjana Ilmu Politik Universitas Airlangga, 1992, Anas melanjutkan studi Magister Sains Ilmu Politik UI, 2000. Saat ini, ia sedang mengikuti Program Doktor Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Dengan latar belakang seperti itu, siapa yang bisa menghambatnya untuk melangkah ke kursi presiden? Jika partai cukup luas menyediakan ruang, maka tim suksesnya dalam kampanye hanya tinggal membalik tangan untuk meraup suara sebanyak-banyaknya.
Tapi, kini, tiga tahun menjelang Pemilu Presiden, Anas terjerembab ke dalam berbagai kasus yang sangat mencoreng wajahnya. Di ulang tahun ke-42-nya, Anas terus saja di-donder berbagai isu tak sedap. Ia dituduh terlibat dalam berbagai kasus korupsi yang dilakukan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.
Kita pun terhenyak. Kendatipun, mungkin, belum memenuhi fakta-fakta hukum, tetapi apa yang dipaparkan media massa begitu tegas mengarahkan tudingan ke Anas. Betapa kemudian media membuka kenyataan bahwa Anas membangun rumah seharga Rp 9 miliar, betapa Anas sesungguhnya memiliki hubungan bisnis di beberapa perusahaan dengan Nazaruddin, betapa sesungguhnya Anas merupakan sahabat dekat pelarian yang terus melontarkan berbagai tuduhan dari tempat persembunyiannya, seakan mengarahkan pikiran kita bahwa Anas memang terlibat.
Kentara sekali Anas tersudut. Ia tidak tampak ”cerdas” lagi mana kala menjawab pertanyaan wartawan prihal kasus keterkaitannya dengan ulah Nazaruddin. Wajar ia ”gelagapan dan gagap”. Ini memang kado sangat panas untuk ulang tahunnya. Ia harus bekerja ekstra keras untuk mengembalikan citranya jika masih menginginkan kursi presiden.
Pertanyaan yang sangat penting untuk diajukan: Kenapa Anas begitu mudah tergelincir? Kenapa tiba-tiba ia ”bernafsu” membangun rumah senilai Rp 9 miliar yang bisa dijadikan peluru bagi lawan-lawan politiknya? Kenapa ia tidak cukup bersabar tetap tinggal di rumah kontrakan? Kenapa ia begitu ”gagap” menanggapi tuduhan-tuduhan Nazar? Kenapa kini hampir semua telunjuk mengarah ke hidung Anas dan teman-teman sekubunya di Partai Demokrat? Benarkah ini semata keteledoran Anas?
”Jangan-jangan ada skenario besar yang menjegal Anas untuk maju di tahun 2014,” tutur seorang pengamat politik jalanan. ”Dan sangat besar kemungkinannya hal itu berasal dari dalam PD.”
Oahaheeemmmm …

(Kopi Pagi, Harian “Bali Tribun”)

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: