RSS

Ba(ng)li Bentrok

26 Jul

Bangli yang teduh, sejuk, tiba-tiba membara. Kulkul dipukul bertalu-talu dengan kode bahaya. Masyarakat pun berhamburan keluar rumah membawa beragam senjata: pedang, linggis, bambu runcing, dan senapan angin. ”Ada serbuan,” ungkap seorang warga kepada warga lain. Serbuan datang dari Desa Songan, sebuah desa yang terletak sebelah utara Danau Batur.

Tidak terbayang sama sekali, sekitar 800 orang masyarakat Songan harus menempuh jalan berliku, menanjak, melewati beberapa kampung, melewati kawasan wisata Penelokan, kemudian masuk Kota Bangli dan berhadapan dengan 1000-an warga Banjar Kawan yang dibantu warga dari banjar sekitarnya. Mereka bentrok, perang, di Desa Cempaga. Beringas. Baku pukul. Kabar terakhir, 3 orang tewas, 8 orang luka-luka akibat perang tidak masuk akal ini.

Tidak terbayang sama sekali, perkelahian massal seperti itu terjadi ”hanya” karena perkelahian anak sekolah yang sudah diselesaikan secara internal oleh kepala sekolah. Tak terbayang sama sekali, persoalan seperti itu mampu menyulut dendam begitu hebat, terbawa menembus hadangan polisi, menembus upaya peredaman yang dilakukan tokoh masyarakat dan aparat keamanan, menembus perjalanan yang panjang di antara dingin yang menggigilkan.

Apa yang terjadi dengan aparat kepolisian setempat? Kenapa bentrok itu bisa terjadi pada pukul 8 malam, padahal siang harinya gejala ke arah bentrokan massal itu telah ada? Berdasar berita yang terbaca di media, sejak siang hari warga Banjar Kawan telah bergerombol di berbagai sudut kota dengan membawa aneka senjata tajam dan senapan angin. Sementara itu, jauh di seberang Danau Batur, masyarakat Songan pun telah bersiap melakukan penyerbuan. Bahkan pihak kepolisian pun telah pula melakukan pendekatan bersama beberapa tokoh masyarakat.

Kenapa bentrok tetap terjadi? Bukankah, sesungguhnya, polisi cukup punya waktu untuk mengantisipasi bentrok itu? Hal seperti ini sangat dekat kaitannya dengan kepekaan membaca situasi dan ketepatan pengambilan tindakan. Apa lagi diketahui, warga kedua desa ini memiliki dendam lama akibat konflik yang pernah terjadi sebelumnya.

Di sisi lain, kita juga pantas mengerutkan kening. Apa yang terjadi dengan masyarakat kita, masyarakat Bali yang dikenal ramah, berbudaya, dan religius? Ada banyak kejadian di hampir seluruh wilayah di pulau kecil ini yang menunjukkan betapa sesungguhnya Bali sangat mudah tersulut. Sebagian besar berkaitan atau dikaitkan dengan persoalan adat dan melibatkan institusi-institusi adat, terutama banjar. Padahal kita tahu, institusi-institusi adat diciptakan oleh nenek-moyang masyarakat Bali untuk sepenuhnya menjamin kesejahteraan dan ketenteraman masyarakat. Tetapi, entah kenapa, belakangan lembaga-lembaga adat itu justru sering dijadikan alasan atau sarana terjadinya konflik yang berbuntut bentrok fisik.

Kini saatnya para pemangku adat, bekerja sama dengan pemerintah daerah, dibantu kaum intelektual, berbicara secara instensif untuk merumuskan kembali institusi-institusi adat yang sebagian besar terbentuk atas dasar budaya agraris. Pasalnya, kini masyarakat Bali telah bergeser pandangan, tidak sepenuhnya memiliki pola pikir dan pola sikap agraris. Masyarakat Bali telah memasuki era baru, era industri jasa yang acap kali menjungkirbalikkan pola-pola budaya tradisional Bali.

Kini masyarakat Bali tidak lagi bisa hidup dengan pola masa lalu, di mana Bali masih hanya takut pada leak dan hantu. Padahal kini masyarakat Bali lebih takut pada pencurian bersenjata, perampokan, dan serbuan penduduk baru yang sangat mungkin merebut ladang kerja masyarakat Bali sendiri. Bali kini tidak sedang berada di alam di mana masyarakat menyerahkan sepenuhnya segala tata kehidupan kemasyarakatan kepada para raja dan punggawa. Masyarakat kini ingin menentukan sendiri semua yang bersangkut-paut dengan dirinya. Hal-hal itu tidak mungkin lagi ditanggapi dengan ”hanya” pola budaya yang dilestari-lestarikan. Kita mesti menemukan cara untuk membangun peradaban ke depan yang sesuai dengan tuntutan Bali modern tanpa melupakan ruh budaya tradisional yang telah menciptakan Bali seperti wujudnya sekarang.

Bali memang memiliki kebudayaan masa lalu yang agung, yang telah melahirkan seniman-seniman hebat, yang telah menciptakan tatanan masyarakat yang penuh dengan toleransi, damai, dan bersahabat dengan lingkungan. Masa lalu itu sangat layak kita tengok untuk melihat persoalan-persoalan kita di masa kini. Masa lalu itu sangat mungkin kita petik kembali untuk memberi kita kesadaran bahwa sesungguhnyalah kita lahir dari sebuah masyarakat yang sangat paham makna kedamaian, persaudaraan, dan toleransi.

Lebih dari itu, Bali membutuhkan lompatan besar agar masyarakat siap memasuki era baru.

(Kopi Pagi, Bali Tribun, 21 Juli 2011)

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2011 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: