RSS

Agama bukan hanya Masalah Kematian

06 Aug

KETIKA kasus bunuh diri kian marak, saya tersentak oleh pikiran sendiri: Jangan-jangan kita salah membuat kurikulum pendidikan agama. Jangan-jangan pendidikan agama kita terlampau berorientasi pada kehidupan sesudah kematian ketimbang upaya menanamkan perjuangan dalam hidup. Jangan-jangan kita memang lebih sering bicara tentang berani mati ketimbang berani hidup dengan gagah dalam balutan kesulitan paling sulit sekalipun.

Pertanyaan yang sama pantas juga kita kenakan pada kebiasaan mengumbar kata “bunuh” setiap kali perselisihan terjadi. Pantas juga dikenakan pada gaya hidup yang tak peduli pada kesehatan, keselamatan, dan kedisiplinan diri. Kini pun kita masih saja mendengar sekelompok orang yang menganggap kelompok lain tak pantas hidup karena perbedaan pandangan dan keyakinan. Kehidupan, dalam pandangan mereka, adalah sesuatu yang pantas dirampas, dirampok, dimusnahkan, bila ia menyangkut perbedaan-perbedaan. Merampas kehidupan seperti itu acap diikuti dengan rasa bangga, merasa menjadi pahlawan, diamini Tuhan, dan akan dimasukkan sorga.

Kehidupan adalah sebuah proses yang maharumit. Mengakhirinya secara paksa adalah ironi jika kita masih percaya bahwa hanya Tuhanlah yang mampu menciptakan kehidupan. Karena itu hanya Tuhan pulalah yang mestinya berhak mengakhirinya. Membunuh dan bunuh diri adalah sikap ekstrem yang melampaui kewenangan Tuhan.

Jangan-jangan kita memang salah menerapkan ajaran agama. Sejak kanak-kanak kita dijejali dengan cerita mengenai kehidupan indah sesudah kematian. Dunia, dalam pandangan sebagian besar ajaran kebudayaan kita, adalah kesengsaraan menuju kedamaian abadi di pelukan Tuhan. Dunia, dalam banyak “dongeng-dongeng agama,” adalah jalan berliku untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Karena itu, dunia —termasuk kehidupan di dunia— hanyalah sebuah persinggahan yang tak perlu menjadi agenda penting. Agenda terpenting adalah kehidupan kekal sesudah kematian. Karena itu orientasi seluruh kehidupan hendaklah hanya tertuju pada kehidupan yang tak pernah kita kenal itu.

Kita paham belaka, agama adalah salah satu sumber kebudayaan. Agama diajarkan sejak kanak-kanak, merasuk sangat dalam pada pikiran dan jiwa manusia. Karena itu agama menjadi unsur penting dalam memolakan kehidupan manusia. Dan karena itu menjadi unsur yang sangat penting pula dalam perjalanan kebudayaan. Kalau agama terlampau banyak bicara tentang indahnya hidup sesudah kematian dan menganggap hidup di dunia hanyalah sandiwara, pemenjaraan, ujian, dan sebangsa itu, maka janganlah kita heran bila orang cenderung memilih cepat mati agar lebih cepat bertemu dengan kehidupan indah sesudah kematian itu dan terlepas dari kesengsaraan hidup di dunia.

Kalau agama mengajarkan kehidupan (di dunia) hanyalah sebuah permainan, maka jaganlah heran bila kehidupan menjadi mandek, manusia tak menghargai hidup, dan berlaku seenaknya terhadap kehidupan. Agama memang mengajarkan perlindungan terhadap lingkungan, tetapi bisa jadi ajaran seperti itu dikalahkan oleh pikiran formalistik: cukup dengan beribadah, cukup dengan berdoa, cukup dengan melakukan upacara, maka Tuhan akan turun tangan memperbaiki alam yang kita rusak sendiri. Ritual agama tidak menyadarkan kita betapa sesungguhnya Tuhan menyuruh kita menjaga lingkungan, menjaga kehidupan sosial, dan menjaga agar batin kita senantiasa tenteram di kehidupan di dunia. Ritual-ritual itu pastilah tidak hanya bermakna tunggal hanya sebatas ritual. Pastilah ada ajaran-ajaran filosofis di baliknya yang seharusnya menuntun kita untuk bekerja. Ritual-ritual kegamaan sangatlah tidak pantas kita jadikan sandaran untuk kemalasan dan ketakacuhan kita.

Agama adalah salah satu pendorong perjalanan kebudayaan. Karena itu kita harus mulai mengubah kurikulum pendidikan agama kita. Agama harus diajarkan dengan orientasi kemanusiaan. Sebab agama diturunkan sepenuhnya untuk manusia. Tuhan sama sekali tidak butuh agama. Ia tetap Mahaagung kendati seluruh umat manusia enggan beragama, misalnya. Tuhan tetap menjadi Tuhan yang Mahasempurna kendati seluruh umat manusia tidak menyembahnya. Karena itu, pendidikan agama mestilah mampu menanamkan kesadaran akan makna kemanusiaan, harkat kemanusiaan yang lebih tinggi, kesejahteraan lahir-batin, dan penghargaan terhadap perbedaan.

Agama bukanlah semata ajaran tentang kematian dan hidup sesudahnya. Semua agama mengajarkan hidup yang lebih baik di muka bumi. Agama mengajarkan penghargaan terhadap kehidupan agar dengan demikian manusia memilih hidup yang sehat lahir-batin, berlaku baik dengan tetangga, bersikap santun dengan orang lain, berlaku jujur di pasar dan di kantor, dan berdoa terus-menerus agar kita bisa ajeg bersikap seperti itu. Hidup indah di alam sesudah kematian adalah bonus bagi pribadi-pribadi yang mampu bersikap baik di kehidupan di atas bumi.

Agama, karena itu, hendaklah kita pahami sebagai cara mencari kebahagiaan sejati di muka bumi. • Ketut Syahruwardi Abbas

 
Leave a comment

Posted by on August 6, 2010 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: