RSS

Balai Kota

16 Feb

(27 Februari ini Denpasar tepat berumur 18 tahun. Walikota telah mencanangkan Denpasar sebagai Kota Kreatif Berbasis Budaya Unggulan. Nah, Mei mendatang walikota baru akan dipilih melalui Pilkada. Inilah mimpi saya tentang Denpasar yang ingin saya titipkan kepada walikota yang akan terpilih. Rasanya tepat benar dengan pencanangan kota kreatif itu)

RUANG terbuka luas dengan deretan monitor komputer menempel di dinding. Orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat bisa dengan mudah mengakses berbagai informasi tentang tanah, rumah, pertokoan, alamat, pasar, dan rencana tata kota. Dari monitor itu pula, masyarakat luas bisa tahu berbagai regulasi yang berlaku bagi seluruh aktivitas warga kota. Itulah lobby Balai Kota.

Di depan gedung Balai Kota ada taman luas. Ribuan orang setiap hari bisa bercengkerama di sana, membawa anak-anak menikmati sore yang teduh sambil membaca buku, menghirup teh segar. Menjelang malam di berbagai sudut taman ada seniman yang memainkan biola, bermain seruling, atau sekadar membaca sajak. Orang-orang mengerumini mereka. Orang-orang dengan senang hati melemparkan recehan karena merasa terhibur.

Di sudut taman ada perpustakaan yang menyimpan ribuan judul buku. Siapa saja boleh meminjam buku dan membacanya di taman. Di sudut yang lain ada gedung tempat anak-anak bisa berkumpul, mendengarkan dongeng dari seniman yang sengaja dipersiapkan untuk itu. Di sudut yang lain lagi ada ruang berpendingin udara yang khusus diperuntukkan bagi ibu-ibu yang ingin menyusui bayinya tanpa harus mempertontonkan payudara di hadapan orang banyak.

Setiap saat polisi melintas dengan wajah ramah dan teduh. Sesekali Ibu dan Bapak Polisi menyapa warga dan ikut minum teh bersama warga yang sedang piknik di taman. Sesekali pula Pak atau Bu Walikota bergabung dengan warga, berbincang mengenai kebersihan kota, tentang museum yang perlu mendapat kunjungan, tentang sungai yang harus dibersihkan, tentang … banyak hal yang ringan-ringan, yang langsung berhubungan dengan kepentingan warga.

Siapa yang tak rindu pada wajah kota seperti itu? Siapa yang tak ingin kotanya benar-benar mencerminkan sebuah peradaban manusia yang benar-benar maju, peradaban yang tak meletakkan warga hanya sebagai hitungan statistik dan bisa diolah jungkir-balik atas kehendak politik? Siapa yang tak rindu memiliki Balai Kota yang bisa dikunjungi siapa saja, yang menyajikan segala jenis informasi tentang kotanya yang mudah diakses siapa saja yang membutuhkannya? Siapa yang tak rindu memiliki seorang Walikota yang paham detak jantung warganya dan mau mendengarkan desah nafas mereka?

Sebuah kota bisa disebut berbudaya bila warganya merasa nyaman berada di sana. Sebuah kota disebut berperadaban kalau tak seorang warganya pun merasa dianaktirikan dalam segala hal. Sebuah kota disebut maju kalau tak seorang warganya pun buta huruf. Sebuah kota disebut berprikemanusiaan kalau setiap warganya (laki-perempuan, kaya-miskin, berpangkat atau tidak, berkasta tinggi atau rendah) merasa memiliki hak dan kewajiban yang sama dan mendapat perlakuan yang sama pula.

Sebuah kota modern ditandai dengan, misalnya, tukang sapu jalanan yang merasa  bangga menjadi tukang sapu jalanan dan dengan bangga pula “berani” menegur pengendara mobil mewah yang melempar sampah sembarangan.

Denpasar adalah sebuah kota. Kitalah yang akan menentukan apakah nantinya Balai Kota benar-benar akan menjadi ruang publik tempat seluruh warga bisa memasukinya atau akan tinggal menjadi kantor tertutup yang angker tempat para koruptor membutakan mata, menulikan telinga, dan membatukan hati. Kitalah, Mei nanti, yang menentukan siapa yang akan membawa kota ini menjadi kota modern dengan kepribadian kuat atau hanya akan menjadi museum hidup di mana warganya hanya menjadi tontonan orang lain, lalu melenguh mendengar ucapan, “Kasiaaannn deh loe.”

—ketut syahruwardi abbas

 
4 Comments

Posted by on February 16, 2010 in 1

 

4 responses to “Balai Kota

  1. Meriem K. Peillet

    February 17, 2010 at 2:00 pm

    Translated with Google translate

    I know it could be better but it was just to say that I was interested in reading it too.
    Aku tahu itu bisa lebih baik tetapi itu hanya untuk mengatakan bahwa aku tertarik untuk membacanya juga.
    Thank you for posting it!
    I will comment on face book.
    Me
    (February 27 Denpasar exactly this 18-year-old. Denpasar Mayor has launched the Creative City-based Commodity Culture. Well, next May the new mayor will be chosen through elections. This is my dream about what I want to Denpasar Leave the mayor to be elected. It was just right to announce that a creative city)

    ROOM open wide with rows of computer monitors on the walls. People from various walks of life can easily access a variety of information about the land, houses, shops, addresses, markets, and town planning. From the same monitor, the public can know the various regulations that apply to all activities of the citizens. That’s the City Hall lobby.

    In front of City Hall building is spacious garden. Thousands of people each day could mingle there, take the kids to enjoy a quiet afternoon reading a book, sipping tea fresh. Toward evening on the corner of the park there are artists who play the violin, playing the flute, or just read the poem. People mengerumini them. People gladly throw coins because she felt comforted.

    In the corner of the park there is a library that holds thousands of books. Anyone can borrow books and read them in the park. In the other corner is the building where the children can come together, listened to tales of artists who deliberately prepared for it. In another corner there is air-conditioned room specially designed for mothers who wish to breastfeed their babies without exposing her breasts in front of crowds.

    Every time the police came with a friendly face and shade. Mom and Dad occasionally greet residents and the police come to drink tea with people who picnic in the park. Occasionally also Mr. or Mrs. Mayor joined with residents, talking about the cleanliness of the city, the museum needs to have a visit, the river should be cleaned, about … a lot of things that light-light, which is directly related to the interests of citizens.

    Who would not miss the city’s face like that? Who would not want his city truly human civilization reflects a truly advanced civilization that does not put people only as a matter of statistics and can be processed on the topsy-turvy political will? Who does not miss a City Hall that can be visited by anyone, which presents all sorts of information about the city easily accessible anyone who needs it? Who would not miss having a mayor who understands the heartbeat of its citizens and want to listen to their breathing a sigh?

    A city can be called civilized when its citizens feel comfortable being there. A town called civilized if no one else feels dianaktirikan citizens in all respects. A town called forward if no one else of their citizens illiterate. A town called berprikemanusiaan if every citizen (male-female, rich and poor, rank or not, high caste or low) was to have rights and obligations of the same and get the same treatment.

    A modern city is marked by, for example, street sweeper who feel proud to be a street sweeper and proudly too “daring” call luxury car drivers who throw litter.

    Denpasar is a city. We are the ones who will determine whether City Hall will truly be a public space where all citizens can enter it, or will stay closed to the austere office where the corruptors blind eyes, deaf ears, and hearts membatukan. It is we, which determine who will bring the city into a modern city with a strong personality or just going into a museum where its citizens live in a spectacle only to others, and bellowed his words, “Kasiaaannn deh loe.”

     
  2. Palguna

    February 20, 2010 at 3:01 pm

    Bli Ketut “Ajak Didi” Abbas, dari buku tentang kumpulan “great political speeches” aku sangat menyukai ungkapan ini (dengan sedikit kit kit modifikasi): “ORANG MEMILIH ANDA BUKAN KARENA MENYUKAI ANDA TAPI KARENA TIDAK MENYUKAI LAWAN ANDA”

     
  3. ketutwardi

    February 23, 2010 at 7:54 am

    Pal, apa pun kata orang, pasti akan sangat menyenangkan jika orang memilih kita karena memang menyukai kita. Menurut aku, yang disebut pilihan adalah ketika kita harus menentukan dua hal yang sama-sama baik, yang sama-sama kita sukai. Ada yang memberi alasan yang lebih baik untuk memilih salah satu. Didi … hehehehe

     
  4. ketutwardi

    February 23, 2010 at 7:54 am

    thank meriem

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: