RSS

Tanah

02 Jan

Yth. Ayahanda di Sorga,

Beberapa hari belakangan ini Ananda selalu diusik oleh bayang-bayang petani di sebuah kawasan di Bukit, Badung. Ananda membayangkan mereka asyik menggarap lahan pertanian dengan kucuran peluh di bawah sengatan matahari yang garang. Pada saat yang sama, nun jauh di sana, seorang lelaki perlente merentangkan tangan kiri dan memutar jari-jari bercincin emas.Ke mana pun jari itu mengarah, jadilah ia gambaran peta tanah yang seakan-akan telah diukur dengan teodolit.

Ananda membayangkan siang itu angin bertiup perlahan. Sang petani mulai beristirahat dan menyantap hidangan yang diantarkan istrinya. Mereka saling bicara tentang anak-anak yang baru duduk di Sekolah Dasar. Mereka bicara tentang masa depan buah hati mereka itu. Dengan bekerja keras di atas lahan kering ini, mungkin anak-anak mereka bisa menginjakkan kaki di SMP dan SMA terdekat. Itu saja cukup. Itu saja sudah menjadi kebanggaan besar bagi mereka.
Kalau Ayahanda sempat berbincang dengan mereka, pastilah Ayahanda sependapat dengan Ananda bahwa merekalah, para petani itu, yang paling layak mendapatkan tempat di sorga. Mereka tidak pernah megeluh. Hidup, bagi mereka, adalah perjuangan hari ini untuk hari ini. Esok adalah urusan waktu. Bagai burung yang melintas di atas kepala, mereka yakin pada berkah bumi, yakin pada perjalanan takdir: padi hanya tumbuh bila kita menanam padi.

Tapi di bumi ini keyakinan adalah sisi kehidupan yang acap sangat berbeda dengan kenyataan, terutama bagi kaum papa. Untuk mereka, hari-hari berlalu dengan meninggalkan cerita yang sama: kenestapaan yang dibungkus kepasrahan dan senyum kecut.

Ayahanda yang terhormat, Ananda merasa sangat beruntung memiliki sepetak tanah yang Ayahanda wariskan. Lebih merasa beruntung karena tanah sempit itu terjepit di antara bukit dan lembah terjal, sehingga tak banyak mengundang minat orang. Ananda tak bisa membayangkan kalau harus menjadi petani dengan ancaman jari-jari bercincin emas milik lelaki perlente itu. Suatu saat nanti, ketika anak-anak harus membeli seragam putih biru atau putih abu-abu, tiba-tiba saja mereka harus berhadapan dengan selembar kertas yang menyatakan tanah yang mereka garap, tanah yang dulu digarap ayah mereka, kakek mereka, buyut mereka, harus diserahkan kepada sebuah nama yang tak pernah mereka kenal, nama yang tak menggambarkan apa-apa selain deretan huruf-huruf, tetapi memiliki kekuatan besar yang tak terlawan.

Ananda pernah melihat seorang petani ditempeleng (benar-benar ditempeleng dalam arti harfiah) di hadapan ratusan pasang mata oleh seorang lelaki berpangkat hanya karena ia bertanya, ”Kenapa tanah yang sudah saya garap puluhan tahun ini tiba-tiba dirampas?” Semua mata terbeliak. Tapi semua mulut terkatup. Termasuk mulut Ananda yang bebal ini. Sesudah itu sang petani berbalik, menjauh dengan langkah gontai. Kini, entah di mana ia harus membangun gubuk.

Sementara lahan yang dirampas itu hingga kini hanya tinggal menjadi lapangan kosong. Kosong, Ayahanda.
Ananda pernah berpikir, betapa tak adil hidup ini. Tapi kemudian Ananda sadar, ke adilan Tuhan di muka bumi haruslah dilaksanakan oleh manusia. Tapi, kini, dapatkah Ayahanda melihat dari sorga, betapa keadilan Tuhan itu telah diselewengkan oleh begitu banyak manusia? Mereka saling dukung untuk menegakkan ketidakadilan, mereka saling bela untuk menanam hidup-hidup kaum papa, seakan mereka ingin berkata, ”Bumi ini hanya pantas dihuni oleh orang-orang yang mampu membeli.” Maka jadilah kemiskinan adalah dosa yang pantas dihukum. Orang-orang miskin yang mengais rezeki di jalan-jalan, di lahan-lahan tandus, tak lebih dari sekadar tumpahan cat pada lukisan Picasso.

Harus dibersihkan. Kalau perlu, dikubur hidup-hidup.

Ananda sedih memikirkan impian para petani yang lahannya dicaplok atas nama investasi itu bubar begitu saja. Anak-anak mereka pun harus mengubur niat belajar di SMP atau SMA. Nanti, ketika tiba saatnya, anak-anak itu pun akan pula menjadi santapan empuk dan mati tercabik-cabik di atas tanah yang mereka ratakan sendiri.
Yang terhormat Ayahanda di sorga. Kalau nanti Ayahanda sempat bertemu dengan Tuhan, cobalah bicara dengan-Nya. Bicaralah menggunakan hati dan mata Ananda bahwa keadilan di tangan manusia tak lebih dari sekadar barang dagangan yang teramat mahal dan hanya bisa terbeli oleh pemilik jari-jari bercincin emas itu.

Salam untuk semua penghuni sorga, salam buat kakek, nenek, dan semua kerabat yang kini ”sekampung” dengan Ayahanda. Yang paling penting, sampaikan salam Ananda kepada Tuhan. Mudah-mudahan Beliau berkenan sesekali menengok kaum papa yang dagingnya menjadi santapan mahal di restoran-restoran elit. Amin

•ketut syahruwardi abbas

 
Leave a comment

Posted by on January 2, 2010 in 1

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: