RSS

Rumah Sakit

02 Jan

Mendung berjuang menurunkan hujan. Kota kami seperti enggan dibasahi. Segerombolan burung pipit terbang riang. Mereka mengejek para pasien di rumah sakit Sanglah, Denpasar, yang sedang mengerang. Dua orang perawat berlari kecil membawa obat-obatan dan beberapa kantong infus. Saya berpikir. Tak habis pikir. Untuk apa rumah sakit didirikan?

Saat sakit kita benar-benar paham betapa sesungguhnya Tuhan itu mahapemurah. Satu kantong bahan infus berisi nutrisi lengkap harus ditebus seharga Rp 600.000. Hanya untuk 12 jam. Sementara di warteg kita hanya perlu mengeluarkan selembar 5 ribuan untuk seonggok makanan yang cukup memberi kita hidup selama 6 jam. Dari infus seharga 600 ribu rupiah itu tak ada kenikmatan lidah. Tak ada kenikmatan perut kenyang.

Lalu, untuk apa rumah sakit didirikan?

Saya teringat pada orang-orang yang menolak kehadiran lembaga semacam rumah sakit dan sekolah. Dalam pendangan mereka, lembaga-lembaga itu hanya akan merusak kemandirian orang-per orang. Lembaga-lembaga itu membelenggu orang ke dalam cara berpikir yang serba tergantung. Lembaga-lembaga itu tidak menjadikan orang paham apa makna kesehatan dan tidak membiarkan ilmu kedokteran menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.

Mereka mendidik masyarakat di bawah tenda-tenda, mengajari mereka cara hidup, cara membaca, cara menyerap ilmu, tanpa harus “bersekolah”. Mereka juga menganjurkan agar semua orang belajar menganalisis penyakit pada dirinya dan berlatih mengobati diri sendiri, sehingga tidak tergantung pada dokter –manusia yang sangat sering salah mendeteksi penyakit dan salah memberi terapi.

Lembaga-lembaga sejenis rumah sakit dan fakultas kedokteran didirikan untuk mencetak manusia-manusia angkuh yang bernama dokter, yang menulis resep dengan tulisan cakar ayam agar tak terbaca, dan menganggap dirinya sebagai dewa penyembuh yang merasa berhak menerima bayaran tinggi dari orang-orang menderita. Mereka kemudian menghimpun diri ke dalam organisasi angker yang hanya berfungsi untuk saling bela bila ada sejawat mereka yang nakal dan berbuat salah. Tak ada hukum bagi dokter dalam melaksanakan praktik. Bahkan tak ada dokter yang bisa berbuat salah. Mereka selalu benar. Bahkan ketika pasiennya harus dioperasi berkali-kali karena kesalahan sang dokter, dan akhirnya mati, dokter tetap saja tidak bersalah. Tidak bisa salah.

Menjadi dokter adalah kerja hebat dengan pendapatan hebat pula. Dokter adalah menantu idaman, jaminan masa depan cerah bagi anak gadis. Dokter adalah manusia dengan jubah putih yang berjalan dengan kepala tegak di lorong-lorong rumah sakit. Mereka dicetak di sebuah lembaga bernama fakultas kedokteran yang menyaring calon mahasiswanya dengan bilangan rupiah (di antara lulusan SMA terbaik). Suatu kali saya pernah berkata kepada anak saya, “Kalau ingin menjadi dokter, pilihlah perguruan tinggi yang tidak mengajarkanmu bagaimana meraih keuntungan dari setiap pasien yang datang padamu. Carilah perguruan tinggi yang mengajarkan hati nurani, kemanusiaan, dan pengorbanan untuk orang lain.” Anak saya bertanya, “Di mana adanya perguruan tinggi seperti itu?” Saya terdiam dan mendesis, “Di sorga.”

Sayangnya kita tidak hidup di sorga. Sayangnya anak-anak fakultas kedokteran diajar oleh para dokter yang datang memamerkan mobil mewah, tak tahu cara mengajarkan kesederhanaan dan pengabdian pada kemanusiaan. Mahasiswa pun silau oleh kemewahan itu. Cita-cita mereka adalah bekerja pada rumah sakit megah, membuka praktik di kota besar, meraup rupiah dari puluhan pasien yang datang tiap hari (juga komisi dari setiap obat paten yang ditulis di resep).

Lalu, untuk apa rumah sakit didirikan?

Saya tidak tahu. Sungguh, saya tidak tahu. Saya membayangkan setiap orang bisa merawat dirinya sendiri di rumah. Dokter, tabib, dukun, atau apalah namanya, datang sesekali memberi saran. Tapi kita terlanjur terjebak oleh sebuah pikiran: kalau sakit harus ke rumah sakit, dikumpulkan bersama pasien lain dalam sal yang sangat mengerikan. Bayangkanlah perasaan seorang pasien yang harus menyaksikan pasien di sebelahnya meninggal dunia. Bayangkanlah kesengsaraan yang diderita pasien di sebuah sal RS harus menutup telinga karena “tetangga”-nya mengerang-erang tiap malam.

Pengetahuan tentang kesehatan seakan dibiarkan tertutup dan hanya boleh diturunkan kepada calon dokter. Selain dokter tak ada hak orang lain untuk melakukan pengobatan ala kedokteran. Entah apa alasannya. Toh tukang batu boleh saja membangun rumah tanpa kehadiran arsitek. Toh montir sepeda motor boleh saja membongkar mesin tanpa kehadiran seorang insinyur mesin. “Ya, ini berurusan dengan manusia, berurusan dengan hidup manusia.” Ya. Ini berurusan dengan nyawa manusia. Tapi siapa yang bisa menjamin seorang dokter lebih pintar ketimbang tabib?

Kita, memang, sangat senang menjebakkan diri ke dalam hal-hal yang membatasi. Kita bahagia berada dalam kemapanan dan tak ingin membangun kemungkinan-kemungkinan baru. Kita terjebak dalam rumus-rumus yang telah ditemukan sebelumnya dan tidak mencoba memecahkannya untuk menemukan yang lebih baru. Padahal sejarah selalu dibangun oleh “orang-orang gila” yang selalu gelisah melihat kemapanan dan ingin keluar darinya. Sejarah dibangun oleh Jesus, Muhammad, Buddha, dan nama-nama besar lainnya karena mereka enggan larut dalam kemapanan yang menyesatkan.

Bumi, manusia, dan peradaban, kini butuh pikiran-pikiran gila yang berani.

ketut syahruwardi abbas

Catatan: Harus aku akui, tulisan ini lahir setelah aku “disembuhkan” di rumah sakit. Tapi, entah kenapa, aku masih tetap merasa bahwa ilmu kedokteran harus disebarkan kepada masyarakat luas agar mereka mampu memahami penyakit yang mereka derita dan mampu mengobatinya sendiri.

 
Leave a comment

Posted by on January 2, 2010 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: