RSS

Tak Berbudaya seusai Id Fitri

19 Sep

ISLAM mengenal tiga pilar: Iman, Islam, Ihsan. Tapi kita paling jarang membicarakan pilar terakhir, Ihsan. Maklum, Rasul Muhammad hanya memberi definisi sangat umum terhadap Ihsan. Tidak seperti Iman dan Islam yang diurai, dirinci, dan dipenuhi penetapan, yang kemudian diterjemahkan oleh banyak ulama sehingga sering berkesan bawel dan rewel. Ihsan hanya didefinisikan dengan “Kerjakanlah segala hal sebaik mungkin seakan engkau berhadapan dengan Allah. Kalaupun tidak, ingatlah bahwa Allah senantiasa mengawasimu.”

Bagian sangat penting dalam ihsan adalah kebudayaan, adat, etika, estetika, dan akhlak. Karena persoalan-persoalan ihsan tadi tidak mungkin digeneralisir pada setiap kelompok, suku, maupun bangsa, maka Allah dan Rasul pun tidak merinci dengan detil persoalan ini. Islam, karena itu, diharapkan bisa mengakomodir perkembangan ihsan berdasarkan budaya, adat-istiadat, tata sosial, etika, dan estetika setempat.
Mungkin penting juga kita meminjam istilah Bali, desa kala patra, dalam soal ini. Sebab, pada dasarnya, kebudayaan (dan lain-lain yang disebut di atas) sangat tergantung pada tempat, waktu, dan kondisi setempat. Kebudayaan, pada dasarnya, adalah cara manusia menanggapi kondisi tertentu pada tempat dan waktu manusia itu berada. Karena itu, kebudayaan pada kelompok-kelompok manusia pada tempat dan waktu berbeda tak mungkin bisa diseragamkan. Begitu juga, kebudayaan bukanlah kondisi stagnan sebuah masyarakat. Karena itu pula, hanya orang tolol yang senantiasa ingin “mempertahankan sebuah kebudayaan”.

Kebudayaan selalu bergerak progresif segaris dengan pergerakan kondisi dan waktu. Pergerakan itu adalah keniscayaan. Secara fitrah, manusia senantiasa berusaha bergerak. Seluruh komponen —jasmani maupun rohani— pada manusia senantiasa bergerak.

Kemanusiaan
Pertanyaan sangat penting yang sering dijawab dengan salah adalah: Untuk siapa agama diturunkan? Untuk kepentingan Tuhan? Tidak. Tuhan tidak memiliki kepentingan apa-apa dengan agama. Tuhan akan tetap Mahamulia kendatipun seluruh jagad raya ini tidak menyembahnya. Tuhan tetap Mahabesar kendatipun seluruh manusia mengingkarinya. Agama, juga Islam, diturunkan sepenuhnya untuk manusia. Agar manusia bermartabat. Karena itu, kalau ada yang “membelokkan” agama sehingga tidak memanusiakan manusia, tidak berorientasi kepada kemanusiaan, maka saya adalah orang pertama yang ingin menganjurkan, “Tolak ramai-ramai cara beragama seperti itu.”

Saya menantang Anda semua, adakah satu ayat saja dalam al Quran yang tidak berorientasi pada manusia? Maaf, kalau ada satu saja ayat seperti itu, Demi Allah akan saya tinggalkan agama ini. Bagi saya, Islam adalah tuntunan agar kita benar-benar menjadi manusia dan memanusiakan orang lain. Itulah sebabnya kita harus bersyahadah, harus shalat, harus berpuasa, harus berzakat, dan harus berhaji. Orientasi dari semua ajaran itu adalah agar kita, manusia, mencapai kemuliaan sebagai manusia di hadapan Allah, di hadapan manusia lain, di hadapan malaikat, dan di hadapan makhluk-makhluk lainnya.

Sayangnya, kita sangat jarang memandang ajaran-ajaran Allah dengan cara pandang kemanusiaan seperti ini. Orientasi pandangan kita terlampau banyak tersita oleh persoalan-persoalan halal-haram, sorga dan neraka. Kita melaksanakan shalat lima kali dalam sehari hanya dengan tujuan agar kewajiban kita gugur dan karena itu kita bisa terhindar dari api neraka. Kita jarang sekali memberi makna shalat sebagai sarana pelatihan agar kita benar-benar menjadi manusia. Kita beranggapan, kalau kita telah melakukan ritual shalat, maka kita telah terhindar dari “fakhsya wal munkar”. Walhasil, shalat jalan, korupsi dan pembabatan hutan pun tetap jalan. Puasa dan haji dilaksanakan, tetapi keserakahan dan kedurjanaan pun jalan pula.

Kebudayaan
Pernahkah kita memahami bahwa cerita Habil dan Qabil (dua anak Nabi Adam) yang mempersembahkan sesaji berupa hasil perburuan dan hasil pertanian sebagai peristiwa budaya? Bukankah, konon, ketika itu Allah menerima persembahan Habil berupa hasil pertanian? Kenapa kita hanya menekankan pada keikhlasan Habil? Bukankah itu semacam perintah dari Allah kepada manusia untuk meninggalkan budaya perburuan menuju budaya agraris?
Pernahkah kita memahami bahwa kisah pengorbanan Nabi Ibrahim yang menerima perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail itu sebagai peristiwa budaya? Kenapa —lagi-lagi— kita hanya memberi “nilai” keikhlasan pada peristiwa itu? Bukankah itu isyarat dari Allah untuk berhenti mengorbankan manusia, hatta itu untuk kepentingan Tuhan?

Kenapa kita memberi makna “nafs wahidah” dalam Surat Annisa’ (ayat 1) sebagai Nabi Adam? Karena itu, kita pun membuat dongeng bahwa Hawa (Eva) dibuat dari tulang rusuk Nabi Adam. Dengan demikian, kita telah membangun kebudayaan yang sangat pincang, meletakkan perempuan sebagai subordinat laki-laki. Padahal, kalau saja “nafs wahidah” itu kita beri makna “pribadi tunggal” seperti sel, misalnya, maka kita akan dengan sangat mudah menerjemahkan kelanjutan ayat itu. “Wakhalaqa minha zaujaha” kita terjemahkan menjadi “dan dari satu sel itu dibuat pasangannya”. Bukankah sel berkembang biak dengan membelah diri?

Ini hanya satu contoh bagaimana cara kita membangun kebudayaan yang sangat tidak seimbang. Hasilnya adalah “penyingkiran” perempuan dari kancah kebudayaan. Perempuan menjadi “suargo nunut nroko katut”. Bagi saya, ini adalah kerugian besar dalam pertumbuhan kebudayaan kita selama ratusan tahun.

Ingat cerita buraq yang dikendarai Rasul dalam Isra’ Mi’raj? Siapa yang memulai menggambarkan buraq itu sebagai kuda berkepala perempuan cantik? Na’udzubillah. Padahal, jelas-jelas buraq itu berarti kilat (Periksa surah Albaqarah yang berkali-kali menyebut barqun sebagai kilat). Apakah kilat itu? Cahaya. Pernahkah Anda mendengar teori yang dikeluarkan Einstein bahwa bila kita sanggup membuat pesawat dengan kecepatan cahaya maka kita bisa menembus waktu? Jadi, Rasul mengendarai cahaya (atau kendaraan dengan kecepatan cahaya) dalam perjalanan Isra’ Mi’raj-nya. Karena itu waktu tak bekerja padanya.

Bukankah itu persoalan ilmu pengetahuan, persoalan budaya?

Kenapakah kita memberi tafsir pada Takdir (Rukun Iman keenam) sebagai “Nasib” yang ditentukan secara sewenang-wenang oleh Allah tanpa mempertimbangkan usaha kita? Padahal takdir, seperti disebut dalam al Quran, adalah ketetapan Allah yang berlaku pada materi alam semesta? Matahari terbit di timur, tenggelam di barat. Bumi berputar pada porosnya. Itulah takdir. Hal itu sangat berbeda dengan “nasib” yang biasa kita pahami. Takdir adalah, kalau kita menanam pada, maka akan tumbuh padi. Tidak mungkin akan menjadi jagung. Kalau kita menggoreng ikan dengan suhu tertentu, maka ikan itu akan matang. Tidak mungkin tiba-tiba melompat hidup kembali. Itulah takdir. Dua atom hidrogen yang disatukan dengan satu atom oksigen maka akan menjadi uap air (H20). Tidak mungkin akan menjadi intan. Begitu seterusnya. Dengan pemahaman itu, manusia diajak untuk membangun kebudayaan dan peradaban dengan hal-hal yang pasti. Kitalah yang memilih apakah kita akan menanam padi atau menanam jagung. Kitalah yang menentukan apakah kita akan hidup tenteram dengan alam yang hijau atau menerima berbagai musibah karena menggunduli hutan.

Saya hanya ingin berkata, Islam haruslah pula kita telaah dari sudut kebudayaan dan peradaban. Haruslah kita telaah dari pilar ketiga: Ihsan.

Puasa (Shiyam)
Selain sebagai peristiwa ritual, semua ibadah dalam Islam memiliki unsur pendidikan dan pelatihan pembentukan diri dan masyarakat. Shalat mengajarkan kita untuk berdisiplin, selalu bersih, cara baik berpolitik dan bermasyarakat, senantiasa mengikuti aturan, senantiasa menebarkan kedamaian, dan seterusnya. Zakat mengajarkan kita membangun perekonomian yang berkeadilan. Haji mengajarkan kita untuk membangun persaudaraan sedunia tanpa membedakan budaya dan warna kulit. Syahadat mengajarkan kita untuk senantiasa memerdekakan diri. Sedangkan puasa melatih kita untuk senantiasa bersikap fitrah: cenderung pada sifat-sifat ilahiyah dan mengendalikan sifat-sifat hewani yang ada dalam diri kita.

Kita akan menjadi manusia yang benar-benar manusia (yang tidak “tsumma radadnahu asfa safilin”) bila kita tidak hanya shalat di masjid, tetapi shalat dalam berdagang, dalam berpolitik, dalam bertani, dan seterusnya. Haji kita tidak akan menjadi mabrur bila kita belum berhaji dalam pergaulan sehari-hari. Zakat kita hanya akan jatuh menjadi ritual semata bila kita tidak mampu membangun perekonomian yang berkeadilan. Syahadah kita pun tak punya arti kalau kita masih belum mampu merdeka secara hakiki, belum mampu melepaskan diri pada ketergantungan-ketergantungan selain kepada Allah. Puasa kita juga hanya berarti lapar dan dahaga bila dalam kehidupan sehari-hari kita masih serakah, angkara murka, dan egois.

Puasa adalah peristiwa kemanusiaan dan kebudayaan yang luar biasa, kalau saja kita memahami bahwa ibadah itu adalah sebuah arena pelatihan pengendalian diri agar nafs lawwamah kita senantiasa bergerak ke atas menuju nafs muthma’innah dan mampu mengendalikan nafs ammarah kita.

Puasa bukan sekadar “ikut merasakan penderitaan orang miskin”, tetapi merupakan sarana pembentukan pribadi yang cenderung kepada kebaikan. Hanya orang-orang yang berhasil melatih dirinya mengendalikan nafs ammarah itulah sesungguhnya yang layak mendapatkan predikat the winner dan “berhak” ber-Idul Fitri, merayakan teraihnya fitrah kemanusiaan dalam diri seseorang.

Allah sendiri berkata, hitungan pahala bagi orang yang berpuasa langsung dilakukan oleh Allah. Sebab, memang, hanya Allah-lah yang tahu benar apakah seseorang itu telah mampu meraih kefitrahannya atau tidak. Ini merupakan persoalan yang sangat personal, sangat pribadi, bahkan tak tertutup kemungkinan orang yang bersangkutan pun tak menyadarinya. Sebab, persoalan ini menyangkut persoalan alam bawah sadar manusia yang hanya mungkin dibentuk melalui pendidikan ala puasa (shiyam).

Hanya manusia-manusia yang telah mencapai kefitrahan tinggilah yang mampu membangun kebudayaan dan peradaban tinggi pula.

Begitulah cara Allah mendidik manusia. Pertama, dengan memerdekakan manusia melalui syahadah, lalu mendidik manusia lima kali dalam sehari cara-cara hidup yang baik melalui shalat, kemudian membentuk kepribadian fitrah melalui puasa, membangun kesadaran sosial melalui zakat, dan menyatukan manusia dalam persaudaraan tunggal di bawah nur ilahi melalui haji.

Idul Fitri
Manusia yang berhasil dalam pendidikan ala puasa diinaugurasikan dalam upacara besar bernama Idul Fitri. Ini hari kebahagiaan manusia yang telah sukses meningkatkan derajat kemanusiaannya. Perayaan ini tidak wajib, sebab ia tidaklah sepenting pelatihannya.

Kendati demikian, manusia Indonesia menciptakan sebuah tradisi sangat cerdas dalam merayakan Idul Fitri. Halal bi halal, saling kunjung, berkumpul bersama keluarga, saling memaafkan dengan tulus, berbagi kebahagiaan dan kegembiraan dengan fakir miskin, membangun kemesraan dengan anak-anak, sungguh merupakan tradisi yang luar biasa, tradisi yang membangun kebudayaan khas Indonesia: guyub, akrab, saling mendekatkan diri sesama keluarga, kerabat, sahabat, dan relasi.

Konon, tiga ungkapan yang paling sulit diucapkan manusia adalah: aku suka kamu, mohon maaf, dan minta tolong. Dalam suasana Idul Fitri, ungkapan maaf itu meluncur dengan sangat mudah. Semua orang menyampaikannya dengan enteng. Orang pun dengan mudah pula menerima maaf siapa pun.

Idul Fitri memang bukan sekadar memaafkan atau meminta maaf. Idul Fitri adalah titik balik kepribadian manusia untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik, peradaban yang dibangun di atas kepribadian bersih dan fitri.
Mestinya, peradaban yang dibangun di atas kepribadian fitrah adalah peradaban maju yang tidak diwarnai oleh korupsi, perselingkuhan politik, dan tabiat-tabiat nafs ammarah, jiwa-jiwa kebinatangan.

Adalah aneh, ketika Idul Fitri kita rayakan dengan meriah, kita rayakan dengan penuh kegembiraan, prilaku korup masih saja tetap merajalela sesudahnya. Adalah ironis ketika kita merayakan idul fitri dengan khusyu, dengan khutbah-khutbah indah, dengan takbir yang menggetarkan, toh pembalakan liar yang meluluhlantakkan hutan kita masih saja terjadi. Lucu rasanya seusai merayakan Id Fitri kita kembali kepada keserakahan, ketamakan, egoisme, dan ketidakpedulian pada kemelaratan orang banyak.

Ada yang salah pada puasa kita.
Ada yang salah pada cara kita merayakan kemenangan atas nafs ammarah.

–Ketut Syahruwardi Abbas
Disampaikan dalam Seminar dalsam rangka Halal Bihalal Gabungan Organisasi Islam se-Bali di Aula Kodim Denpasar, 27 Oktober 2007

 
Leave a comment

Posted by on September 19, 2009 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: