RSS

Pendidikan Korupsi untuk Anak-anak

07 Sep

SIAPA bilang menjadi orangtua itu mudah? Saya teringat pada nasehat mendiang Soemitro Joyohadikusumo (begawan ekonomi di era Soeharto, ayah Prabowo Subianto yang kini sedang berseteru dengan BJ Habibie). Ketika itu kami sedang ngobrol di sela-sela sebuah acara seminar di Hotel Bali Beach Sanur. ”Jangan pernah memilihkan teman untuk anak-anakmu. Kamulah yang harus memilih teman. Kalau teman-temanmu datang ke rumah untuk mendiskusikan perjudian dan mabok, maka anak-anakmu pun akan mencari teman serupa. Tapi kalau teman-teman yang berkunjung ke rumahmu suka mendiskusikan ilmu pengetahuan, maka anakmu pun akan mencari teman yang gemar berdiskusi tentang pelajaran sekolahnya.” Itu nasehat pertama. Yang kedua, ”Carilah rumah yang sederhana tetapi cukup jembar untuk pertumbuhan fisik dan psikis anak-anakmu. Jangan sesekali mencari lingkungan yang tidak berpendidikan. Tetapi jangan juga mencari tempat tinggal di daerah elit, sebab anak-anakmu akan cenderung hanya fasih bicara tentang mobil, uang, dan kemewahan.” Nasehat ketiga, ”Ajarkan matematika dan Bahasa Inggris untuk anak-anakmu, maka dunia akan terbuka untuknya.”

Saya tidak bisa membantah nasehat itu. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah habis berterima kasih kepada sang begawan. Nasehat itu pulalah yang membuat saya banyak merenung tentang pola pendidikan dalam rumah tangga.

Entah sadar, entah tidak, acap kali kita membuat kuburan bagi kepribadian anak-anak melalui pola pendidikan yang tak terarah. Sebutlah, misalnya, kebiasaan kita berdusta. Ketika seorang ayah dan ibu hendak bepergian berdua, lalu seorang anak bersikukuh hendak ikut, acap kali si orangtua akan mencari kebohongan agar si anak mengurungkan niatnya. ”Nggak usah ikut, ya. Mama mau ke dokter.” Begitulah biasanya kita berkata. Padahal si mama dan papa bermaksud hang out makan malam berdua saja. Kebohongan seperti ini biasanya tak terjadi sekali-dua kali. Anak-anak yang tumbuh di bawah kebohongan-kebohongan kecil seperti itu akan terbiasa melakukan kebohongan. Kelak, ketika ia punya ”nasib” memimpin negeri, maka ia pun akan terbiasa melakukan kebohongan-kebohongan publik tanpa ada rasa bersalah.

Orangtua dalam masyarakat kita juga memiliki kebiasaan aneh menyuap anak-anaknya. Ketika hendak berangkat ke pasar swalayan, misalnya. Agar anaknya tak terus merengek minta turut serta, si orangtua akan bilang, ”Udah, deh, di rumah aja, ya. Ntar ibu beliin…”  Atau ketika sang anak menangis, si ibu akan berkata, ‘Husy, husy, diam, ya. Ntar ibu kasi…”

Itu hanya sebagian kecil dari kebiasaan kita ”melatih” anak-anak menerima sogokan atau suap untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sialnya lagi, tak jarang orangtua dengan bangga mengajak anaknya pergi ke seorang guru sekolah, menyerahkan ”persembahan khusus” kepada guru itu agar si anak diterima di sekolah yang diinginkan.

Entah dengan cara apa kita menanggapi kebiasaan-kebiasaan turun-temurun yang pantas kita sebut sebagai budaya mendidik anak-anak dalam keluarga ini. Entah kenapa masyarakat kita sangat sulit bersikap ”tega” ketika anak-anaknya merengek dengan, misalnya, membiarkan saja anak yang menangis akibat pernyataan jujur kedua orangtuanya. Kenapa kita tidak berterus terang saja bilang, ”Ibu dan Bapak hendak makan malam. Kalian tidak boleh ikut,” lalu membiarkan si anak merenungkan sendiri baik-buruk kelakuannya.

Mendidik anak memang bukan perkara mudah. Di dalam keluarga, terlalu banyak perasaan yang memegang kendali. Rasa sayang, rasa mencintai, rasa tak tega, dan rasa kasihan yang berlebihan acap menjerumuskan anak-anak kita ke dalam kepribadian kacau. Pendidikan yang mengarahkan anak ke prilaku permisif terhadap suap, dusta, dan korupsi, dipupuk oleh lingkungan yang terlanjur sangat menghargai uang tanpa peduli pada proses kedatangan uang itu, disiram pula oleh penegakan hukum yang amburadul, tanpa kita sadari telah menjadi pendidikan sangat efektif untuk mencetak kader-kader koruptor.

Marilah kita mulai tidak menghargai para koruptor (atau yang terindikasi sebagai koruptor) kendatipun pengadilan bersikap ”tidak adil”. Nurani kita punya bahasa sendiri. Nurani kita jarang berdusta. Nurani kita punya ”bahasa hukum” sendiri yang acap tidak terakomodasi di ruang sidang pengadilan. Mari pulalah kita mulai mendidik anak-anak dengan percontohan-percontohan sederhana tentang kejujuran dan tanggung jawab. Jangan pernah berdusta pada anak-anak. Jangan pernah memberi suap dan mengajarkan suap pada anak-anak. Sangat penting: biarlah penghasilan yang ”tidak jelas” dihabiskan oleh para orangtua, janganlah ia menjadi daging dan darah untuk anak-anak kita. Biarlah anak-anak kita hanya makan dari penghasilan halal, penghasilan yang jelas perolehannya.

Mendidik anak-anak di dalam keluarga adalah langkah yang sangat penting untuk membangun kebudayaan yang lebih baik di masa depan.

* Ketut Syahruwardi Abbas
(Bali Post 22 Oktober 2006)

 
1 Comment

Posted by on September 7, 2009 in Esai

 

One response to “Pendidikan Korupsi untuk Anak-anak

  1. pargodungan

    September 7, 2009 at 5:08 pm

    horas, salam kenal..🙂
    memang kadang ada kekonyolan dalam diri manusia. ketika mengharapkan agar anak-anaknya baik, eh malah sang orangtua yang tidak baik. tapi itu rupanya dilakukan secara tidak sadar karena dilatarbelakangi ‘pendidikan’ masa lalu sang orangtua sendiri. itu berlaku ibarat efek domino, ungkapan batak “ndang dao tubis sian bona na”, perilaku orangtua akan identik dengan anak. itu cuma bisa dihentikan kalau sudah “game over”.
    esai yang menarik.🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: