RSS

Kesucian telah Bunuh Diri

07 Sep

(Iseng-iseng buka file lama, ada berita tentang bunuh diri yang dimuat Koran TOKOH, 18 Januari 2006. Masih relevan untuk disimak.)

Tahun 2005 lalu, dalam sebulan lebih dari 10 orang tewas bunuh diri di Bali. Apa yang menyebabkan kecenderungan yang kian meningkat dari tahun ke tahun itu?

SAMA dengan pendeta, anak-anak adalah representasi kesucian. Bila anak-anak bunuh diri, sama artinya dengan pendeta bunuh diri. Itu juga berarti kesucian telah membunuh dirinya sendiri.

Pernyataan menggetarkan itu keluar dari Dr. Ida Bagus Made Dharma Palguna dalam diskusi dan apresiani seni bertajuk “Seni dan Bunuh Diri” di Yayasan Kanaivasu, Jumat (23/12/2005) lalu. Yang menjadi pertanyaan mendasar bagi Dharma Palguna adalah: Mengapa anak-anak bunuh diri? Menurutnya, jawaban atas pertanyaan itu perlu dicari dengan menjawab serangkaian pertanyaan lanjutan: Dari mana dan bagaimana cara anak-anak mendapatkan “pengetahuan” bahwa masalah hidup dapat “diselesaikan” dengan bunuh diri? Dari mana dan bagaimana cara anak-anak mendapatkan keberanian aneh itu? Situasi kondusif apa yang menyebabkan anak-anak berhasil memraktikkan penegtahuan dan keberanian itu? Apakah ada yang harus bertanggung jawab terhadap fenomebna ini? Jika ada, siapa? Sayangnya, tak satu pun dari pertanyaan itu yang terjawab dalam malam diskusi “ramai” itu.

Selain IBM Palguna, pembicara dalam diskusi yang dipandu Wayan Juniartha itu, antara lain, Agung Alit (penggerak fair trade di Bali), Putu Suastha, MA (pengamat politik), IG Ngurah Karyadi (aktivis), Ketut Syahruwardi Abbas (wartawan Tokoh), dan dr. Made Nyandra, Sp.KJ (psikiater).

Ini, memang, perkara mencemaskan. Kecenderungan bunuh diri masyarakat Bali kian hari kian meningkat. Tahun 2005 lampau, saban bulan lebih dari 10 orang meninggal bunuh diri. Itu baru hitungan untuk mereka yang “berhasil” dan tewas. Tidak ada angka yang pasti berapa jumlah mereka yang mencoba bunuh diri dan gagal. “Hampir setiap hari saya menangani orang yang mencoba bunuh diri,” ujar dr. Made Nyandra, Sp.KJ, psikiater yang sehari-hari bertugas di RS Wangaya, Denpasar. Artinya, hampir setiap hari ada pasien yang mencoba bunuh diri. Itu baru pengakuan seorang psikiater di satu rumah sakit.

Ada banyak faktor yang “diduga” memicu kecenderungan mencemaskan ini. Putu Suastha berkukuh, faktor ekonomi adalah hal utama. Ia berdalih, sebagian besar “peserta” bunuh diri berasal dari kawasan minus seperti Karangasem dan Buleleng. “Ada keputusasaan luar biasa akibat beban hidup yang berat akibat kenaikan BBM dan persoalan ekonomi lain,” ungkap mantan aktivis Partai Indonesia Baru itu. Sekarang, kata Suastha, orang Bali sangat mudah marah. “Dilihat saja marah,” katanya. Hal itu disebabkan karena mereka tidak memiliki pekerjaan. Begitu juga konflik antarkelompok sangat mudah dipicu. “Persoalan air saja bisa menyebabkan tawur antarbanjar,” ujar lelaki yang juga menuding terlalu banyaknya upacara sebagai salah satu penyebab keputusasaan pada masa sulit sekarang.

Pernyataan Suastha dibantah Abbas. Lelaki kelahiran Buleleng itu menunjukkan contoh seorang siswa SMA yang baru saja memperoleh hadiah mobil baru, HP baru, tetapi nekad bunuh diri karena diputus oleh pacarnya. “Dalam pandangan saya, ada persoalan budaya yang mesti kita cermati,” kata Abbas. Ia mengutip hasil penelitian Clifford Geertz tentang involusi pertanian di Bali. “Masyarakat Bali cenderung involutif, bergerak ke dalam, sehingga kita mengenal istilah koh ngomong,” katanya. Karena itu, persoalan yang mereka hadapi jarang diekspresikan keluar sehingga bertumpuk di dalam. Selain itu, tambah Abbas, budaya Bali juga tidak cukup memberi tempat bagi perubahan yang dibuat pariwisata. “Kita tiba-tiba harus berada dalam peradaban industri tingkat kedua, yakni industri jasa. Padahal kaki kita masih lekat pada budaya agraris. Ini bisa menyebabkan inguh, serba salah, dan sangat mungkin memicu kecenderungan bunuh diri,” katanya.

Pernyataan Abbas diamini dr. Made Nyandra, Sp.KJ. Hampir setiap kali melakukan wawancara dengan orang yang gagal bunuh diri, psikiater RS Wangaya itu selalu mendapat jawaban “baik-baik saja.” Padahal, “Kita tahu ada masalah pada setiap orang yang mencoba bunuh diri,” tandas dr. Nyandra. “Mungkin benar bahwa masyarakat kita terlalu involutif, enggan mengungkapkan masalahnya, tetapi hal itu saja tidak bisa kita sebut sebagai penyebab orang bunuh diri,” katanya.

Masalahnya memang kompleks. Sama kompleksnya dengan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Bali. Tak ada jawaban atas pertanyaan “mengapa”. —sam

 
Leave a comment

Posted by on September 7, 2009 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: