RSS

Yth. Ibunda

25 Jul

IBUNDA, ini kali ananda pulang tidak dengan senyum dan buah tangan. Semalaman ananda terjaga hingga kokok ayam mengejutkan kesadaran pagi. Semalaman ananda diganggu oleh kobaran amarah orang-orang yang merasa menjadi pemegang amanat Tuhan, merasa menggenggam kebenaran Tuhan, dan merasa berhak menghukum siapa saja yang dianggapnya tak sejalan dengan pikirannya yang picik.

Bunda, maafkan ananda tidak datang dengan salam bahagia dan tawa lebar. Ini kali ananda terhanyut oleh pikiran getir: Kita terdorong ke keangkuhan besar justru ketika kita tahu hanya sedikit tentang rahasia kehidupan. Itulah mereka yang membakar rumah orang-orang yang dianggap tak sepaham. Itulah orang yang melarang-larang orang lain beribadah. Itulah wajah-wajah congkak yang merasa berkedudukan lebih tinggi dibandingkan Tuhan, dan karena itu merasa punya hak untuk menentukan hidup orang lain, merasa punya hak untuk menentukan kapan seseorang boleh beribadah dan kapan ia harus tinggal di rumah saja.

Aku sedih, Bunda. Sedih, karena tiba-tiba kehalusan budi yang pernah Ibunda ajarkan kini terongok di pinggir jalan, menjadi cemooh para bandit. Aku melihat para lelaki menyalak bagai anjing geladak menantang nasib mereka sendiri dengan menyobek batas-batas yang sering kita sebut sebagai tatakrama dan kebajikan. Aku sedih, Bunda. Sedih, karena tiba-tiba kita terperangkap di dalam dorongan nafsu yang teramat liar. Jangan-jangan kita memang telah kehabisan cara untuk memahami cinta, memahami hidup, dan memahami penderitaan kaum ibu ketika melahirkan anak-anaknya. Pernahkah Bunda membayangkan salah seorang anak yang Bunda lahirkan bakal berdiri berkacak pinggang sambil menyalak bagai anjing? Aku tahu Bunda akan menjawab, “Tidak.” Keluhuran budi Bunda, juga ibu-ibu yang lain, tak mungkin pernah membayangkan anak-anak yang dikandungnya bakal memerkosa, membakar, mendobrak, dan menjarah.

Maafkan, Bunda. Kali ini ananda harus pulang degan mata sembab. Tidak seperti biasa, ananda harus bicara dengan lirih, sebab kata telah habis dari semua kebajikan. Kebajikan tinggal bisu. Kata telah dirampok oleh para bandit di jalan-jalan, di gedung-gedung mewah, dan di pojok-pojok tempat ibadah. Ya, Bunda, jangan kaget, bahkan agama pun kini dijadikan tunggangan oleh para bandit. Mereka merasa perlu membela agamanya, merasa perlu menjadi tameng Tuhan, padahal mereka telah kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Mereka mencari peneguh dari ayat-ayat suci.

Ananda telah kehilangan cara untuk memahami silang langkah riuh ini. Ananda ingin sekali duduk kembali di pangkuan Bunda, menjadi anak yang manja, merengek minta belaian di kepala. Nanda ingin kembali ke masa-masa ketika kita sangat bersahabat dengan guntur di langit, lalu kita membuat dongeng-dongeng tentang naga api yang marah karena anak-anak tak juga lekas tidur. Kita begitu akrab dengan desir angin yang memberi kita cara untuk memahami kapan hujan akan turun. Ananda rindu pada masa ketika kita bicara tentang Tuhan yang duduk di atas singgasana megah —ah, ya, sampai kini ananda belum menemukan bentuknya— dan memandang kita dengan lembut. Aku membayangkan, sorot mata Tuhan itu mirip dengan sorot matamu, Bunda.

Tapi bahkan angin pun kini telah berubah menjadi panas. Ia menghembuskan hawa permusuhan di semua kepala. Ananda tetap merasa gerah ketika menatap langit yang tak tertaksir. Masih ada bintang, bulan, dan pertanyaan-pertanyaan di sana. Maaf, Bunda, kali ini ananda tak merasa cukup pandai menakar kehendak langit. Apakah ia yang punya titah agar manusia saling cakar? Janganlah Bunda kecewa karena ananda tak mengerti kenapa langit masih tetap saja teduh dan sesekali awan menutupi bintang yang terus tersenyum.

ketut syahruwardi abbas

 
Leave a comment

Posted by on July 25, 2009 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: