RSS

Ibu

25 Jul

Perempuan adalah “laki-laki yang tidak lengkap”. (Aristoteles)

IBU. Pada setiap kali panggilan itu kita beri tempat dalam pikiran, maka yang terbayang adalah gambaran sempurna Dewa Wishnu: memberi kita kesadaran tentang makna pertumbuhan, pemeliharaan, kasih-sayang …

Tetapi, seperti selalu kita lihat, tak banyak orang yang bisa dengan baik mengapresiasi karya “dewa wishnu”. Dalam pandangan kita, manusia paling unggul adalah para pencipta, orang-orang yang mampu menghadirkan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada. Kita juga selalu “mengagumi” kekuatan perusak: bom, senjata, dan kekuasaan yang cenderung jadi bandit. Itulah bagian yang secara turun-temurun dianggap sebagai “wilayah laki-laki”. Proses pemeliharaan, kasih-sayang, penumbuhan, dan “maintenance” sebagai “wilayah perempuan” adalah kerja kaum lemah: para pembersih kaca, tukang sapu jalanan, dan para petani.

Ibu. Pada setiap kali kata itu kita beri tempat di hati, maka yang terasa adalah cinta. Cinta yang memberi air susu, cinta yang menumbuhkan kecerdasan dalam otak kita, cinta yang kelak menjadikan kita seorang pencipta, pemelihara, atau perusak. Cinta yang jarang kita hargai hanya karena kebetulan ia tidak berwujud nyata seperti batu yang disusun menjadi bangunan. Tidak juga mendatangkan kekaguman karena ia tidak nyata seperti bom yang mampu menghancurkan sebuah kota beserta seluruh isinya.

Memang sebatas itulah “kebudayaan” mewariskan pemahaman kepada kita. Bahkan seorang Aristoteles pun baranggapan bahwa perempuan adalah “laki-laki yang tidak lengkap”. Wanita, kata tokoh pemikir Eropa itu, kurang bisa “mengerami” atau “memasak” darah yang dikeluarkan pada masa haidnya ke taraf yang lebih sempurna menjadi air mani. Karena itu, katanya, perempuan tidak menyumbangkan apa-apa terhadap kelahiran seorang bayi kecuali hanya menyediakan selongsong dan memberi makan untuk pertumbuhannya. Benih dari janin itu harus datang dari laki-laki. Wajarlah bila kemudian Aristoteles beranggapan bahwa sangatlah layak lelaki dewasa menguasai budak-budak, anak-anak, dan perempuan. Laki-laki menguasai wanita karena jiwa wanita memang tidak sempurna (Caroline Whitbeck, Theories of Sex Differences, in Gould & Wartofsky (eds), Woman and Philosophy, New York, Capricorn Book,1976). Hebatnya lagi, kata family dalam bahasa Inggris sesungguhnya berasal dari kata famulus yang berarti budak domestik, sedangkan familia berarti sejumlah budak yang dimiliki oleh seorang laki-laki dewasa, termasuk di dalamnya istri dan anak-anaknya (Frederick Engels, The Origin of the Family. Private Property and the State, New York, International Publishers, 1973).

Kini kita berada dalam dunia yang sangat mengagungkan penciptaan dan penghancuran. Penciptaan, katanya, tak akan pernah ada kalau proses penghancuran tidak terjadi. Proses penghancuran itu adalah kerja laki-laki. Dan penciptaan pun, seperti diisyaratkan oleh Aristoteles, hanya mungkin dilakukan oleh laki-laki. Baiklah. Tapi kenapa kita tidak bisa memberi penghargaan besar bagi proses penumbuhan dan pemeliharaan? Padi tidak akan pernah memberi kita beras kalau proses penumbuhan dan pemeliharaan itu tidak ada.

Dunia kita, kini, memang dunia para lelaki. Segala hal yang dianggap menjadi tugas laki-laki adalah tugas utama. Penciptaan dan proses perusakan yang lebih berkesan maskulin menjadi hal yang jauh lebih diagungkan ketimbang proses penumbuhan dan pemeliharaan: tugas Dewa Wishnu.

Dan kini, dunia maskulin itu diperebutkan. Entah siapa yang mulai. Entah siapa yang pertama kali menorehkan garis dalam pemisahan tugas berdasarkan gender. Tiba-tiba saja kita dihadapkan dengannya sejak pertama kali kita bisa memandang matahari. Lalu, kebodohan pun berlanjut: ada yang bergulat dalam perjuangan persamaan gender. Semua berebut di “wilayah maskulin” tadi. Dan menjadi tangan kanan Dewa Wishnu pun dianggap bukan kerja, bukan tugas, dan kesia-siaan.

Akan tiba saatnya nanti kita semua rindu pada sosok ibu: kelembutan yang menumbuhkan dan memeliharakan. Akan tiba saatnya kita nanti akan menciptakan robot-robot bernama “Ibu” karena setiap kita berebut di wilayah penciptaan dan perusakan, wilayah yang pernah dianggap “milik” lelaki. Padahal, sungguh, sosok ibu yang sesungguhnya pastilah bukan sekadar sosok makhluk yang “kebetulan” diberi rahim dan air susu yang tidak pernah kering. Sosok “ibu” adalah sosok yang mampu mengubah daun kering menjadi pupuk dan darinya tersemai aneka tumbuhan dan kehidupan. Sosok “ibu” adalah kita, laki dan perempuan, yang mampu membangun rasa percaya diri pada anak-anak cacat, yang mampu memberi tongkat pada anak-anak tuna netra, yang mampu membangkitkan kecerdasan pada semua anak.

Sosok “ibu” adalah Ida Ayu Surayin bagi ratusan anak-anak cacat yang kini telah menjadi sarjana, pencipta lagu berbakat, atau para pemijat yang bangga akan profesinya. Hanya kebetulan Ibu Dayu Surayin terlahir sebagai perempuan. —ketut syahruwardi abbas

 
Leave a comment

Posted by on July 25, 2009 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: