RSS

Bulan di Kuta

25 Jul

BULAN tampak megah di ufuk barat. Hampir tenggelam di balik ombak, bulan itu seperti sekeping donat, atau seperti tempayan kuningan yang bergurat-gurat tua.

Kuta sedang sedih. Bulan pun tampak sedih.

Ledakan bom itu masih membekas dalam, kendati tak seluruhnya terucapkan dengan nyaring.

Bisik-bisik di sepanjang jalan, di warung kopi, dan di semua sudut Kuta tak jauh-jauh dari persoalan bom. Mereka seperti lupa pada bulan yang muram di barat sana. Mereka sedang menyimpan geram. Memang. Tak sedikit yang merasa putus asa. Ya. Sahabat saya, pengusaha yang saya kenal sangat tekun dan jarang mengeluh, tiba-tiba saja menutup rapat pintu artshop yang dikelolanya. Kini bahkan ia berencana menjual kiosnya itu. “Capek. Capek. Baru saja mencoba bangun, dihempaskan lagi,” katanya.

Kita memang capek. Geram. Pedih. Tapi apakah semua perasaan itu berguna? Tak harus dijawab, sebab akan muncul pertanyaan baru, apakah semua hal harus berguna? Apakah guna yang didapatkan para teroris setelah tubuhnya luluh lantak dicabik bom yang dibawanya sendiri? Kita sama sekali tidak mengerti apa yang ada di balik otak mereka. Jangan-jangan mereka beranggapan, menyulut bom sama saja dengan menyulut mercon. Jangan-jangan mereka memang psikopat yang tidak mengerti bahwa hidup adalah kekayaan tak ternilai dan tidak seorang pun boleh merenggutnya, bahkan dari diri sendiri. Jangan-jangan mereka memang terlalu bodoh untuk memahami bahwa janji-janji sesudah kematian belum pernah terbukti kebenarannya. Paling tidak, janji-janji itu, konon, hanya akan menjadi realitas yang indah mana kala kita mampu menghargai hidup di muka bumi ini. Ah, ah, apakah pikiran ini mampu mereka cerna?

Terkadang berkelebat juga pikiran: betapa kasihan mereka, para teroris itu. Saya membayangkan hidupnya pastilah tidak bahagia. Saya membayangkan para psikopat seperti itu pastilah melewati masa kanak-kanak di bawah tekanan yang menyesakkan atau berada dalam kekosongan yang tak terlalu berarti. Terkadang muncul juga rasa iba kepada mereka, sebab mereka pastilah tidak pernah bahagia sebelum maupun setelah melaksanakan niat jahatnya.

Mereka, sesungguhnya, orang-orang yang kalah. Mereka adalah pecundang dalam hidup.

Saya jadi teringat sebuah cerpen Jepang yang saya lupa judulnya. Alkisah seorang pekerja yang tinggal di sebuah apartemen yang dibangun sedemikian rupa sehingga tampak seragam. Suatu hari si pekerja dilanda kejemuan yang sangat. Ia jemu dengan rutinitas yang dialuinya saban hari. Ia pernah salah masuk apartemen, lalu ia mendapat perlakuan persis sama seperti yang ia dapatkan dari istrinya. Mereka pun bercinta. Rutin. Sama saban hari. Keesokan harinya baru ia tahu kalau ia salah masuk apartemen dan bercinta dengan istri orang. Ia geram, ia ingin menjadi orang lain, menjadi orang yang berbeda dengan orang lain. Ia pun berangkat ke kantor dengan sebuah bom yang dilingkarkan di pinggang. Ketika naik bus, ia merasa bahagia karena merasa berbeda. Ia menduga, tak mungkin ada orang lain yang berangkat ke kantor dengan bom di pinggang.

Begitulah. Ia duduk bersebelahan dengan lelaki lain. Mereka pun terlibat dalam perbincangan basa-basi. Kian lama kian akrab, lalu saling bercerita tentang kebosanan hidup.

“Aku tahu cara keluar dari kebosanan itu,” kata lelaki yang membawa bom

“Bagaimana?” tanya lelaki satunya.

“Ini,” jawab si pembawa bom sambil menyingkap baju dan menunjukkan pinggangnya.

“Astaga. Aku juga melakukan hal yang sama,” kata lelaki satunya sambil menyingkap baju dan menunjukkan bom yang sama yang juga dilingkarkan di pinggang.

Apa lagi yang bisa dilakukan agar menjadi orang lain? Bom itu pun diledakkan. Ia menjadi orang lain. Ia berkeping-keping.

Saya khawatir, sekarang kitalah yang bosan, yang geram, yang merasa tidak menemukan jalan keluar, lalu “meledakkan bom” dalam diri kita sendiri. Kita pun menjadi teroris untuk diri kita sendiri.

Bulan di Kuta itu belum tenggelam sepenuhnya. Kenapa kita tidak mencoba memberinya makna?

•ketut syahruwardi abbas

 
2 Comments

Posted by on July 25, 2009 in Esai

 

2 responses to “Bulan di Kuta

  1. Trik

    February 25, 2010 at 8:13 pm

    bagus banged tulisannya om…
    hehhehehe……….

     
  2. ketutwardi

    February 26, 2010 at 5:47 am

    makasih tri

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: