RSS

Pegayaman (3): Bermula dari Penaklukan Teruna Goak

30 Jun

Mengarak sokok taluh keliling desa saat Maulid

Mengarak sokok taluh keliling desa saat Maulid

MASA paling dramatis dalam sejarah Buleleng (kawasan utara Pulau Bali) adalah ketika seorang bangsawan Gelgel (Kerajaan di Klungkung) yang kurang disenangi di lingkungan purinya sendiri datang ke Den Bukit (sebutan untuk Buleleng pada masa kerajaan). Bangsawan muda berusia 14 tahun itu kemudian dikenal sebagai seorang ahli diplomasi yang ulung sekaligus seorang panglima tangguh. Panji Sakti nama remaja luar biasa itu.

Sebelum Panji Sakti membangun Kerjaan Buleleng, kawasan utara Pulau Bali itu telah dihuni oleh beragam etnis. Selain kelompok Wong Bali Aga (suku asli Bali) di pegunungan, di pantai telah ada pelaut-pelaut Bugis, Jawa, dan Madura. Sementara itu, pedagang-pedagang Cina, Melayu, dan juga Bugis telah pula mulai merambah kawasan itu. Beberapa catatan sejarah malah membuktikan bahwa sebelum Panji Sakti datang, beberapa kelompok Wong Bali Aga telah melakukan kontak perdagangan (sistem barter, tentu saja) dengan pelaut-pelaut Bugis dan Madura di Pelabuhan Temukus atau Labuan Aji.

Keragaman etnis yang ada itu disatukan oleh Panji Sakti yang kemudian membangun Kerajaan Buleleng dengan pusat kerajaan yang berlokasi di kawasan yang sangat strategis, yakni kawasan yang menjadi semacam “penghubung” antara masyarakat pegunungan yang masih murni dengan masyarakat pantai yang terdiri dari beragam etnis dan kepercayaan. Puri itu menjadi semacam “benteng penjaga” agar kedua kelompok itu tidak saling mengganggu.

Dalam masa pemerintahannya yang cukup panjang, yakni tahun 1629 hingga 1680, Ki Panji Sakti berhasil membangun perasaan “satu warga” di antara kedua kelompok masyarakat yang sangat berbeda itu. Ketika harus berhadapan dengan kekuatan VOC, ia berhasil membangun aliansi dengan Trunojoyo, Kraeng Galesong, dan Untung Surapati. Dari Buleleng sendiri, Panji Sakti tampil dengan pasukan “gado-gado” campuran berbagai etnis yakni Wong Bali Aga, Jawa, dan Bugis yang kemudian sangat terkenal dengan sebutan Pasukan “Taruna Goak” (Elang Muda).

Pasukan Taruna Goak inilah yang kemudian menaklukkan Blambangan dan Pasuruan yang kemudian sempat “menggedor” kekhawatiran penguasa Mataram sehingga ia mengutus beberapa perwiranya untuk berkunjung ke Buleleng membawa bingkisan perdamaian berupa seekor gajah. Pasukan perdamaian dari Kerajaan Mataram yang kemudian ditambah dengan beberapa orang dari Kerajaan Blambangan yang dalam Babad Buleleng dikenal sebagai “Wong Solo” inilah yang menjadi nenek-moyang masyarakat Pegayaman, sebuah desa tua dengan penduduk beragama Islam, yang di Babad Buleleng itu dijuluki “tindih” (pembela).

Mereka diberi tanah di kawasan hutan belantara, lalu membangun desa dengan struktur yang sangat unik, dan menikah dengan perempuan-perempuan Bali. Sangat bisa dipahami, pernikahan dengan perempuan-perempuan Bali inilah yang menghasilkan kebudayaan dan tata sosial yang sangat Bali. Anak-anak yang lahir diberi nama Wayan, Nengah, Nyoman, dan Ketut (anak keempat dan seterusnya tetap Ketut). Begitu pun dengan makanan tradisional, pola asuh anak, sampai pada tradisi patriarchat yang sangat ketat, masih terjaga hingga kini. •Ketut Syahruwardi Abbas

 
4 Comments

Posted by on June 30, 2009 in Artikel

 

4 responses to “Pegayaman (3): Bermula dari Penaklukan Teruna Goak

  1. dewi yamina

    September 4, 2009 at 6:31 am

    Salam Kenal Pak Ketut,

    Saya Dewi. Saya bekerja di majalah wanita. Saya melihat Bapak memiliki foto-foto tradisi di pegayaman, Bali. Bolehkah saya memakainya untuk majalah saya. Kebetulan ada punya artikel tentang pegayaman. tapi tidak ada foto-foto tradisinya. Karena pas ke sana sedang tidak ada upacara. Kalau boleh, nanti akan ditulis nama Anda. Oya, hp saya 08788 331 2438. Mungkin Anda bisa sms saya, nanti saya jelaskan majalah saya. Terimakasih banyak ya.
    Salam

     
    • ketutwardi

      September 6, 2009 at 11:19 pm

      silakan. sebutkan saja sumbernya. begitu kan etikanya? hehehehe. thank. majalah apa sih?

       
  2. made eva nadya

    October 11, 2012 at 2:05 am

    WOW😛

     
    • ketutwardi

      October 11, 2012 at 2:26 am

      terima kasih atas wow-nya. gak pakai koprol kan? hehehehe

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: