RSS

Pegayaman (2): Budaya Maulid di Pegayaman

30 Jun

Suasana Desa Pegayaman saat Maulid

Suasana Desa Pegayaman saat Maulid

MEMAHAMI budaya masyarakat Desa Pegayaman harus dimulai dengan menyaksikan perayaan maulid di kampung pedalaman ujung utara Pulau Bali itu. Perayaan maulid di sana merupakan pesta budaya. Sepekan penuh masyarakat di sana bergembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw. Dimulai dengan membuat tape, membuat jaje uli (penganan dari ketan), lalu mempersiapkan sokok base dan sokok taluh, mengarak sokok dan pawai keliling desa, dilanjutkan dengan pegelaran pencak silat setiap sore.

Maulid di desa unik itu sering kali ditandai dengan hujan sejak masyarakat menyelenggarakan pawai desa. Kendati harus berbasah-basah, pawai tetap berlangsung meriah. Masyarakat pun berjejal sepanjang jalan yang dilalui pawai panjang itu. Itulah kejadian di hari kedua pesta maulid (13 Rabiul Awal) yang biasa mereka sebut sebagai Muludan Taluh (Maulid Telor). Sehari sebelumnya, pada 12 Rabiul Awal, tepat hari kelahiran Nabi Muhammad, masyarakat Pegayaman melakukan perayaan dengan membuat sokok base. Karena itu, hari pertama perayaan disebut Muludan Base (Maulid Sirih).

Sokok adalah sarana upacara desa yang sangat penting dan khas. Sangat mungkin sokok berasal dari Bahasa Jawa, soko, yang berarti tiang. Pada sokok base yang dibuat pada hari pertama, kita dengan mudah menandai kuatnya peran kebudayaan Bali. Sokok base sangat mirip dengan pajegan yang dibuat masyarakat Hindu Bali yang dijadikan sarana upacara ke pura pada hari-hari upacara tertentu. Sokok base merupakan rangkaian dauh sirih, kembang, buah-buahan, dan beberapa telur yang dirangkai pada sebuah batang pisang yang didirikan di atas dulang (sama seperti yang digunakan masyarakat Hindu Bali). Puluhan rangkaian ”pajegan” bernama sokok base yang dibuat masyarakat itu dibawa ke masjid, dideretkan di tengah-tengah lingkaran orang yang akan membacakan barzanji (karya sastra Arab klasik yang berisi riwayat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad).

Usai membaca barzanji, rangkaian sokok base dibongkar, kembang dan daun sirih dibawa pulang, diletakkan di dinding rumah atau di sawah. Konon rangkaian daun sirih dan kembang bekas sokok base itu bisa mendatangkan berkah untuk rumah atau sawah.

Pada hari kedua, Desa Pegayaman benar-benar berada dalam pesta besar. Seluruh masyarakat sibuk dengan kegiatan maulid itu. Laki-perempuan, besar-kecil bersuka ria. Desa pun gaduh dengan tabuhan burde (sebangsa rebana besar yang terbuat dari bungkil pokok pohon kelapa) sejak pagi hingga sore. Sementara suara rebana dari sekehe hadrah (kelompok hadrah) juga terus terdengar berkeliling desa mengarak sokok dari satu rumah ke rumah lain. Sungguh meriah.

Peringatan Maulid tanpa sokok pastilah ”bukan peringatan maulid” di desa tua yang usianya hampir sama dengan usia Kota Singaraja yang tahun 2008 ini merayakan ulang tahun ke-404. Ia telah ada sejak desa ini ada. Namun bentuk sokok pun terus berkembang. Pada maulid baru lalu, misalnya, ada sebuah sokok yang ditempeli peralatan promosi sebuah perusahaan finance yang baru saja membuka kantor cabang di Singaraja. ”Nggak apa-apa, sih. Lihat saja, gitir-nya juga terbuat dari permen,” ujar Ketut Aslamiyah (23), gadis kelahiran Pegayaman yang senja itu sibuk mempersiapkan sokok ”promosi” yang bakal diarak keesokan harinya. Ya, gitir (semacam kembang yang dulunya dibuat dari kayu kecil-kecil dan diletakkan di bagian ujung telur) itu tidak lagi berupa sayatan kayu atau kertas minyak seperti umumnya sokok Pegayaman. Dan, astaga, ada pulpen juga digantungkan pada setiap telur. ”Hanya untuk penarik. Orang kan jadi senang mendapatkan sokok ini,” kilah Ketut Aslamiyah, mahasiswi sekolah guru di Singaraja.

Sokok, dalam pandangan Wayan Muhajir, salah seorang tokoh masyarakat Pegayaman, bukanlah perangkat ibadah yang sakral. ”Ini hanya bagian dari kebudayaan kami,” kata Wayan Muhajir. Hari raya resmi Islam, menurut Muhajir, hanya Idul Adha dan Idul Fitri. Kegiatan pada kedua hari raya itu sangat sakral. Sedangkan perayaan maulid hanyalah bentuk kebudayaan yang bisa dikembangkan sesuai kebutuhan. Jadi, sokok dengan pulpen dan tempelan alat-alat promosi, ya, sah-sah saja.

Dalam konteks kebudayaan dan ibadah ini, kita pantas acung jempol kepada kecerdasan para pendiri Desa Pegayaman. Mereka dengan enteng memasukkan berbagai unsur kebudayaan yang agak ”menyimpang” dari tradisi umum kaum Muslim. Mereka tidak merasa risih mengarak sokok base yang sangat mirip pajegan pada peringatan maulid. Sekehe burde pun mengenakan pakaian khas Bali, lengkap dengan sarung batik melancingan (gaya Bali) dan udeng (ikat kepala khas Bali pula). Sebab, seperti diungkapkan Imam Muhajir, Maulid hanyalah ekspresi budaya. Ia sangat berbeda dengan Idul Fitri dan Idul Adha yang menjadi hari raya resmi Islam. Pada kedua hari raya itu masyarakat Pegayaman, sama dengan masyarakat Muslim lain, hanya datang ke Masjid menyelenggarakan shalat Ied. Tak ada ”campur tangan” kebudayaan di sana. Hanya saja, sesudah itu, di rumah, mereka menyiapkan makanan khas. Mereka juga menambahkan hari-hari penyajaan, penapean, penampahan, dan manis lebaran. Tapi, sekali lagi, unsur-unsur budaya itu sama sekali tidak masuk ke masjid, tidak dicampurkan ke dalam ibadah shalat. •Ketut Syahruwardi Abbas

 
2 Comments

Posted by on June 30, 2009 in Artikel

 

2 responses to “Pegayaman (2): Budaya Maulid di Pegayaman

  1. Ketut Agoes ink

    July 25, 2009 at 5:37 pm

    mude – mude pegayaman maju terus

     
  2. Ketut Agoes ink

    July 25, 2009 at 5:39 pm

    salam dari tanah lombok…
    mugi pegayaman makin becik2x kimanten amiiienn…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: