RSS

Pegayaman (1): Tape Manis dan Manis Lebaran

30 Jun

Pengantar

Desa Pegayaman adaDesa Pegayamanlah desa tua di Bali. Sebagian besar penduduknya adalah Muslim. Mereka dengan instens menyerap kebudayaan Bali dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tetap sanggup menjaga kemurnian ajaran Islam dengan baik. Desa ini terletak di pedalaman Kabupaten Buleleng (ujung utara Pulau Bali) dengan populasi sekitar 3.000 jiwa. Sebagian besar penduduk bertani dan berkebun (kopi dan cengkeh).

KETUT Salmiyah tampak lelah. Ini saat ia menyiapkan penganan untuk berbuka puasa. Bulan puasa adalah masa penuh kesibukan bagi perempuan Desa Pegayaman, Buleleng, Bali. Sementara kaum lelaki menikmati bulan ini dengan lebih banyak diam di rumah atau di masjid. Mereka mengurangi kegiatan lain. Nanti, beberapa hari menjelang Idul Fitri, kesibukan kaum perempuan itu bertambah lagi.

Di hari penampahan, sehari sebelum Idul Fitri, Ketut Salmiyah —juga perempuan lain sedesanya—harus memasak gorengan (daging sapi yang dimasak dengan bumbu lengkap, mirip gulai kental), rumbah (kelapa diparut besar dan digoreng), sambel nyuh (sambal kelapa), dan be mesere (daging disisit dan digoreng). Dua hari sebelumnya ia telah pula melewati masa penapean (membuat tape ketan), dan penyajaan (membuat jajan uli).

Tape dan uli Pegayaman terkenal manis dan dijamin bersih,” ujar Wayan Agus Sani, suami Ketut Salmiyah. Kaum perempuan Pegayaman membuat kedua jenis penganan itu secara sangat khusus. Tak sebutir kotoran pun boleh menempel padanya. Ini soal gengsi. Tamu yang disuguhi uli kotor akan mencap jorok si empunya rumah. “Apa lagi tape. Perempuan datang bulan tidak boleh dekat-dekat saat proses pembuatan tape. Bisa berakibat tape itu tak matang dengan baik,” tutur Agus. Jangan ditanya logika di balik pernyataan itu. Mungkin lebih pada persoalan “upacara” di balik pembuatannya.

Untuk mendapatkan rasa manis dan enak pada tape, perempuan Pegayaman pantang membubuhkan gula maupun pemanis lain. Mereka hanya mengandalkan ragi dan proses pembuatan yang bersih. Sampai kini pun mereka hanya mau menggunakan daun kayu manis untuk memberi warna hijau dan daun sente (sebangsa daun keladi, tapi lebih kecil) untuk membungkus tape. “Belum ada yang mau menggunakan plastik. Mungkin takut rasanya akan beda,” ungkap Agus.

Jangan tercengang membaca istilah-istilah yang mirip dengan yang ada pada masa sebelum dan sesudah Galungan (hari raya terbesar umat Hindu Bali) itu. Pegayaman juga mengenal istilah “Manis Lebaran”, sehari sesudah 1 Syawal. Masyarakat Pegayaman, memang, melakukan sebagian besar aktivitas budayanya dengan menyerap budaya Bali. Mereka punya banjar, punya subak, punya sekehe malapan dan manyi. Bahasa pengantar sehari-hari pun menggunakan Bahasa Bali, walaupun dengan dialek yang agak “aneh”, mirip-mirip dialek sebagian masyarakat Karangasem (Baca juga “Bermula dari Penaklukan Teruna Goak”).

Kebiasaan membuat tape-uli dan penganan khas lainnya itu dilakukan masyarakat tiga kali dalam setahun, yakni pada Iedul Fitri, Iedul Adha, dan Maulid Nabi. Pagi-pagi benar, sebelum waktu shalat ied tiba, misalnya, perempuan Desa Pegayaman tampak mondar-mandir menyunggi tempayan bertutupkan saab. Mereka membawa aneka makanan hari raya ke orang-orang yang dituakan, terutama dari lingkungan kerabat sendiri. Untuk kegiatan ini, orang Pegayaman tidak menyebutnya ngejot, tetapi sidekah, dari kata shadaqah.

Uniknya, pada Iedul Fitri dan Iedul Adha, shalat ied di masjid dilaksanakan sekitar pk. 10 pagi. “Menunggu kaum perempuan selesai shalat dan menunggu kerabat yang tinggal di kebun agar bisa shalat ied bersama,” ujar Shihabuddin, salah seorang penduduk Pegayaman. Kaum perempuan tidak melakukan shalat ied di masjid bersama laki-laki. Mereka shalat berkelompok-kelompok di rumah penduduk atau di rumah para guru (ulama setempat), pagi setelah menyampaikan sidekah dan harus selesai sebelum shalat ied di masjid dimulai.

Suasana lebaran di Pegayaman memang tidak semeriah peringatan Maulid Nabi. Mereka tampak lebih khusyuk, tidak bermegahan, walaupun mereka tetap mengenakan pakaian baru. Lebaran bagi mereka bukanlah sebuah perayaan seperti maulid. Jalan-jalan tampak ramai bukan karena pesta, tapi karena penduduk saling kunjung, bersalaman, dan saling memaafkan. Tapi, lihatlah, cara orang-orang Pegayaman meminta maaf pun sangatlah khas. Mereka bersalaman agak lama sambil mengucapkan permohonan maaf secara berbisik. Kalau disimak lebih seksama, yang mereka ucapkan kira-kira begini: “Saya minta maaf atas semua kesalahan yang saya lakukan. Benar-benar saya mohon maaf, agar nanti tidak ada kesalahan yang terbawa-bawa sampai saat kematian tiba.” Lalu yang dimintai maaf (biasanya lebih tua atau kedudukan sosialnya lebih tinggi) akan menjawab (juga berbisik): “Saya juga begitu. Maafkan sekali.” Ucapan itu hampir-hampir menjadi standar dengan sedikit variasi berdasarkan kepentingan yang meminta maaf.

Manis Lebaran? Inilah saat masyarakat yang memiliki kelebihan uang untuk pergi berwisata. Tempat yang paling favorit adalah Air Sanih, sekitar 10 km arah timur Singaraja. Ke sanalah mereka membawa ketupat dan penganan lain. Seusai mandi mereka menikamti bekal dengan lahap … •Ketut Syahruwardi Abbas

 
2 Comments

Posted by on June 30, 2009 in Artikel

 

2 responses to “Pegayaman (1): Tape Manis dan Manis Lebaran

  1. asep

    December 25, 2009 at 10:14 am

    Pegayaman bagus juGa….Gambar nya tambah lagi dunk…

     
  2. yazid

    June 25, 2010 at 7:38 pm

    desaku tempat lahirku,,,,
    i lve my village!!!!!!!!!!!!!!!!
    pegayaman nomber one,,,

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: