RSS

Jangan-jangan Kita Salah Menerapkan Ajaran Agama

17 May

Oleh Ketut Syahruwardi Abbas

Belajar motret

Belajar Memotret, foto oleh Made Artha

Jangan-jangan kita memang salah menerapkan pendidikan agama. Jangan-jangan pendidikan agama kita terlampau berorientasi pada kehidupan sesudah kematian ketimbang upaya menanamkan perjuangan dalam hidup. Jangan-jangan kita memang lebih sering bicara tentang berani mati ketimbang berani hidup dengan gagah dalam balutan kesulitan paling sulit sekalipun.

Seorang anak SMA mengakhiri hidup dengan gantung diri hanya karena putus cinta. Seorang perempuan muda meregang nyawa di tali gantungan hanya karena kanker payudara. Seorang anak bunuh diri karena dimarahi orangtuanya. Pasangan selingkuh berikrar mati berdua karena tak mungkin bersatu dalam institusi pernikahan. Begitu banyak cerita remeh-temeh di balik kasus bunuh diri yang membuat akal waras kita bertanya-tanya: Apa yang mendorong mereka senekat itu? Seberapa besarkah penghargaan kita atas kehidupan?

Pertanyaan yang sama pantas juga kita kenakan pada kebiasaan mengumbar kata “bunuh” setiap kali perselisihan terjadi. Pantas juga dikenakan pada gaya hidup yang tak peduli pada kesehatan, keselamatan, dan kedisiplinan diri. Kini pun kita masih saja mendengar sekelompok orang yang menganggap kelompok lain tak pantas hidup karena perbedaan pandangan dan keyakinan. Kehidupan, dalam pandangan mereka, adalah sesuatu yang pantas dirampas, dirampok, dimusnahkan, bila ia menyangkut perbedan-perbedaan. Merampas kehidupan seperti itu acap diikuti dengan rasa bangga, merasa menjadi pahlawan, diamini Tuhan, dan akan dimasukkan sorga.

Kehidupan adalah sebuah proses yang maharumit. Mengakhirinya secara paksa adalah ironi jika kita masih percaya bahwa hanya Tuhanlah yang mampu menciptakan kehidupan. Karena itu hanya Tuhan pulalah yang mestinya berhak mengakhirinya. Membunuh dan bunuh diri adalah sikap ekstrem yang melampaui kewenangan Tuhan.

Jangan-jangan kita memang salah menerapkan ajaran agama. Sejak kanak-kanak kita dijejali dengan cerita mengenai kehidupan indah sesudah kematian. Dunia, dalam pandangan sebagian besar ajaran kebudayaan kita, adalah kesengsaraan menuju kedamaian abadi di pelukan Tuhan. Dunia, dalam banyak “dongeng-dongeng agama,” adalah jalan berliku untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Karena itu, dunia —termasuk kehidupan di dunia— hanyalah sebuah persinggahan yang tak perlu menjadi agenda penting. Agenda terpenting adalah kehidupan kekal sesudah kematian. Karena itu orientasi seluruh kehidupan hendaklah hanya tertuju pada kehidupan yang tak pernah kita kenal itu.

Mungkin saja benar sorga memang ada (sebab belum pernah ada manusia mati yang kembali ke bumi mewartakan kehidupan sebenarnya di alam gaib itu). Tapi bisakah kita menerima ajaran agama (tepatnya, penafsiran ajaran agama) yang melulu menyuruh umatnya mengejar surga dan menyepelekan hidup?

Kita cenderung beragama dengan sangat formalistik. Agama hanya menjadi tuntunan berupacara. Sialnya, karena kita beranggapan Tuhan itu akan membereskan segala hal setelah kita sembah, maka kita pun cenderung tak mau “membantu Tuhan”. Seakan-akan, setelah kita bersembahyang, setelah kita melakukan upacara, maka Tuhan akan segera bersenang hati menata kembali segala yang kita rusak. Tuhan akan membenahi lingkungan kita, Tuhan akan turun menyelesaikan konflik-konflik sosial, Tuhan akan menghukum para koruptor. Kita pun tinggal menjadi penonton, menerima keadaan apa adanya, menerima para koruptor sebagai manusia agung karena kaya dan sedikit menyumbang kegiatan upacara. Kita telah lupa cara memperbaiki lingkungan, lupa cara menyelesaikan konflik, lupa cara menghukum pencoleng dan pendosa sosial. Sebab kita beranggapan (dan hanya berharap) Tuhan akan turun tangan setelah disembah.

Bisa jadi kita memang salah menerapkan ajaran agama. Seakan-akan Tuhan sangat berkepentingan terhadap agama. Seakan-akan agama kita jadikan sarana untuk menghibur Tuhan. Seakan-akan agama tidak memiliki orientasi kehidupan dan kemanusiaan. Mestinya kita menolak setiap ajaran agama (atau penafsiaran ajaran agama) yang tidak berorientasi pada manusia, tidak berorientasi pada lingkungan, tidak berorientasi pada persaudaraan dan perdamaian. Sebab Tuhan tetap Tuhan kendatipun tidak disembah. Tuhan tetap Mahabesar kendatipun manusia tidak beragama.

Tuhan sama sekali tidak memiliki kepentingan terhadap agama. Ia menurunkan ajarannya agar manusia menjadi manusia, agar manusia paham makna hidup, agar manusia paham bahwa hanya Tuhan yang pantas mengakhiri hidup.

Tampaknya kita mesti mulai berkaca: Benarkah kurikulum pendidikan agama yang kita terapkan dalam kehidupan? Benarkah cara-cara kita menerapkan ajaran agama? Mestinya, pendidikan agama mampu mengantarkan umat manusia untuk menghormati hidup sebagai karunia besar dan mempertahankannya dengan bekerja keras dan menjadikan sembahyang (serta upacara-upacara keagamaan) sebagai ekspresi syukur dan permohonan bantuan atas upaya keras yang kita lakukan. Upacara agama (dan sembahyang) bukanlah sebuah sandaran atas kemalasan dan keculasan kita.

Tuhan tidak akan serta-merta memperbaiki apa yang telah kita rusak hanya dengan suguhan doa dan persembahan. Tuhan tidak akan mengubah mentalitas korup kita hanya dengan sekali-dua kali upacara penyucian jagad. Kitalah, manusia, yang harus mengubahnya dengan penegakan hukum, dengan pendidikan yang benar, dan kontrol sosial yang ketat.

Kenapa kita begitu “bengis” terhadap PSK dan “menghormati” koruptor yang sedikit menyisihkan dana untuk menyelenggarakan upacara agama? Sebab, kita sering abai pada kemanusiaan dan sangat senang “menghibur” Tuhan kendatipun sangat mungkin Tuhan “murka” lantaran suguhan yang kita berikan dibiayai dari hasil keculasan, perampokan uang rakyat, dan bisnis kotor.

Jangan-jangan kita memang salah memaknai sembahyang dan upacara. Jangan-jangan sembahyang dan upacara itu menjadikan kita benar-benar “berserah diri” kepada Tuhan, mengharapkan segala-galanya beres setelah kita berujar, “Ya Tuhan, berilah kami kehidupan yang baik …,” padahal sesudah itu kita pergi ke gunung membabat pohon, pergi ke laut menghancurkan hutan bakau dan terumbu karang, pergi ke pasar mengurangi timbangan dan menjual barang-barang busuk, pergi ke kantor memanipulasi data keuangan, mendirikan partai untuk mendustai rakyat.

Sayangnya, sampai sekarang tampaknya Tuhan belum bisa dimanipulasi, belum bisa disogok.

Nyatanya, pemanasan global dan banjir tetap saja menerjang kendati kita telah memanjatkan doa dan bersembahyang dengan khusyu. Ternyata alam punya bahasanya sendiri. Ia tidak terlalu ramah dengan pendosa yang tak ambil peduli pada penataan alam, kendatipun pendosa itu rajin “berbaik-baik” dengan Tuhan.

Agama, karena itu mestilah kita terjemahkan dengan cara yang lebih membumi. Di Bali kita mengenal ajaran tri hita karana, tetapi kita sangat malas merumuskannya menjadi langkah-langkah kongkret dan aplikatif. Islam selalu saja mendengungkan kebersihan adalah bagian dari iman, tetapi sampah tetap saja menjadi persoalan. Begitu juga dengan Kristen, Buddha, dan agama-agama lain.

Rahayu dan Jagadhita
Kerahayuan adalah kondisi damai dan tenteram, lahir dan batin. Jagadhita, dalam kitab suci Wedha disatukan dengan moksa sebagai tujuan dharma (Moksartham jagadhita ya ca iti dharmah). Moksa (mukti) berorientasi pada hidup sesudah kematian, sedangkan jagadhita (bhukti) berorientasi pada hidup sebelum kematian. Pada dasarnya, jagadhita adalah kemakmuran dan kebahagiaan setiap orang, masyarakat, maupun negara.

Islam memang tidak memisahkan moksa dan jagadhita secara parsial. Islam yang berorientasi pada Tauhid (keesaan) menganggap dunia dan akhirat itu adalah satu rangkaian perjalanan kehidupan. Karena itu, cita-cita umat Islam adalah “fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah”, bahagia di dunia dan akhirat. Kalau diterjemahkan dalam idiom Weda, maka cita-cita itu bisa berbunyi, “Jagadhita untuk moksa, dan moksa untuk jagadhita.”

Karena itu, konsep ini menyatukan kebahagiaan dan kemakmuran di dunia dengan sorga (kebahagiaan puncak) sesudah kematian. Kebahagiaan dan kamakmuran di dalam kehidupan sebelum kematian tidak boleh mengantarkan manusia ke neraka. Begitu pula, moksa tidak boleh dikejar dengan mengabaikan kebahagiaan dan kemakmuran di bumi. Artinya, sangatlah tidak mungkin meraih kebahagiaan di akhirat (moksa) bila seseorang sangat rajin bersembahyang, tetapi ia melakukan perusakan di muka bumi.

Islam, bahkan, sangat “keras” menghukum para pendosa kemanusiaan dan pendosa sosial. Orang yang merampas hak milik orang lain (mencuri, merampok, korupsi) tidak akan dimaafkan oleh Tuhan sebelum korbannya memaafkannya. Bila sang korban tidak memaafkan, maka pelaku harus dihukum (dengan hukuman tertinggi) potong tangan. Orang yang mencabut hak hidup orang lain (membunuh), maka ia juga harus dihukum (dengan hukuman tertinggi) bunuh. Tetapi hukuman seperti itu tidak dikenakan kepada orang yang tidak sembahyang, tidak puasa, tidak haji, dst. Untuk dosa-dosa yang berhubungan langsung dengan Tuhan seperti itu, para pendosanya cukup bertobat secara sungguh-sungguh kepada Tuhan, maka Tuhan berjanji akan memaafkannya.

Islam sendiri berasal dari kata “salam” yang berarti damai, bahagia.

Saya meyakini sebuah agama —bernama Islam— yang damai, sesuai dengan namanya. Saya meyakini sebuah agama yang mengakui jutaan nabi yang diturunkan kepada umat manusia. ”Tidak ada satu kelompok manusia pun di muka bumi yang tidak diturunkan nabi kepadanya.” Begitulah Al Quran berkata. Kalau saya harus beriman kepada jutaan nabi-nabi itu, kenapa saya harus memusuhi ajaran-ajarannya?

Saya mengimani kitab-kitab yang diturunkan Tuhan melalui nabi-nabinya. Bukan hanya Al Quran. Saya mengimani satu Tuhan yang juga milik orang Kristen, milik orang Hindu, milik orang Budha, milik orang Kong Hu Cu, milik semua manusia. Saya mengimani Hari Akhir tempat manusia mempertanggungjawabkan segala perbuatannya secara pribadi. Karena itu, saya tidak akan masuk neraka hanya karena saya bertetangga baik dengan orang Hindu atau dengan pemeluk agama lain.

Karena itu, apa alasan saya untuk tidak bekerja sama dengan pemeluk agama lain? Apa alasan saya untuk mengusik keyakinan orang lain?

Jalan damai adalah keyakinan saya sebagai seorang Muslim. Tiga pilar utama ajaran Islam yakni Iman, Islam, dan Ihsan sama sekali tidak mengajarkan pertumpahan darah dan permusuhan. Iman (=percaya dan aman. Iman berarti yakin, dan karena itu merasa tenteram dan aman) memberi motivasi hidup kepada umat manusia dengan enam rukun (poin, aturan). Pertama, meyakini (dan merasa aman dengan) Tuhan yang Esa yang menjadi Tuhan semua umat manusia, Tuhan yang memiliki 99 sifat indah seperti adil, kaya, kasih-sayang, lemah lembut, kreatif, dll. Kedua, meyakini (dan merasa aman dengan) malaikat, yaitu makhluk yang mendapat tugas khusus untuk memastikan pergerakan alam semesta ini sesuai dengan aturan (saya sering menyejajarkan malaikat dengan ”energi”). Ketiga, meyakini (dan merasa aman dengan) nabi dan rasul yang jumlahnya jutaan dan tersebar di semua kelompok manusia di seluruh penjuru dunia; Keempat, meyakini (dan merasa aman dengan) kitab-kitab (ajaran-ajaran) Tuhan yang diturunkan kepada para nabi itu; Kelima, meyakini (dan merasa aman dengan) segala hukum Tuhan yang berlaku atas alam semesta yang tetap dan tidak pernah berubah (matahari terbit di timur, campuran dua hidrogen dan satu oksigen akan menjadi uap air, dst.) yang disebut Takdir; dan keenam, meyakini (dan merasa aman dengan) hari akhir yang merupakan hari peradilan bagi individu manusia, sebuah peradilan tertinggi.

Sedangkan Rukun Islam merupakan ajang pelatihan bagi umat Islam. Pertama, Syahadah adalah pernyataan kemerdekaan hakiki umat manusia: tidak akan menuhankan apa pun (duit, isme, benda, dll) selain Allah; Kedua, Shalat adalah pelatihan manusia untuk hidup bersih, menyadari ada Tuhan yang mesti dipertuhan, dan menyebarkan kedamaian kepada lingkungan. Shalat juga mengajarkan demokrasi, disiplin, kebersamaan, dll.; Ketiga, puasa mengajarkan pengendalian diri; Keempat, Zakat mengajarkan kehidupan sosial yang tidak individualistik dan egoistik; Kelima, haji mengajarkan kemanusiaan sejagat, di mana manusia adalah makhluk sederajat dan harus bekerja sama untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Ihsan adalah tuntunan yang sangat sederhana: kerjakanlah segala sesuatu sebaik mungkin seakan-akan engkau sedang bertatap muka dengan Tuhan. Karena tidak langsung bertatap muka, maka ingatlah bahwa Tuhan senantiasa mengawasimu. Di dalam ajaran ihsan ini ada unsur budaya dan adat istiadat setempat. Kalau, misalnya, Islam mengajarkan untuk menutup aurat (bagi laki-laki dan perempuan), maka cara menutup aurat itu adalah urusan kebudayaan dan adat istiadat setempat.

Kalau ajaran seperti itu melahirkan manusia-manusia yang suka berang, manusia-manusia yang senang merusak dan menumpahkan darah, kita pantas bertanya: apa yang terjadi? Saya sangat yakin, ada kesalahan besar dalam memahami ajaran-ajaran sederhana itu. Saya juga memiliki keyakinan, ada faktor-faktor eksternal yang mendorong lahirnya pemahaman-pemahaman bias tadi.

Kerahayuan dan jagadhita (salam dan falah, dalam idiom Islam) hanya mungkin tercapai dengan kerja keras. Hayya alal falah, begitulah setiap kali diteriakkan dari loudspeaker masjid untuk memanggil orang untuk shalat. Falah adalah kondisi bahagia, makmur, sejahtera, yang dicapai oleh petani pada masa panen. Kesuksesan ini dicapai setelah bekerja keras bercocok tanam. Falah tidak dicapai hanya dengan berdo’a.

Agama, karena itu, haruslah mengajarkan pemeluknya untuk bekerja keras mencapai jagadhita (al falah), yakni kesuksesan membangun kemakmuran dan kebahagiaan melalui kerja keras, penegakan hukum, pembenahan masalah-masalah sosial dan budaya, dan penghormatan kepada hak asasi manusia. Ini tidak bisa dicapai dengan slogan-slogan normatif semata. Mesti ada langkah kongkret yang digerakkan oleh keyakinan keagamaan. Untuk itu perlu rumusan-rumusan turunan yang aplikatif dari ajaran-ajaran agama.

Kita, misalnya, mestilah mulai memfatwakan bahwa korupsi adalah pencurian besar-besaran yang pantas dihukum berpuluh-puluh kali lipat dibandingkan pencurian konvensional. Karena itu, konsep leteh pantas dikenakan pada setiap pelakunya. Uang hasil korupsi yang digunakan untuk membangun tempat ibadah atau membiayai upacara hanya akan menghasilkan leteh. Begitu juga, misalnya, pada pengedar narkoba. Mereka mestilah dikategorikan sebagai pelaku pembunuhan massal secara terencana. Masyarakat mestilah menghukum mereka.

Menjawab Tantangan
Pada dasarnya kita berhadapan dengan kebudayaan, tata sosial, dan pola pikir yang terus berubah. Pada masa ketika teknologi informasi memegang kendali dalam kehidupan kini, perubahan itu bergerak sangat-sangat-sangat cepat. Percepatan perubahan peradaban manusia sepanjang sejarahnya sangat jauh tertinggal dibanding percepatan perubahan pada masa 100 tahun belakangan ini.

Sementara itu, penerjemahan ajaran-ajaran agama cenderung jalan di tempat. Kita berkilah, ajaran-ajaran itu berlaku sepanjang masa. Benar. Tetapi, apakah penerjemahannya juga berlaku sepanjang massa? Bukankah yang menerjemahkan ajaran-ajaran itu adalah manusia dengan kemampuan daya pikir yang sangat terbatas?

Jagadhita, misalnya. Kini haruslah diterjemahkan dengan cara berbeda. Kini manusia memandang kemakmuran dan kebahagiaan bukan semata dalam konteks spiritualitas. Kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan kini memiliki ukuran-ukurannya sendiri. Materialisme sudah sangat jauh memengaruhi pola pikir manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah terlalu banyak melunturkan keyakinan-keyakinan lama. Impian untuk terbang ala Gatotkaca bukan lagi sebuah angan-angan.

Jagadhita, dalam konteks kekinian tidak melulu berhubungan dengan masalah perekonomian atau spiritualitas. Jagadhita akan berkorelasi luas dengan kebudayaan, masalah-masalah sosial, politik, dan lingkungan. Kerahayuan, karena itu, harus pula dikaitkan dengan masalah-masalah tadi. Para pemuka agama memiliki tanggung jawab berat untuk menuntun umatnya memasuki kerahayuan kekinian, di mana manusia harus mampu berdampingan dengan lingkungan alam yang terjaga baik, berada dalam kondisi budaya, sosial, politik, dan perekonomian yang berkeadilan, disertai tegaknya hukum untuk semua.

Ada begitu banyak persoalan di hadapan kita. Agama haruslah memberikan jalan keluar. Sekali lagi, tidak cukup dengan doa, sembahyang, dan upacara. Agama harus kita terjemahkan ulang agar lebih membumi, lebih bisa memberi konsep yang aplikatif dalam kehidupan nyata. Hanya dengan begitu kerahayuan terwujud untuk mencapai jagadhita (modern).

Kita berserah kepada Tuhan setelah bekerja keras.

 
2 Comments

Posted by on May 17, 2009 in Artikel

 

2 responses to “Jangan-jangan Kita Salah Menerapkan Ajaran Agama

  1. Finalis Budi Prihadi

    April 13, 2011 at 5:17 am

    Nice Post Om, setuju banget….

     
  2. imamgodzila

    August 13, 2011 at 6:08 pm

    bagus pak saya suka

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: