RSS

Menjadi Bangsa Indonesia

08 May

SEBUAH bangsa, pada hakekatnya, adalah sekelompok manusia yang disatukan oleh latar belakang kebudayaan yang sama, ras yang sama, bahasa yang sama, dan secara turun-temurun, secara bersama-sama, membangun kelompok yang kian lama kian membesar. Sebuah bangsa, pada hakekatnya, tidak dibatasi oleh sekat-sekat negara dan agama. Tidak sedikit bangsa yang hidup dalam agama yang berbeda, bahkan negara yang berbeda pula.

Kita tidak menafikan kehadiran bangsa-bangsa baru semacam Bangsa Australia (yang bukan Aborigin) dan Bangsa Amerika (yang bukan Indian). Mereka mampu membangun kebersamaan yang kuat karena mereka adalah para “pendatang” yang berasal dari latar belakangan berbeda tetapi merasa memiliki “nasib” yang sama, menghadapi tantangan yang sama, dan berbaur dalam satu tanah “taklukan” untuk membangun sebuah negara baru. Mereka tidak terkotak-kotak dalam etnis tertentu (atau latar belakangan bangsa tertentu) yang terkonsentrasi dalam wilayah tertentu sehingga mereka tidak sempat mempertahankan kesadaran-kesadaran primordial.

Kasus Bangsa Indonesia adalah kasus yang unik. Bangsa ini lahir dari sebuah pernyataan politik dari beberapa “bangsa tradisional” yang memiliki keinginan sama, tujuan sama, yakni terbebas dari belenggu penjajahan Belanda. Mereka kemudian berikrar menyatukan diri dalam pernyataan “Berbangsa satu, Bangsa Indonesia; Bertanah air satu, Tanah Air Indonesia; Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.” Kemudian kita memahaminya sebagai sebuah tonggak awal berdirinya Bangsa Indonesia.

Sebelum pernyataan 28 Oktober 1928 itu, kita belum pernah mengenal Bangsa Indonesia. Kita hanya mengenal Bangsa Jawa, Bangsa Sunda, Bangsa Sumatra, dan seterusnya. Sebelumnya sejarah kita memang mencatat “penyatuan” yang dilakukan oleh Majapahit. Tapi penyatuan nusantara itu dilakukan melalui serangkaian penaklukan yang mendatangkan serangkaian “dendam” dan “permusuhan” antaretnik. Lagi pula, penyatuan ala Majapahit (Gajah Mada) tidak semata dimaksudkan untuk tujuan kesamaan, persaudaraan, dan “nasionalisme”, tetapi semata untuk kepentingan pengembangan kekuasaan. Etnis-etnis (bangsa-bangsa) yang ditaklukkan pastilah tidak “tunduk secara suka rela” di bawah panji Majapahit. Mereka menyimpan semangat laten untuk melawan dan mengusir “penjajah Majapahit” dari negeri mereka.

Begitulah. Bangsa Indonesia adalah sebuah sebutan yang —terus terang— sangat sulit dirumuskan. Wujud riilnya hanya bisa kita jejak sejak tahun 1928. Kelahirannya pun sebatas keinginan bersama untuk “terbebas dari penjajahan Belanda.”

Sesulit merumuskan “nafas” di balik sebutan Bangsa Indonesia, sesulit itu pula kita merumuskan kebudayaan Indonesia. Beragam konsep telah diutarakan, tapi hingga kini pun kita tidak mendapatkan rumusan yang jelas. Pangkal konsepnya memang tidak jelas. Bangsa ini lahir dari sebuah pernyataan politik yang bersifat kekinian. Sedangkan kebudayaan hanya lahir dari sebuah pergumulan hidup dari sebuah kelompok selama berabad-abad. Itulah sebabnya, di Indonesia kita hanya mengenal kebudayaan Bali, kebudayaan Jawa, kebudayaan Minang, dan seterusnya.

Maka lengkaplah sudah, betapa sulit sesungguhnya kita mendirikan sebuah kerangka tentang apa yang disebut Bangsa Indonesia. Sebuah bangsa, secara tradisional, memiliki keterkaitan budaya yang kuat sehingga mereka menyatu ke dalam sebuah komunitas yang saling dukung, saling memahami, dan dengan mudah saling berkomunikasi.

Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang lahir dari pernyataan politik, sebuah bangsa yang dilahirkan berdasarkan kepentingan-kepentingan sesaat (menentang penjajahan dan keinginan bersama untuk merdeka). Bangsa seperti ini —maaf— akan dengan mudah tercerai berai seperti yang dialami Uni Soviet dan Yugoslavia. Sebuah bangsa yang lahir akibat kepentingan politik, seperti bangsa Indonesia, mestilah memiliki perekat yang sangat kuat, baik berupa rekatan politik, ekonomi, kebudayaan, dan —yang terpenting— perasaan saling membutuhkan untuk bersatu.
Masihkah kita memilikinya?

Inilah bagian yang paling sulit ditumbuhkan kini. Bagaimana kita membuat orang-orang Papua merasa memiliki, membutuhkan, dan merasa satu dengan suku lain sebagai sebuah bangsa bernama Bangsa Indonesia? Bagaimana membuat rakyat Aceh merasa sederajat dalam perlakuan hukum, ekonomi, politik, dan kebudayaan, dengan orang-orang Jakarta, misalnya, sehingga mereka merasa perlu bersatu dalam wadah Bangsa Indonesia? Bagaimana dengan suku lain?

Rasa berbangsa Indonesia hanya mungkin tumbuh bila setiap orang di negeri ini memiliki keinginan yang sama untuk tetap berada di bawah ikatan kebangsaan itu. Keinginan itu bisa dipertahankan bila setiap orang, setiap suku, setiap pulau, setiap kabupaten, setiap desa di negeri ini merasa “diuntungkan” kalau tetap bergabung ke dalam Bangsa Indonesia. Seluruh warga negeri ini akan merasa penting menjadi bagian dari Bangsa Indonesia bila mereka merasa bangga menjadi orang Indonesia. Orang Papua, Aceh, Kalimantan, dan etnis lain kini telah berganti generasi. Mereka bukan lagi orang-orang yang pernah mengalami romantisme perjuangan melawan penjajahan. Mereka kini tidak lagi merasa bangga berhasil mengusir penjajah dari negeri ini.

Generasi baru bangsa ini tidak lagi merasa bermusuhan dengan bangsa-bangsa luar yang siap mencaplok Indonesia dan menjajah mereka. Musuh mereka adalah kemiskinan, ketidakadilan, pendidikan yang mahal, masa depan yang tidak jelas, dan kesewenang-wenangan penguasa. Mereka tahu belaka, negeri ini terus dipandang remeh oleh bangsa lain karena koprupsi yang menyengsarakan, karena pendidikan yang amburadul, karena bangsa ini tidak memiliki prestasi yang cukup membanggakan selain pengiriman TKW.

Janganlah kita pernah bermimpi bahwa kebanggaan menjadi Bangsa Indonesia bisa dibangun dengan simposium dan retorika. Janganlah kita pernah bermimpi bahwa kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia bisa dibangun buku teks PPKN yang diada-adakan dalam kurikulum pendidikan. Yang kita perlukan adalah pemenuhan hajat rakyat, seluruh rakyat. Yang kita perlukan adalah membangun prestasi besar melalui pendidikan bermutu yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Bagaimana mungkin membangun kebanggan kebangsaan kepada anak-anak didik yang bersekolah di bawah atap bocor, sementara di televisi mereka menyaksikan “saudara-saudara” mereka memasuki gedung megah diantarkan sopir dan pulangnya disambut bibi yang siap dengan masakan serba lezat.

Sebuah bangsa adalah sebuah rumah. Bila penghuninya dianggap saudara, maka setiap orang dalam rumah itu hendaknya berada dalam kesamaan status. Tak seorang pun yang boleh diperlakukan sebagai “bedinde” sementara yang lain menjadi “majikan”. Di rumah itu memang ada yang menjadi bapak, ibu, dan kakak-adik. Setiap orang memiliki bilik yang sama (meskipun dihias sendiri-sendiri sesuai selera), memiliki akses yang sama untuk memasuki ruang keluarga, menggunakan fasilitas keluarga, dan tidak ada yang ditirikan.

Apakah kini kita sudah berada dalam rumah Bangsa Indonesia seperti itu?

•ketut syahruwardi abbas
Disarikan dari makalah pada Simposium Kebangsaan di Denpasar, 12 Oktober 2005

 
Leave a comment

Posted by on May 8, 2009 in Esai

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: