RSS

Ada Terdengar Kata “Polite” dalam Politik

08 May

Oleh Ketut Syahruwardi Abbas

KESALAHAN terbesar yang sering kali terjadi dalam kehidupan demokrasi yang mendasarkan diri pada perwakilan seperti di Indonesia ini adalah kecenderungan terpilihnya kaum elitis untuk duduk di dewan perwakilan. Karena mereka memiliki uang untuk “mempromosikan” dirinya, sering kali orang-orang yang kita tunjuk sebagai wakil kita hanyalah orang-orang kaya yang tidak pernah merasakan sakitnya kelaparan. Karena mereka lahir dari keluarga elit, maka tidak jarang kita terjebak memilih orang-orang yang lebih paham makna kebangsawanan ketimbang kerakyatan.

Tidak terlalu salah, memang. Tidak selamanya mereka tidak memahami suara pemilihnya. Tidak semuanya tidak merasakan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Tetapi, setiap Pemilu tiba, kita —kaum marhaen (istilah Bung Karno), kaum proletar (sebutan oleh penganut paham komunis), rakyat jelata (istilah yang paling kita pahami)— berdarah-berdarah memperjuangkan agar calon-calon wakil yang kita cintai bisa duduk mewakili kita. Setiap kita menusuk gambar di bilik-bilik TPS, kita berharap para wakil yang kita pilih nantinya benar-benar bisa memahami setiap getar jantung kita, setiap denyar aliran darah kita, setiap desah nafas kita. Dengan begitu, kita tidak perlu lagi ramai-ramai datang ke gedung perwakilan setiap kali kita menginginkan sesuatu, karena mereka tahu belaka apa yang menjadi harapan kita.

Tetapi kita memang bangsa yang malang. Harapan, keringat, dan darah yang tumpah saat pemilu sepertinya hanyalah peristiwa rutin yang kemudian diingat dalam bentuk angka-angka. Lalu kita terbengong-bengong menyaksikan adegan demi adegan yang dipertontonkan dalam pentas politik. Wakil kita menjadi selebriti yang dengan sangat piawai bermain di panggung yang terpisah dari tempat duduk kita. Kita hanya menonton. Sesekali berteriak, protes, tetapi lakon tetap berlanjut sesuai dengan skenario yang telah ditulis sebelumnya.

Kita memang bangsa yang malang. Setiap kali kata “politik” diucapkan, kita hampir-hampir selalu mendengar “polite” (santun, sopan) tersimpan dalam bunyinya. Tetapi, hanya untuk memberi arti kesantunan dan kesopanan pun kita (baca : para pemimpin kita, para wakil kita) sering tidak benar-benar “pas”. Kesantunan dan kesopanan dalam politik bukanlah aturan kata-kata. Ia adalah deretan prilaku. Dan kesantunan dalam politik adalah kesantunan kepada rakyat pemilih yang memiliki otoritas kekuasaan terbesar dalam negara demokrasi. Sungguh tidak layak politik dijadikan arena adu jotos untuk memperebutkan kekuasaan, untuk memperebutkan posisi-posisi basah untuk mencari dana partai, sementara rakyat menangis di tenda-tenda lapuk pengungsian, terjerembab dalam pertikaian saudara yang penuh dengan tumpahan darah, terseok-seok dalam ketidakpastian masa depan.

“Polite” yang selalu terdengar sayup-sayup setiap kali kata “politik” diucapkan adalah kesadaran bersama untuk memahami kebutuhan-kebutuhan bangsa ini. Kita, kaum papa yang masih punya sedikit harapan, seperti pernah diucapkan oleh Plato, tidak benar-benar terlalu berharap bisa mengenal atau menyukai nakhoda sebuah kapal yang bernama “Indonesia”. Kita cuma ingin berharap bisa percaya bahwa sang nakhoda tahu benar tujuan kita dan paham betul cara mengemudikan kapal. Kita tidak terlalu peduli kalau dalam perjalanan terserang mabuk asalkan yakin bahwa kapal memang mengarah pada tujuan perjalanan kita. Tetapi, begitulah, kini kita diombang-ambingkan dalam mabuk besar, tetapi masih tetap tidak memiliki harapan untuk tahu ke mana sesungguhnya arah kapal yang sedang kita tumpangi. Sementara di ruang kemudi terjadi pergumulan, di dek penumpang pun terjadi adu jotos. Kita tidak bisa lari.

Kesopanan dalam politik bukanlah kata-kata halus, bukanlah kemampuan untuk membungkus kebusukan dengan puisi. Kesopanan dalam politik adalah ucapan selamat pagi kepada seluruh rakyat yang siap-siap berangkat kerja setelah makan pagi yang nyaman, setelah anak-anak mereka berangkat sekolah dengan riang.

 
Leave a comment

Posted by on May 8, 2009 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: