RSS

Presiden

06 May

MAHATMA Gandhi. Che Guevera. Mohammad Hatta. Terlalu banyak tokoh besar yang namanya bisa kita deretkan dalam barisan orang-orang khusyu’ saat berjuang. Mereka fokus pada cita-cita. Mereka tak peduli pada embel-embel lain.

Ben Kingsley —aktor kelahiran Inggris— pantas mendapatkan oscar untuk perannya sebagai Mahatma Gandhi dalam film “Gandhi”. Gandhi yang bersemangat, yang cerdas, yang penuh ambisi, benar-benar hadir di layar —seakan rohnya masuk ke jasad Ben Kingley— ketika ia sedang duduk di kereta, pulang dari Afrika Selatan ke negerinya sendiri, India. Saat berjalan tertaih-tatih mengenakan jubah putih hasil tenunan sendiri, atau saat menyerukan swadhesi, atau ketika ia harus menunduk lesu mendengarkan perdebatan antara Ali Jinnah dan Nehru, atau ketika ia ditembak oleh pemuda tak panjang akal, Ben Kingsley benar-benar larut ke dalam roh tulus seorang Mahatma Gandhi.

Entah dengan cara apa film itu dibuat. Kita, yang menontonnya, seperti kehilangan kesabaran untuk segera bangkit dari tempat duduk dan menghambur memeluk gambar lelaki tua yang yang diproyeksikan ke layar putih itu. Kita ingin menjerit ketika peluru pistol meledak dan black out pada layar beberapa detik. Jutaan orang menangis mengiringi jasad Gandhi.

Tangisan itu adalah tanda kehilangan yang dalam. Tanda cinta yang tulus.

Dalam alam dan setting yang berbeda, kita pantas mencatat nama lain: Che Guevera. Bersama Fidel Castro ia berjuang untuk negerinya. Ia menantang maut di hutan-hutan Cuba. Tapi, ketika perjuangan usai, ketika Fidel Castro menobatkan diri menjadi presiden, Che tetap tak pulang ke kota. Ia menentang kediktatoran teman seperjuangannya sendiri. Pun dengan Mohammad Hatta. Ia harus “pulang” ke rumah, meninggalkan istana, memutus kedwitunggalannya dengan Bung Karno, sebab ia tetap tegak dengan perjuangannya dan merasa tidak nyaman berdampingan dengan temannya sendiri yang dianggapnya tak lagi sejalan dengan cita-cita semula.

•••••

Dari semua cerita tokoh yang mendatangkan ribuan tangis di saat kematiannya, kita mencatat satu kesamaan: tak pernah kehilangan cinta kepada rakyat, tak pernah kehilangan semangat untuk berkorban, tak pernah merasa penting melengkapi diri dengan embel-embel gelar, kekuasaan, dan uang. Mereka adalah nurani rakyat, hati bangsa, dan mata negerinya. Bila mereka menjerit, itu berarti rakyatnya sedang menjerit. Ketika mereka berduka, maka bangsanya memang sedang berduka. Bila mereka menangis, mata negerinya memang sedang mencucurkan air.
Kini, bisa jadi, kita tak lagi memiliki pemimpin yang bisa mewakili nurani, hati, dan mata kita. Berat nian mengakui, kita telah kehabisan air mata, sementara (calon) pemimpin kita bersorak-sorai di atas panggung mengenakan pakaian mahal-mahal, menghamburkan uang untuk membeli suara, kemudian pulang terkantuk-kantuk di dalam limo hitam yang indah. Berat nian beban hidup mana kala sadar bahwa kita berada dalam sebuah kapal besar yang rapuh, berlayar entah ke mana dengan nakhoda yang sama bingungnya dengan kita: tak mampu melihat bintang penunjuk.

•••••

Sejarah sangat sedikit mencatat kejadian besar yang didorong oleh gelombang manusia, kecuali kekejaman dan perang. Peradaban selalu dimulai dengan munculnya sosok manusia-manusia bersahaja yang memiliki cinta dan keteguhan hati. Para penganjur agama, para filosof, dan martir-martir yang mengubah peta kebudayaan tak pernah peduli dengan suara terbanyak. Mereka hanya meyakini kebenaran. Merekalah yang kemudian menyusun sistem, menyusun hukum-hukum, yang —salah satunya— kini kita kenal sebagai demokrasi. Sejarah, memang, belum pernah mencatat perubahan besar akibat demokrasi.

Mungkin kita memang harus membalik pemahaman. Demokrasi acapkali bisa dimanipulir dengan gincu dan minyak wangi. Demokrasi sering bergulir di atas kepintaran creative director sebuah perusahaan periklanan. Demokrasi —sedih benar menyadarinya— banyak melahirkan pemimpin yang pintar berdusta dan meyakinkan khalayak bahwa dustanya itu adalah fakta.

Saya jadi teringat pada Hitler. Ketika ditanya, bagaimana ia bisa menggerakkan begitu banyak manusia bagaikan robot meluluhlantakkan Eropa, Hitler menjawab, “Sebab, saya bisa bicara.” Belakangan, diketahui, hukum komunikasi Hitler berbunyi begini: “Dusta yang diucapkan seribu kali akan berubah menjadi kebenaran.”

Mungkin kita memang harus membalik kaidah: Kita coba memilih Gandhi melalui demokrasi. Itu hanya mungkin kalau kita menolak hukum komunikasi gaya Hitler. Tapi, inilah malangnya, demokrasi tidak pernah bisa mengubah seorang George Walker Bush menjadi George Washington. Demokrasi tidak bisa mengubah Megawati atau SBY menjadi sosok lain yang menjadi idaman kita.

Apa boleh buat. Gandhi, Che Guevera, Hatta, Syahrir telah menjadi masa lalu. Kita berhadapan dengan televisi yang dengan mudah memberi warna lain dari yang sebenarnya pada setiap calon presiden yang ditampilkannya. Sebagian besar dari kita menjadikannya referensi untuk memilihnya.

Apa boleh buat. Kita harus berdemokrasi. Demokrasi ala televisi.

•ketut syahruwardi abbas

 
1 Comment

Posted by on May 6, 2009 in Esai

 

One response to “Presiden

  1. ninengahhardiani

    June 22, 2009 at 11:27 am

    Berarti kita tidak bisa mengandalkan orang lain untuk suatu perubahan. Semua harus dimulai dari diri sendiri, dari kesadaran diri sendiri, bahwa ada hal yang tidak benar sedang terjadi. Pilihan ada ditangan kita sendiri. Mau bertindak sesuai nurani atau menuruti nafsu.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: