RSS

Sajak-sajak Cinta

05 May

Pantai Berawa 00.00/07

Terang kita budak-budak waktu.
Saat anggur dituang dan langit berabu,
cahaya warna-warni di garis-garis ombak timur
seperti kunang-kunang sedang berakrobat.
Kita pun takluk. Perubahan dibawa sang kala
ke relung paling mistis nyala lilin yang disulut
dengan bising asing. Satu persatu padam sendiri.

Pertanyaankah kita?

Laut sepi. Nelayan enggan turun karena angin.
“Dingin sekali. Tambah anggur?” Tidak. Wangimu
memanggilku ke mabuk. Angin laut tak cukup baik
untuk gaun tipis itu. “Ini malam terasa aneh.”
Percakapan pulang ke waktu bulan yang hilang.
Dari yang tak bisa dipahami, ada sepotong roti
terapung-apung di atas buih dan menepi di pasir.
“Mungkin ada kapal khayal memuat pengintai
sambil makan roti melihat kita dengan mata iri
: Tak punya cukup daya mendatangkan musik
dan bertumpuk makanan ke geladak dingin.”

Jawabankah kita?

Jarak kita dua meja. Kamu terus saja menelepon?
Aku sedang berharap ada kabar dari ibu di desa
tentang hal-hal tak terduga. Kini ia pasti jaga
mendoakan anak-anaknya agar hidup lebih mulia.
Sesudah itu ia akan lelap dengan mimpi indah.
Sembilan anak bergandeng tangan di awan
Berjubah putih menari-nari nyanyikan pujian.

Terompet sepi, angin membawa gerimis.
Aku bisikkan cerita tentang udara garam
dan mistik ombak yang memicu gairah.
Wangi kupingmu menyeretku ke mabuk.

Kini kita rayakan perubahan, katamu.
Kita mabuk dalam arus waktu, kataku.

Dari Bangsal RS

Kembang merah hijau
baru saja dikembalikan ke ruangku
setelah bau karbol dan larutan bening
nyusup ke urat-urat.
Kubayangkan senyummu.

Begitu sering nyawa putus di sini.
Mungkin dengan selingan gurau kecil
para dokter dan perawat elok
atau tangis pura-pura sanak keluarga
yang lelah mengantar penganan
atau beli obat di apotek. “Mahal!”

Tubuh renta teronggok bagai boneka
rapuh. Kabel dan selang mengantar
harapan atau mencegah keputusasaan
saat garis hidup begitu getas. Maka
yang menghibur adalah kesangsian
apakah engkau akan menjenguk
senja ini. Atau tinggal menunggu
telepon dariku dan cekcok biasa:
“Pulang saja, tubuh tua yang rapuh.”

Di luar jendela yang kusam
kulihat gerimis dan kelam di langit.
tak ada pintu terbuka di sana. Aku
bayangkan tubuhku megambang
tak temukan jalan. Pulang ke mana?
Tak ada tangan terentang, tak ada
senyum sambutan. Hanya kilat.

Mungkin baik juga mengenang
kematian saat kembangmu tiba.
Merah hijau. Pot kecil. Terhalang
ransum tak bergula, tak bergaram.
Siapa tahu kematian memang hanya
semacam nasi putih dan tempe rebus.
Siapa tahu kematian hanyalah kelopak
kembang yang jatuh ke lantai berkarbol.
Biasa saja. Tanpa genderang tanpa apa.

Masih Ada Sepi

Masih ada sepi yang bisa diisi.

Lupa apa yang pernah kamu ucap
lalu bulan menjengukmu dari balik
daun jendela. Aku ditindih bayang
daun jatuh. Ah, angin bergetah.

Aku sendiri saja. Membaca malam
seperti pelatuk. Menatah sarang.

Aku benci bulan menjengukmu
di tidur yang telanjang. Pikiran
meraba-raba di tembok kusam.
Ada kelinci dan perdu bergoyang
seperti raksasa mabuk. Cuma
gambar tangan anak-anak. Mataku
tak bisa bedakan warna.
Terlalu rindu.
Terlalu sepi.

Aku pulang ke sarang awal. Di mana
mimpi tak perlu warna. Rumah kecil
tempat yang tiada berubah ada.

Sebatas yang Kukenang

kukenang saja senyummu itu
pada masa-masa ketika sayup
tangis angin menukik di bubungan
dan seratus bayang kelelawar
menembusi baris-baris kaca jendela.

siapa yang pahatkan pualam di
tubuhmu yang mungil? Aku bayangkan
bintang-bintang bersorak kala
malam lahirkanmu dulu: mawar
saja terlalu merah dan cahaya bulan
berpendar di titik-titik peluhmu.

aku paling suka mengenang
garis di tengah-tengah dadamu
:tipis dan lembut. seekor kupu
kupu menabur benih di antaranya
hingga tumbuh aneka warna
seperti pendar mata bidadari
:dongeng masa kecilku.

dewi tak lahir di sini.
kukenang saja senyummu itu

seperti kelelawar terbang malam.

Karena Aku Rindu

Aku pulang dari sarang rindu
merangkulmu di cermin batu.

Aku pulang dari sarang berahi
menjengukmu di ruang depan
terkelupas dari benang-benang
aturan. Merunduklah daun putri malu
merunduklah segala yang punya tabu
kerna kami merontakan dengus
anak-anak bumi yang basah.

Wahai anak batu pualam
kugumpal kau di atas batas
di luar hingga, serentak berjaga
di bumi rindu milik kita.

Di langit ada anak-anak
berbaju putih. Menyanyi.

Ada yang minta diisap di setiap
pori kulitnya. Aku berulang tahu
bahwa pualam itu tak punya pori.
Maka kuputuskan untuk cuma
memberimu setangkai kata puisi
: bahwa kita akan berjalan sendiri
menganyam sarang dari air liur
berahi. Begitu getas. Begitu panas.

T.G.

Baru seminggu lalu aku cium
rambutmu yang coklat. Warna
semir dari etalase buah pabrik.
Aneh. Mestinya asing. Tapi baik
ia masuk ke pori-pori kulitku.
Tidak terlalu mulus, memang.
Seperti mangga setengah matang.
Mengundang liur.

Paham pada lelucon awan. Itu awal.
Perihal lain cuma permintaan.
Aku bersedia jadi pemilik beban
degup jantung malam-malam itu.
Aku paham gerak mata yang kau
beli dari dusta para pedagang.
Maka jadilah tua. Usia punya jawab.

Non Is, Non Des

Satu bumi tak cukup buat gairah lelaki.
Maka jangan salahkan jejak apinya
barakan rimba-rimba perburuan
yang terbuka dan sembunyi. Rata.

Sembunyilah. Tak ada tempat aman.
Mata-mata derita ngunci kita di bilik api.
Buka sebarang yang nempel dan musykil.
Beri pada satu lelaki. Maka lampu jalan
jadi kunang-kunang di balik kordin jendela kaca.
Karena kulit ketemu sentuhnya.

Telah Lewat Janji Kita
—buat JP

Harus kukatakan kini
: Lewatlah masa yang tersedia
buat janji-janji menunggu bulan.
Kau, asin dan terang itu, telah
sobek catatan di saku belakang celanaku
kerna kecewa dan amarah. Padahal
telah kubangun rumah putih
di tanah-tanah mimpi kita
dengan sepotong potret memenuhi
seluruh ruang dalamnya yang coklat.

Perahu karet di langit-langit.

Apalah yang bisa kukatakan lagi
kecuali memahami bahwa ada udara,
langit, burung, dan keingina bersatu.

Inilah saat yang kutakutkan itu
: Kita bicarakan perkawinan di hadapan
semesta yang tidak pernah memerdekakan.
Lalu kita maki aturan-aturan, masa lalu,
“Lahirkan kami kembali!”

Musim Menari

Mari kubantu membungkus malam
dengan tarian hening. Berdua.
Musim menari tiba
Semua dikawinkan sesamanya
Maka jangan mengelak. Mari menari.
Biar tercium harum getah ketiakmu
Dan kujamah pelan sampur rambut
dari kamar yang lengang. Sendiri.

Inilah kijang tua menari
tanpa tembang tanpa gambang
Cuma angin. Gagap. Patah-patah.
Sekali mendengus dan tersesat
dalam geliat tangan sendiri

 
Leave a comment

Posted by on May 5, 2009 in Sajak-sajak

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: