RSS

Dari Pentas “Kereta Kencana” Sutradara Abu Bakar: Pada Mulanya dan Akhirnya adalah ‘Buku’

Pentas Kereta Kencana

Salah satu adegan dalm Pentas Kereta Kencana sutradara Abu Bakar

Lakon “Kereta Kencana” yang merupakan karya WS Rendra atas adaptasinya terhadap “The Chairs” karya Eugene Ionesco (1909-1994), sudah dipentaskan beberapa kali di Indonesia. Pementasan yang disutradarai oleh Abu Bakar adalah yang kesekian kalinya. Tiap-tiap sutradara dan aktor menyajikan kreativitasnya sendiri dalam menjinakkan atau memberikan makna pada lakon ‘absurd’ ini. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on February 4, 2012 in Artikel

 

Karena Panggung Memakai ”Style Bali”

Putu Satria Kusuma

Putu Satria Kusuma

”Aku belum pernah dengar pementasan teater rumahan.” Itulah komentar Putu Satria Kusuma, dedengkot Sanggar Kampung Seni Banyuning, Singaraja. Kendati demikian, dia bisa membayangkan, teater rumahan pastilah memiliki karakter tontonan yang beda dengan teater pangggung, karena jarak penonton dengan yang ditonton dekat sekali, bisa dikatakan tidak berjarak. ”Peristiwa teater seperti menjadi peristiwa sehari-hari di dalam rumah. Karena itu sutaradara mesti peka membaca karakter teater rumahan,” ujar Putu. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on February 4, 2012 in Artikel

 

Teater Rumahan, Alternatif Pentas Murah

Abu Bakar

Abu Bakar

Beberapa kali terjadi: Dramawan Abu Bakar menjadikan rumah kediamannya di Jalan Sakura I, Denpasar, sebagai ”gedung pementasan.” Dengan penonton yang sangat terbatas, Abu selalu bisa ”mengendalikan” audience-nya. ”Kalau tidak menyukai pementasan ini, mohon dengan sangat agar keluar dengan diam-diam. Siapa tahu ada yang masih suka melanjutkan menonton.” Selalu begitu. Abu selalu mengucapkan kalimat itu sebelum pementasannya dimulai. Ia tidak mau tidak dihargai. Ia tidak mau penonton ngobrol sendiri, sementara pementasan sedang berlangsung. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on February 4, 2012 in Artikel

 

Ibu

Perempuan adalah “laki-laki yang tidak lengkap”. (Aristoteles)

Ibu. Pada setiap kali panggilan itu kita beri tempat dalam pikiran, maka yang terbayang adalah gambaran sempurna Dewa Wishnu: memberi kita kesadaran tentang makna pertumbuhan, pemeliharaan, kasih-sayang …

Tetapi, seperti selalu kita lihat, tak banyak orang yang bisa dengan baik mengapresiasi karya “dewa wishnu”. Dalam pandangan kita, manusia paling unggul adalah para pencipta, orang-orang yang mampu menghadirkan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada. Kita juga selalu “mengagumi” kekuatan perusak: bom, senjata, dan kekuasaan yang cenderung jadi bandit. Itulah bagian yang secara turun-temurun dianggap sebagai “wilayah laki-laki”. Proses pemeliharaan, kasih-sayang, penumbuhan, dan “maintenance” sebagai “wilayah perempuan” adalah kerja kaum lemah: para pembersih kaca, tukang sapu jalanan, dan para petani. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 21, 2011 in Esai

 

Kami Khawatir, Bapak Presiden

SAYA bertanya-tanya, apa yang kini ada di pikiran Yang Terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Dr. Susilo Bambang Yudhoyono? Apakah beliau mendengar prihal kematian Sondang Hutagalung yang membakar diri di depan istana negara yang nyaris menjadi menara gading itu? Apakah beliau sempat mendengar teriakan Sondang, ”Hukum Mati Koruptor” sebelum membakar diri? Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 12, 2011 in Uncategorized

 

Poliandri Mosuo

DALAM sebuah perjalanan ke China beberapa tahun lalu, seorang pemandu wisata menawari saya sebuah ”petualangan kultural” ke kawasan Danau Lugu yang berada di perbatasan China dengan Tibet. ”Sangat indah. Danau itu berada di ketinggian sekitar 2.700 meter di atas permukaan laut,” tutur si pemandu wisata dengan Bahasa Inggris yang membuat kepala saya pening. Ia pun membisikkan sesuatu ke telinga saya. ”Siapa tahu Anda terpilih,” katanya.

Terpilih jadi apa? Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2011 in Esai

 

Bhisama

PARA sulinggih, budayawan, dosen, mahasiswa, dan beberapa komponen masyarakat Bali yang tergabung dalam Tim Penegak Bhisama secara tegas menyatakan menolak usulan untuk merevisi Peraturan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali. Di hadapan Komisi I DPRD Bali, Tim Penegak Bhisama menyayangkan munculnya usulan revisi Perda Nomor 16 Tahun 2009 Tentang RTRW yang diajukan oleh para bupati/wali kota se-Bali itu. Semestinya, kata mereka, tidak perlu ada revisi lagi. Sebab, sebelum disahkan, perda tersebut sudah melewati kajian mendalam. Baik menyangkut tata ruang maupun lingkungan Bali secara menyeluruh. “Dalam perda itu sudah semuanya diatur. Baik pembangunan kawasan pendukung wisata maupun kawasan suci. Jadi apa lagi yang harus direvisi?” ucap Putu Wirata Dwikora, Sekretaris Tim, usai bertatap muka dengan Komisi I DPRD Bali pekan lalu. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2011 in Esai