<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abbas Menulis</title>
	<atom:link href="http://ketutwardi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ketutwardi.wordpress.com</link>
	<description>Gumam Ketut Syahruwardi Abbas</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 06:01:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ketutwardi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/3e14f9718f88be8ec458161763660b6e?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Abbas Menulis</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ketutwardi.wordpress.com/osd.xml" title="Abbas Menulis" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ketutwardi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dari Pentas “Kereta Kencana” Sutradara Abu Bakar:  Pada Mulanya dan Akhirnya adalah ‘Buku’</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com/2012/02/04/dari-pentas-kereta-kencana-sutradara-abu-bakar-pada-mulanya-dan-akhirnya-adalah-buku/</link>
		<comments>http://ketutwardi.wordpress.com/2012/02/04/dari-pentas-kereta-kencana-sutradara-abu-bakar-pada-mulanya-dan-akhirnya-adalah-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 04:07:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketutwardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketutwardi.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Lakon “Kereta Kencana” yang merupakan karya WS Rendra atas adaptasinya terhadap “The Chairs” karya Eugene Ionesco (1909-1994), sudah dipentaskan beberapa kali di Indonesia. Pementasan yang disutradarai oleh Abu Bakar adalah yang kesekian kalinya. Tiap-tiap sutradara dan aktor menyajikan kreativitasnya sendiri dalam menjinakkan atau memberikan makna pada lakon ‘absurd’ ini. Putu Wijaya memainkan lakon ini beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=219&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_221" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_pentas-kereta-kencana-1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-221" title="Pentas Kereta Kencana" src="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_pentas-kereta-kencana-1.jpg?w=150&h=112" alt="Pentas Kereta Kencana" width="150" height="112" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu adegan dalm Pentas Kereta Kencana sutradara Abu Bakar</p></div>
<p>Lakon “Kereta Kencana” yang merupakan karya WS Rendra atas adaptasinya terhadap “The Chairs” karya Eugene Ionesco (1909-1994), sudah dipentaskan beberapa kali di Indonesia. Pementasan yang disutradarai oleh Abu Bakar adalah yang kesekian kalinya. Tiap-tiap sutradara dan aktor menyajikan kreativitasnya sendiri dalam menjinakkan atau memberikan makna pada lakon ‘absurd’ ini.<span id="more-219"></span></p>
<p>Putu Wijaya memainkan lakon ini beberapa kali, termasuk yang terakhir adalah di Gedung Kesenian Jakarta September 2010, untuk mengenang setahun wafatnya Rendra. Dia membuka pentas ini dengan adegan si Kakek (tokoh utama, dimainkan Putu sendiri) terkulai di kursi, sedangkan penutupnya diisi dengan pembacaan puisi Goenawan Mohamad berjudul <em>Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi</em> (1966). Penekanannya seolah pada kontemplasi akan misteri kematian yang tidak ditolak tetapi tidak diketahui kapan waktunya.</p>
<p>Sutradara Abu Bakar yang mementaskan lakon ini di halaman rumahnya di Jl. Sakura, Denpasar, membuka pentas ini dengan adegan si Kakek (Anwar Djuliadi) duduk di kursi membaca buku (bukan terkulai), sedangkan menutup lakon ini dengan adegan si Kakek dan Nenek (Heny Shanti) beriringan berangkat menuju sinar di ketinggian. Langkahnya gontai, barang bawaannya tercecer dari kopernya, termasuk beberapa buku. Kematian manusia meninggalkan buku.</p>
<p>Saya tertarik memperhatikan ‘buku’ dalam adegan pembuka dan penutup kisah ini. Jika dikaitkan dengan subtema lakon ini, ‘buku’ bisa tampil sebagai salah satu simbol penting dalam pentas yang disutradarai Abu Bakar itu.</p>
<p>“Kereta Kencana” adalah kisah igauan dua orang tua, kakek-nenek (suami istri), yang dilukiskan sudah berusia dua abad (usia yang absurd!). Hari-hari mereka adalah saat-saat mananti kematian, yang disimbolkan dengan imajinasi kehadiran ‘Kereta Kencana’ yang akan menjemputnya, membawanya ke alam sana.</p>
<p>Dalam igauannya itu, berbagai hal dilakukan Kakek dan Nenek, termasuk bermain layang-layang seperti kanak-kanak. Kata-kata dan dialognya, jika disimak dengan logika normal, tentu saja tampak seperti tanpa arah, tidak berujung-pangkal, fragmentarasi. Namanya saja juga orang mengigau, tentu saja apa yang disampaikan jauh dari refleksi kesadaran normal.</p>
<p>Tapi, jika kita mengikuti teori psikologi Freud, maka dalam ketaksadaran itulah terpantul sejumlah kebenaran atau alam pikiran penuh makna. Mimpi atau ‘salah ucap’ (<em>slip of the tounge</em>) menandai adanya kebenaran yang ditindas. Yang direpresi itu meledak ke luar di luar kontrol. Artinya, yang penting adalah ungkapan yang terdengar, bukan siapa yang menyampaikan.</p>
<p>Dialog Kakek Nenek dalam “Kereta Kencana” adalah letupan-letupan dari keinginan yang ditekan, kesadaran yang dikekang. Dalam beberapa dialognya, Kakek dan Nenek memberikan penekanan pada betapa pentingnya ‘kebudayaan’. Untuk apa kebudayaan, katanya, kalau manusia tidak bisa menghibur dirinya? Dalam kesempatan lain, lakon ini menekankan ‘badut adalah raja kebudayaan’. Dikaitkan dengan kenyataan, banyak hal lucu yang terjadi di sekitar kita, kelihatan tragis, tetapi sebetulnya tidak lebih dari sekadar lelucon. Dalam dunia eksekutif, legislatif, yudikatif dan juga dalam dunia pers, terdapat begitu banyak ‘badut’.</p>
<p>Hidup adalah buku, tabungan pengetahuan yang terus dibaca dan terus ditulis. Kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘harimau mati meninggalkan belang’, ‘gajah mati meninggalkan gading’, maka manusia mati meninggalkan ‘buku’. Adegan pembuka dan penutup ‘Kereta Kencana’ versi sutradara Abu Bakar, mengingatkan kita bahwa betapa pentingnya buku sebagai lambang kebudayaan atau peradaban manusia. Jadi kalau sutradara Putu Wijaya menggarisbawahi sunyinya kematian dalam “Kereta Kencana”, Abu Bakar menekankan pada jejak manusia yang mati. Jejak itu adalah buku.</p>
<p>Penekanan pada buku sebagai jejak manusia yang ditonjolkan Abu Bakar mengingatkan kita pada kata-kata Derrida bahwa tidak ada apa pun (sejarah) di luar teks. Sejarah tidak pernah hadir dalam kesadarna manusia kalau tidak ditulis atau diproduksi ke dalam teks.</p>
<p>Pentas “Kereta Kencana” di rumah Abu Bakar adalah juga sebuah teks yang menjelaskan sepotong sejarah teater kita dewasa ini. Foto-foto yang dijepret atau ulusan yang dibuat atas pementasan itu adalah ‘barang bukti’ alias ‘teks’ dari sejarah teater yang ditorehkan Abu Bakar bersama aktor-aktornya.</p>
<p><strong>Nyoman Darma Putra</strong> (Dosen Faksas Unud, kritikus seni)</p>
<p><em>Rubrik Seni, Bali Tribun, 4 Februari 2012</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketutwardi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketutwardi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketutwardi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketutwardi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketutwardi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketutwardi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketutwardi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketutwardi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketutwardi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketutwardi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketutwardi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketutwardi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketutwardi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketutwardi.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=219&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketutwardi.wordpress.com/2012/02/04/dari-pentas-kereta-kencana-sutradara-abu-bakar-pada-mulanya-dan-akhirnya-adalah-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/070a9464366c0349ef74fdfac129a49b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketut syahruwardi abbas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_pentas-kereta-kencana-1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Pentas Kereta Kencana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karena Panggung Memakai ”Style Bali”</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com/2012/02/04/karena-panggung-memakai-style-bali/</link>
		<comments>http://ketutwardi.wordpress.com/2012/02/04/karena-panggung-memakai-style-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 04:01:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketutwardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketutwardi.wordpress.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[”Aku belum pernah dengar pementasan teater rumahan.” Itulah komentar Putu Satria Kusuma, dedengkot Sanggar Kampung Seni Banyuning, Singaraja. Kendati demikian, dia bisa membayangkan, teater rumahan pastilah memiliki karakter tontonan yang beda dengan teater pangggung, karena jarak penonton dengan yang ditonton dekat sekali, bisa dikatakan tidak berjarak. ”Peristiwa teater seperti menjadi peristiwa sehari-hari di dalam rumah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=214&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_216" class="wp-caption alignleft" style="width: 111px"><a href="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_putu-satriya-kusuma.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-216" title="putu satriya kusuma" src="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_putu-satriya-kusuma.jpg?w=101&h=150" alt="Putu Satria Kusuma" width="101" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Putu Satria Kusuma</p></div>
<p>”Aku belum pernah dengar pementasan teater rumahan.” Itulah komentar Putu Satria Kusuma, dedengkot Sanggar Kampung Seni Banyuning, Singaraja. Kendati demikian, dia bisa membayangkan, teater rumahan pastilah memiliki karakter tontonan yang beda dengan teater pangggung, karena jarak penonton dengan yang ditonton dekat sekali, bisa dikatakan tidak berjarak. ”Peristiwa teater seperti menjadi peristiwa sehari-hari di dalam rumah. Karena itu sutaradara mesti peka membaca karakter teater rumahan,” ujar Putu.<span id="more-214"></span></p>
<div id="attachment_215" class="wp-caption alignleft" style="width: 136px"><a href="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_nanoq-da-kansas.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-215" title="nanoq da kansas" src="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_nanoq-da-kansas.jpg?w=126&h=150" alt="Nanoq Da Kansas" width="126" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Nanoq Da Kansas</p></div>
<p>Putu membayangkan dirinya bereksperimen dengan gaya teater rumahan, maka ia mengaku akan bermain sealami mungkin, tanpa permainan lampu, musik, dan memperlakukan penonton bukan sebagai tamu yang menonton, tapi sebagai anggota keluarga yang tiba-tiba saja disuguhi peristiwa teater yang tidak diduga sama sekali oleh anggota keluarga itu. ”Inilah yang tidak saya lihat pada garapan Abu bakar dalam pentas kemarin. Abu masih memakai konsep teater panggung yang diformat kecil,” tambah Putu sembari menambahkan, apa yang dipentaskan Abu sangat bagus. ”Cuma seandainya diformat sebagai teater rumahan, dan naskah Kereta Kencana disiasati untuk pentas teaer rumahan, pasti hasilnya beda. Lebih real, dan menusuk hati,” ungkap Putu Satria.</p>
<p>Dari Negara, Jembrana, sutradara Bali Ekeperimental Teater (BET), Nanoq Da Kansas mengaku telah berulang kali melaksanakan konsep teater rumahan. ”Kami telah melakukannya di Negara (Jembrana) sejak tahun 90-an. Sejak saya dan kawan-kawan di Negara masih aktif di Teater Kene dan berlanjut dengan BET. Hal ini bahkan sempat kami lakukan secara berkesinambungan dalam kurun waktu 5 atau 6 tahunan (1993-1998),” tutur Nanoq.<br />
Saat itu, kata Nanoq, pementasan dilakukan (terutama) di rumahnya sendiri, rumah penyair DS. Putra, rumah Kaplur Sunantara, rumah Ida Bagus Surya di Desa Batuagung, dan rumah beberapa teman di Loloan Barat dan Loloan Timur. ”Kami memanfaatkan teras atau halaman rumah, ditonton oleh kawan-kawan sendiri dan warga sekitar rumah. Bahkan di lingkungan tempat kontrakan saya dulu, di Banjar Satria, Negara, para ibu-ibu rumah tangga saat itu menjadi terbiasa membujuk anak-anak mereka untuk segera mandi dengan iming-iming mengizinkan anak-anak itu menonton pementasan kami pada malam harinya,” tambah Nanoq.<br />
Pementasan teater di rumah ini tidak saja untuk Teater Kene dan Bali Eksperimental Teater, tetapi juga untuk beberapa kelompok teater dari luar Bali yang sengaja datang ke kota Negara untuk pentas apresiasi. Teater ABDI dari Jakarta, Teater Belgombes dari Malang, Teater TOP dari Semarang, Teater Cemara dari Surabaya, dan Teater Sendiri dari Kendari adalah kelompok-kelompok teater luar Bali yang pernah diajak pentas di rumah. ”Saya juga pernah kerja sama dengan seorang aktor dari Swis dan Belanda mementaskan sebuah karya di halaman dan di ruang tamu. Dengan konsep pementasan rumahan ini kami juga terbiasa ditonton hanya oleh 10 orang, atau kadang-kadang menjadi ramai karena orang-orang yang kebetulan lewat di depan rumah kami jadi penasaran dan akhirnya ikut menonton serta ikut diskusi setelahnya,” lanjur Nanoq.<br />
Bentuk teater rumahan dipilih, menurut Nanoq, teramat sederhana. Di Negara (Jembrana) tidak ada gedung teater, tidak ada sebuah gedung kesenian pun yang bisa dijadikan tempat pentas teater berbiaya murah. Maksudnya, semua gedung yang ada dan dibangun pemerintah atau pun milik desa, berornamen &#8220;style Bali&#8221; yang dipenuhi ukiran yang dalam pementasan tertentu kondisi itu sama sekali tidak dibutuhkan. ”Jika pun kami memaksakan diri menggunakan gedung-gedung tersebut untuk pentas teater, kami harus mengeluarkan biaya tambahan yang cukup banyak untuk menyiasati atau menutup ukiran-ukiran tersebut dengan berbagai cara,” tandasnya.<br />
”Saya pikir (konsep) ini memang dengan semestinya bisa berkembang atau dikembangkan. Bukankah kesenian-kesenian lain di Bali juga sudah melakukan hal semacam ini? Kalau tidak salah ingat, Almarhum Bli Rai Sulastra pernah menyelenggarakan pameran lukisan di rumahnya,” ujar Nanoq.<br />
Bagi Nanoq, tidak ada kelemahan yang berarti dari konsep atau pola pementasan rumahan ini. Justru keunggulannya yang lebih menonjol. Pertama-tama, tidak perlu sewa atau izin penggunaan gedung dari pihak-pihak tertentu, tidak perlu bayar ongkos kebersihan karena sehabis pentas seluruh crew dan penonton bisa langsung membersihkan rumah bersama-sama. <strong>abbas</strong></p>
<p>Rubrik Seni, Bali Tribun, 4 Februari 2012</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketutwardi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketutwardi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketutwardi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketutwardi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketutwardi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketutwardi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketutwardi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketutwardi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketutwardi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketutwardi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketutwardi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketutwardi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketutwardi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketutwardi.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=214&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketutwardi.wordpress.com/2012/02/04/karena-panggung-memakai-style-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/070a9464366c0349ef74fdfac129a49b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketut syahruwardi abbas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_putu-satriya-kusuma.jpg?w=101" medium="image">
			<media:title type="html">putu satriya kusuma</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_nanoq-da-kansas.jpg?w=126" medium="image">
			<media:title type="html">nanoq da kansas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teater Rumahan, Alternatif Pentas Murah</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com/2012/02/04/teater-rumahan-alternatif-pentas-murah/</link>
		<comments>http://ketutwardi.wordpress.com/2012/02/04/teater-rumahan-alternatif-pentas-murah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 03:55:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketutwardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketutwardi.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa kali terjadi: Dramawan Abu Bakar menjadikan rumah kediamannya di Jalan Sakura I, Denpasar, sebagai ”gedung pementasan.” Dengan penonton yang sangat terbatas, Abu selalu bisa ”mengendalikan” audience-nya. ”Kalau tidak menyukai pementasan ini, mohon dengan sangat agar keluar dengan diam-diam. Siapa tahu ada yang masih suka melanjutkan menonton.” Selalu begitu. Abu selalu mengucapkan kalimat itu sebelum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=210&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_212" class="wp-caption alignleft" style="width: 262px"><a href="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_abu-bakar1.jpg"><img class=" wp-image-212" title="Abu Bakar" src="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_abu-bakar1.jpg?w=252&h=189" alt="Abu Bakar" width="252" height="189" /></a><p class="wp-caption-text">Abu Bakar</p></div>
<p>Beberapa kali terjadi: Dramawan Abu Bakar menjadikan rumah kediamannya di Jalan Sakura I, Denpasar, sebagai ”gedung pementasan.” Dengan penonton yang sangat terbatas, Abu selalu bisa ”mengendalikan” audience-nya. ”Kalau tidak menyukai pementasan ini, mohon dengan sangat agar keluar dengan diam-diam. Siapa tahu ada yang masih suka melanjutkan menonton.” Selalu begitu. Abu selalu mengucapkan kalimat itu sebelum pementasannya dimulai. Ia tidak mau tidak dihargai. Ia tidak mau penonton ngobrol sendiri, sementara pementasan sedang berlangsung.<span id="more-210"></span></p>
<p>Abu berhak bersikap begitu karena ia bicara di rumahnya sendiri. Penonton adalah tamu-tamunya. Biasanya, ada suguhan kecil, kue dan kopi atau teh.</p>
<p>Inilah pementasan rumahan. Inilah teater rumahan. Tak perlu panggung besar. Tak perlu sibuk dengan setting. Teras bisa dijadikan panggung. Pemain bisa keluar masuk kamar, memanfaatkan pintu, lubang angin, dan kaleng-kaleng bekas sebagai properti. ”Untuk mendapatkan set teater yang kukehendaki sering aku terlibat dalam kerepotan teknis yang melelahkan. Mana lagi duit jadi barang langka di kantong. Yang celaka, set minimalis pun perlu kocek atawa pinjam sana-sini. Maka tiba-tiba sadar, <em>ngapain</em> aku tak pentas di rumah saja dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada? Kilah Abu kepada Bali Tribune. ”Toh dalam menggarap Kereta Kencana-nya Ionesco terjemahan Rendra yang absurd itu lekak-lekuk rumahku mau diajak bicara. Tinggal disiram <em>lighting</em>, jadi. Awal idenya hanya begitu,” tambahnya.</p>
<p>Teater rumahan seperti inilah yang bisa dilakukan Abu ketimbang terus berkeluh-kesah tentang kurang memadainya gedung pementasa di Bali. Beberapa saat lalu, kata Abu, pada acara diskusi Pameran Entitas Nurani II di Art Centre, lagi-lagi mencuat keluh-kesah bahwa Bali belum punya  gedung teater  memadai. Maka respons cepat sang Gubernur pun turun. Di pojok timur-utara kawasan Taman Budaya, di atas lahan seluas 20 are akan dibangun gedung teater yang konon akan ”memadai” untuk menampung  kelompok-kelompok sastra dan teater yang merasa terpinggirkan.</p>
<p>”Tapi aku tetap curiga, jika toh gedung keluh-kesah itu terwujud, tetap saja tidak ada jaminan bahwa kita bisa terhindar dalam kerepotan menggarap perangkat set,” kata Abu. ”Lagi pula set pentas ’Kereta Kencana’-ku  tak buruk ’kan? Upaya gampangan itu tiba-tiba dapat menjungkir-balikkan pikiran bahwa ‘gedung teater memadai sungguh diperlukan.’ Jika upaya ini bisa memangkas kerepotan kita, kita pun telah memiliki ratus-ribuan gedung-gedung teater super memadai  yang tersebar di sekitar kita, berupa bangunan-bangunan roboh, pojokan kampung, bawah pohon besar, pinggir kali, rompok pasar, bangunan tua, pasar, gang kampung, dan seterusnya,” ujar Abu. Tinggal bersihkan, pasang kursi, lakon/cerita adaptasi dengan situasi, jauh dari keramaian  mengganggu, siram <em>lighting</em>, jadilah. Bahkan, katanya, kadang kala bisa  memberi hasil yang lebih impresif. ”Berdasar respon teman-teman, bisa jadi pilihat set macam begini akan kucoba ulang di masa depan,” lanjutnya.</p>
<p>Apakah ini langkah baru? ”Tidak,” kata Abu. Penyair Ketut Yuliarsa mengabarkan, teater rumahan itu sudah ada di Spanyol. Dibuat oleh kelompok-kelompok Flaminggo Dancing, kelompok teater miskin yang tak mampu menyewa gedung pertunjukkan. Namun, lama kelamaan jadi tren, hingga pada titik tertentu, orang-orang kaya pun ”nanggap” agar teater rumahan itu dipentaskan di rumahnya.</p>
<p>Apakah Abu nyontek gaya Flamingo Dancing itu? “Taklah. Pantang bagiku nyontek. Bila kebetulan di sana udah ada, ya memang di luar tahuku,” kata Abu.</p>
<p>Tampaknya gaya rumahan itu berlanjut terus. Malam ini ”Kereta Kencana” akan dipentaskan lagi dengan gaya rumahan di Tabanan, tepatnya di di rumah penyair I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, Sabtu (4/2) malam ini. <strong>abbas</strong></p>
<p><em>Rubrik Seni, Bali Tribun, 4 Februari 2012</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketutwardi.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketutwardi.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketutwardi.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketutwardi.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketutwardi.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketutwardi.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketutwardi.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketutwardi.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketutwardi.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketutwardi.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketutwardi.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketutwardi.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketutwardi.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketutwardi.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=210&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketutwardi.wordpress.com/2012/02/04/teater-rumahan-alternatif-pentas-murah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/070a9464366c0349ef74fdfac129a49b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketut syahruwardi abbas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2012/02/1554-seni_abu-bakar1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Bakar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibu</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/12/21/ibu-2/</link>
		<comments>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/12/21/ibu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 23:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketutwardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketutwardi.wordpress.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan adalah “laki-laki yang tidak lengkap”. (Aristoteles) Ibu. Pada setiap kali panggilan itu kita beri tempat dalam pikiran, maka yang terbayang adalah gambaran sempurna Dewa Wishnu: memberi kita kesadaran tentang makna pertumbuhan, pemeliharaan, kasih-sayang … Tetapi, seperti selalu kita lihat, tak banyak orang yang bisa dengan baik mengapresiasi karya “dewa wishnu”. Dalam pandangan kita, manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=205&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2011/12/13021667871031347010.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-206" title="Mother Multitasking at Breakfast" src="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2011/12/13021667871031347010.jpg?w=300&h=221" alt="" width="300" height="221" /></a><em>Perempuan adalah “laki-laki yang tidak lengkap”. <strong>(Aristoteles)</strong></em></p>
<p><strong>Ibu.</strong> Pada setiap kali panggilan itu kita beri tempat dalam pikiran, maka yang terbayang adalah gambaran sempurna Dewa Wishnu: memberi kita kesadaran tentang makna pertumbuhan, pemeliharaan, kasih-sayang …</p>
<p>Tetapi, seperti selalu kita lihat, tak banyak orang yang bisa dengan baik mengapresiasi karya “dewa wishnu”. Dalam pandangan kita, manusia paling unggul adalah para pencipta, orang-orang yang mampu menghadirkan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada. Kita juga selalu “mengagumi” kekuatan perusak: bom, senjata, dan kekuasaan yang cenderung jadi bandit. Itulah bagian yang secara turun-temurun dianggap sebagai “wilayah laki-laki”. Proses pemeliharaan, kasih-sayang, penumbuhan, dan “maintenance” sebagai “wilayah perempuan” adalah kerja kaum lemah: para pembersih kaca, tukang sapu jalanan, dan para petani.<span id="more-205"></span></p>
<p><strong>Ibu.</strong> Pada setiap kali kata itu kita beri tempat di hati, maka yang terasa adalah cinta. Cinta yang memberi air susu, cinta yang menumbuhkan kecerdasan dalam otak kita, cinta yang kelak menjadikan kita seorang pencipta, pemelihara, atau perusak. Cinta yang jarang kita hargai hanya karena kebetulan ia tidak berwujud nyata seperti batu yang disusun menjadi bangunan. Tidak juga mendatangkan kekaguman karena ia tidak nyata seperti bom yang mampu menghancurkan sebuah kota beserta seluruh isinya.</p>
<p>Memang sebatas itulah “kebudayaan” mewariskan pemahaman kepada kita. Bahkan seorang Aristoteles pun baranggapan bahwa perempuan adalah “laki-laki yang tidak lengkap”. Wanita, kata tokoh pemikir Eropa itu, kurang bisa “mengerami” atau “memasak” darah yang dikeluarkan pada masa haidnya ke taraf yang lebih sempurna menjadi air mani. Karena itu, katanya, perempuan tidak menyumbangkan apa-apa terhadap kelahiran seorang bayi kecuali hanya menyediakan selongsong dan memberi makan untuk pertumbuhannya. Benih dari janin itu harus datang dari laki-laki. Wajarlah bila kemudian Aristoteles beranggapan bahwa sangatlah layak lelaki dewasa menguasai budak-budak, anak-anak, dan perempuan. Laki-laki menguasai wanita karena jiwa wanita memang tidak sempurna, katanya.</p>
<p>Hebatnya lagi, kata family dalam bahasa Inggris sesungguhnya berasal dari kata famulus yang berarti budak domestik, sedangkan familia berarti sejumlah budak yang dimiliki oleh seorang laki-laki dewasa, termasuk di dalamnya istri dan anak-anaknya.</p>
<p>Kini kita berada dalam dunia yang sangat mengagungkan penciptaan dan penghancuran. Penciptaan, katanya, tak akan pernah ada kalau proses penghancuran tidak terjadi. Proses penghancuran itu adalah kerja laki-laki. Dan penciptaan pun, seperti diisyaratkan oleh Aristoteles, hanya mungkin dilakukan oleh laki-laki. Baiklah. Tapi kenapa kita tidak bisa memberi penghargaan besar bagi proses penumbuhan dan pemeliharaan? Padi tidak akan pernah memberi kita beras kalau proses penumbuhan dan pemeliharaan itu tidak ada.</p>
<p>Dunia kita, kini, memang dunia para lelaki. Segala hal yang dianggap menjadi tugas laki-laki adalah tugas utama. Penciptaan dan proses perusakan yang lebih berkesan maskulin menjadi hal yang jauh lebih diagungkan ketimbang proses penumbuhan dan pemeliharaan: tugas Dewa Wishnu.</p>
<p>Dan kini, dunia maskulin itu diperebutkan. Entah siapa yang mulai. Entah siapa yang pertama kali menorehkan garis dalam pemisahan tugas berdasarkan gender. Tiba-tiba saja kita dihadapkan dengannya sejak pertama kali kita bisa memandang matahari. Lalu, kebodohan pun berlanjut: ada yang bergulat dalam perjuangan persamaan gender. Semua berebut di “wilayah maskulin” tadi. Dan menjadi tangan kanan Dewa Wishnu pun dianggap bukan kerja, bukan tugas, dan kesia-siaan.</p>
<p>Akan tiba saatnya nanti kita semua rindu pada sosok ibu: kelembutan yang menumbuhkan dan memeliharakan. Akan tiba saatnya kita nanti akan menciptakan robot-robot bernama “Ibu” karena setiap kita berebut di wilayah penciptaan dan perusakan, wilayah yang pernah dianggap “milik” lelaki. Padahal, sungguh, sosok ibu yang sesungguhnya pastilah bukan sekadar sosok makhluk yang “kebetulan” diberi rahim dan air susu yang tidak pernah kering. Sosok “ibu” adalah sosok yang mampu mengubah daun kering menjadi pupuk dan darinya tersemai aneka tumbuhan dan kehidupan. Sosok “ibu” adalah kita, laki dan perempuan, yang mampu membangun rasa percaya diri pada semua anak kita.<strong> </strong></p>
<p><strong>Selamat Hari Ibu.</strong></p>
<p><strong>Kopi Pagi, Bali Tribun, 22 Desember 2011 </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketutwardi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketutwardi.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketutwardi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketutwardi.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketutwardi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketutwardi.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketutwardi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketutwardi.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketutwardi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketutwardi.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketutwardi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketutwardi.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketutwardi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketutwardi.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=205&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/12/21/ibu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/070a9464366c0349ef74fdfac129a49b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketut syahruwardi abbas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2011/12/13021667871031347010.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Mother Multitasking at Breakfast</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kami Khawatir, Bapak Presiden</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/12/12/kami-khawatir-bapak-presiden/</link>
		<comments>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/12/12/kami-khawatir-bapak-presiden/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 01:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketutwardi</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://ketutwardi.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[SAYA bertanya-tanya, apa yang kini ada di pikiran Yang Terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Dr. Susilo Bambang Yudhoyono? Apakah beliau mendengar prihal kematian Sondang Hutagalung yang membakar diri di depan istana negara yang nyaris menjadi menara gading itu? Apakah beliau sempat mendengar teriakan Sondang, ”Hukum Mati Koruptor” sebelum membakar diri? Apa kabar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=202&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2011/12/sondang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-203" title="sondang" src="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2011/12/sondang.jpg?w=300&h=284" alt="" width="300" height="284" /></a><strong>SAYA</strong> bertanya-tanya, apa yang kini ada di pikiran Yang Terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Dr. Susilo Bambang Yudhoyono? Apakah beliau mendengar prihal kematian Sondang Hutagalung yang membakar diri di depan istana negara yang nyaris menjadi menara gading itu? Apakah beliau sempat mendengar teriakan Sondang, ”Hukum Mati Koruptor” sebelum membakar diri?<span id="more-202"></span></p>
<p>Apa kabar Yang Terhormat Bapak Presiden RI yang dipilih secara langsung oleh rakyat dengan perolehan suara 60%? Apakah Bapak mendengar cerita tentang Wa Ode Nurhayati yang tiba-tiba menjadi tersangka setelah dia mengungkapkan kecurangan anggota Banggar DPR-RI? Apakah Bapak Presiden Yang Terhormat tidak risi mendengar betapa banyak angota partai Bapak yang terus-menerus disebut-sebut terlibat dalam berbagai korupsi? Jujur saja, Bapak Presiden, kini saya menjadi jauh lebih percaya pada tudingan Nazaruddin ketimbang bantahan-bantahan yang dilontarkan anggota Partai Demokrat yang diseret-seret Nazar.</p>
<p>Negeri ini sudah berada di ambang kehancuran, Bapak Presiden. Sangat sedikit yang patut dibanggakan dari kegiatan pemerintahan di negeri ini, kecuali hal-hal kecil yang diraih anak-anak negeri di antara serpihan-serpihan kehancuran. Masih ada, memang, orang yang bekerja untuk kemanusiaan, untuk kebudayaan, untuk kehidupan sosial, untuk ilmu pengetahuan. Tapi mereka bekerja tanpa benar-benar mendapat perhatian negara, tanpa pernah Anda lirik, Bapak Presiden. Akibatnya, muncul orang semacam Sondang Hutagalung yang berteriak dan meminta perhatian Anda dengan cara membakar diri.</p>
<p>Tahukah Anda, Bapak Presiden Yang Terhormat, bahwa cara itu adalah cara orang yang putus asa? Itulah cara rakyat yang merasa tidak menemukan lagi saluran ekspresi, tidak memperoleh penyalur aspirasi yang cukup efektif, sementara DPR sibuk dengan kepentingannya sendiri, sibuk dengan kepentingan partai, sibuk menggelembungkan rekening pribadi masing-masing, dan sibuk memilih warna Bentley yang sesuai untuk dibawa melenggang di jalan Jakarta yang macet.</p>
<p>Ini negeri hampir tercabik-cabik, Bapak Presiden. Orang-orang gerah dengan pameran kekuasaan oleh orang-orang bebal di Jakarta yang mengaku jadi pengurus partai atau menjadi wakil rakyat atau menjadi pengambil keputusan di pemerintahan. Rakyat Papua gerah dengan korupsi yang kian meluas. Rakyat Kalimantan gerah dengan korupsi yang merajalela. Rakyat Sulwesi, Maluku, Sumatra, NTT, Aceh, Yogya, &#8230; dan hampir semua rakyat di negeri ini gerah dengan persoalan-persoalan yang tak pernah terselesaikan di negeri ini. Rakyat muak dengan omong kosong sepanjang hari, sepanjang tahun, sebagai akibat dari politik pencitraan. Rakyat muak.</p>
<p>Hanya saja kami, rakyat, masih sedikit memiliki kesabaran dan cinta. Kami masih bersabar menunggu keajaiban. Kami masih mencintai negeri ini. Karena itu kami tidak ingin mencabik-cabiknya dengan revolusi.</p>
<p>Tapi berapa lama kesabaran itu bertahan? Berapa lama rasa cinta itu bisa menjadi alasan untuk menahan kegeraman dan kegerahan berkepanjangan akibat amburadulnya pemerintahan di negeri ini?</p>
<p>Ingatlah, Bapak Presiden, Indonesia adalah sebuah bangsa yang dibangun di atas serpihan-serpihan beragam suku-bangsa yang diikat ”hanya” oleh sebuah komitmen. Jika komitmen itu terus dicederai, terus dikhianati, terus diberaki oleh para koruptor dan petualang-petualang politik, sangatlah sulit mempertahankan komitmen bersama tadi untuk merekatkan mozaik Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan kebudayaan itu.</p>
<p>Kami sangat khawatir, Bapak Presiden. Sangat khawatir tidak kuasa mempertahankan kesabara. Khawatir tidak mampu lagi mempertahankan cinta kami. Khawatir tidak menemukan lagi alasan untuk mencintai Indonesia.</p>
<p><em>Kopi Pagi, Harian Bali Tribun, 12 Desember 2011</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketutwardi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketutwardi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketutwardi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketutwardi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketutwardi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketutwardi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketutwardi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketutwardi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketutwardi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketutwardi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketutwardi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketutwardi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketutwardi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketutwardi.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=202&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/12/12/kami-khawatir-bapak-presiden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/070a9464366c0349ef74fdfac129a49b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketut syahruwardi abbas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2011/12/sondang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sondang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Poliandri Mosuo</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/12/09/poliandri-mosuo/</link>
		<comments>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/12/09/poliandri-mosuo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 03:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketutwardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketutwardi.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[DALAM sebuah perjalanan ke China beberapa tahun lalu, seorang pemandu wisata menawari saya sebuah ”petualangan kultural” ke kawasan Danau Lugu yang berada di perbatasan China dengan Tibet. ”Sangat indah. Danau itu berada di ketinggian sekitar 2.700 meter di atas permukaan laut,” tutur si pemandu wisata dengan Bahasa Inggris yang membuat kepala saya pening. Ia pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=196&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2011/12/perempuan-mosuo.jpg"><img class="alignleft  wp-image-199" title="perempuan mosuo" src="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2011/12/perempuan-mosuo.jpg?w=300&h=221" alt="" width="300" height="221" /></a><strong>DALAM</strong> sebuah perjalanan ke China beberapa tahun lalu, seorang pemandu wisata menawari saya sebuah ”petualangan kultural” ke kawasan Danau Lugu yang berada di perbatasan China dengan Tibet. ”Sangat indah. Danau itu berada di ketinggian sekitar 2.700 meter di atas permukaan laut,” tutur si pemandu wisata dengan Bahasa Inggris yang membuat kepala saya pening. Ia pun membisikkan sesuatu ke telinga saya. ”Siapa tahu Anda terpilih,” katanya.</p>
<p>Terpilih jadi apa?<span id="more-196"></span></p>
<p>Ia pun bercerita tentang suku Mosuo yang hingga kini tetap kukuh berpegang pada tradisi matriarchat dan sekaligus menjadi pelaku poliandri yang sah dan legal. O la la &#8230; tentu saja cerita si pemandu wisata itu sangat tidak patut dipercaya. Ia melebih-lebihkan di banyak bagian untuk menarik minat wisatawan.</p>
<p>Tapi, inilah cerita yang sebenarnya.</p>
<p>Suku terasing Mosuo tinggal di sekitar wilayah Danau Lugu yang sangat indah, berada di antara belantara lebat dan pegunungan. Masyarakatnya masih memegang teguh adat turun-temurun selama ribuan tahun. Mereka menganut salah satu sekte agama Budha yang menganggap Lama sebagai pimpinan tertinggi. Peran Lama sangat penting bagi seluruh prikehidupan mereka.</p>
<p>Pada suku Mosuo, perempuan memegang peran sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Perempuanlah yang berperan sebagai kepala keluarga. Perempuanlah yang mengatur segala tetek-bengek kehidupan keluarga yang biasanya terdiri dari 10 hingga 30 anggota.</p>
<p>Perempuan suku Mosuo yang bertindak selaku kepala keluarga sangat dihormati. Seluruh anggota keluarga, tak terkecuali, laki dan perempuan, tunduk pada setiap keputusan sang kepala keluarga. Perempuan inilah yang bertanggung jawab atas seluruh anggota keluarga.</p>
<p>Perempuan suku Mosuo yang telah berusia 13 tahun segera saja ditahbiskan sebagai perempuan dewasa melalui sebuah upacara khas. Malam harinya ia bebas memilih lelaki mana saja yang disukainya untuk datang ke bilik rumahnya, memadu cinta di sana. Hanya malam hari si ”lelaki pilihan” boleh tinggal di bilik sang gadis. Keesokan harinya, pagi-pagi benar, lelaki itu harus sudah pergi. Ia boleh datang lagi malam selanjutnya jika si gadis masih menginginkannya. Untuk itu, si gadis akan memberi isyarat dengan membuka pintu. Jika pintu si gadis tertutup, itu pertanda lelaki tadi tak diinginkan lagi. Sangat mungkin si gadis telah berpindah ke lain hati.</p>
<p>Begitulah mereka melewatkan ”perkawinan” tanpa pernikahan. Pihak perempuan yang menentukan ia menerima siapa dan menolak siapa. Perempuan pula yang memutuskan kapan hubungan dimulai dan kapan diakhiri. Jika hubungan itu menghasilkan anak, maka si anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab si perempuan. Tak ada hak sedikit pun pada laki-laki. Lagi pula, yang tahu siapa ayah si anak kan hanya si perempuan. Hanya ia yang tahu dengan siapa saja ia melakukan hubungan.</p>
<p>Inilah yang menyebabkan suku yang kini berjumlah sekitar 50.000 orang itu disebut sebagai pelaku poliandri. Karena kekuasaan begitu besar ada di tangan perempuan, maka kawasan tempat tinggal mereka sering pula dipanggil dengan sebutan Kawasan Danau Perempuan.</p>
<p>Kini wisatawan dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, doyan bertandang ke kawasan pegunungan sejuk itu. Tentu saja banyak wisatawan lelaki yang otaknya dipenuhi angan-angan menjadi ”lelaki pilihan” yang dibukakan pintu oleh gadis-gadis Mosuo. ”Saya banyak mengantarkan tamu dari Jakarta ke sana. Tak sedikit yang rela tinggal tiga-empat hari dengan harapan bisa berkenalan dengan gadis setempat dan dipilih menjadi pendamping sang gadis,” celoteh pemandu wisata yang berjanji menguruskan segala keperluan perjalanan cukup jauh dari Guangzhou ke Danau Lugu.</p>
<p>Hubungan tanpa ikatan pada suku ini dikenal dengan istilah Axia. Inilah perkawinan bebas tanpa ikatan. Kaum lelaki Mosuo menyebut para perempuan mereka <em>Axia</em> yang berarti ”teman intim” dan para perempuan menyebut kaum lelaki atau kekasih sebagai <em>Azhu</em>. Tidak ada ikatan apa pun, semua bebas merdeka. Hubungan lebih bersifat mutual dan kasih sayang. Kendali sepenuhnya ada di tangan kaum perempuan.</p>
<p>Konon industri pariwisata dengan sangat tidak tahu malu ”menjual” tradisi ini kepada calon wisatawan yang acap kali ”terbakar” oleh keinginan berpetualang dalam tradisi unik itu. Tentu saja sangatlah tidak mudah mendapatkan kesempatan mengisi bilik gadis Mosuo. Bahkan hampir tak mungkin. Sebab gadis-gadis Mosuo hanya akan memilih lelaki yang telah mereka kenal sejak kecil.</p>
<p>Tapi, aha, industri pariwisata tentu tak kehilangan akal. Mereka pun menciptakan gadis-gadis Mosuo gadungan yang siap menerima kehadiran wisatawan tolol yang telah terbakar syahwat ke dalam pelukan tradisi palsu.</p>
<p><em>Kopi Pagi, Harian Bali Tribun, 9 Desember 2011</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketutwardi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketutwardi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketutwardi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketutwardi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketutwardi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketutwardi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketutwardi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketutwardi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketutwardi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketutwardi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketutwardi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketutwardi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketutwardi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketutwardi.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=196&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/12/09/poliandri-mosuo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/070a9464366c0349ef74fdfac129a49b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketut syahruwardi abbas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ketutwardi.files.wordpress.com/2011/12/perempuan-mosuo.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">perempuan mosuo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bhisama</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/bhisama/</link>
		<comments>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/bhisama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 02:11:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketutwardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketutwardi.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[PARA sulinggih, budayawan, dosen, mahasiswa, dan beberapa komponen masyarakat Bali yang tergabung dalam Tim Penegak Bhisama secara tegas menyatakan menolak usulan untuk merevisi Peraturan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali. Di hadapan Komisi I DPRD Bali, Tim Penegak Bhisama menyayangkan munculnya usulan revisi Perda Nomor 16 Tahun 2009 Tentang RTRW yang diajukan oleh para bupati/wali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=192&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PARA sulinggih, budayawan, dosen, mahasiswa, dan beberapa komponen masyarakat Bali yang tergabung dalam Tim Penegak Bhisama secara tegas menyatakan menolak usulan untuk merevisi Peraturan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali. Di hadapan Komisi I DPRD Bali, Tim Penegak Bhisama menyayangkan munculnya usulan revisi Perda Nomor 16 Tahun 2009 Tentang RTRW yang diajukan oleh para bupati/wali kota se-Bali itu. Semestinya, kata mereka, tidak perlu ada revisi lagi. Sebab, sebelum disahkan, perda tersebut sudah melewati kajian mendalam. Baik menyangkut tata ruang maupun lingkungan Bali secara menyeluruh. &#8220;Dalam perda itu sudah semuanya diatur. Baik pembangunan kawasan pendukung wisata maupun kawasan suci. Jadi apa lagi yang harus direvisi?&#8221; ucap Putu Wirata Dwikora, Sekretaris Tim, usai bertatap muka dengan Komisi I DPRD Bali pekan lalu.<span id="more-192"></span></p>
<p>Kalau pun ada keinginan untuk melakukan peninjauan atau merevisi, menurut Wirata, hendaknya dilakukan setelah perda itu berjalan lima tahun. Kini Perda RTRW itu baru berjalan tiga tahun.<br />
&#8220;Pemerintah, dalam hal ini Gubernur Bali Made Mangku Pastika, harus mampu mengamankan dan menjalankan perda tersebut. Karena sebelum Perda No.16/2009 ditetapkan para bupati/wali telah ikut serta memberikan masukan dan dilibatkan dalam sosialisasi,&#8221; ucapnya sembari mempertanyakan, kenapa belakangan ini justru para bupati/wali kota yang ramai-ramai ingin melakukan revisi. &#8220;Saat sosialisasi maupun untuk memberikan masukan perda itu semuanya sudah dilibatkan. Ada apa justru akhir-akhir ini muncul keinginan untuk melakukan revisi?&#8221; tanya Wirata Dwikora.</p>
<p>Pertanyaan sama menyebar di hampir semua benak orang yang hadir dalam dengar pendapat di Gedung DPRD Bali itu. Secara sangat terbuka mereka membeberkan betapa para bupati/walikota se-Bali telah dicekoki oleh kepentingan investor. Maka tak terhindarkan lagi, rapat dengar pendapat itu pun dipenuhi aroma keprihatinan dan sedikit emosional. ”Sudah sekian kali para bupati mengadakan pertemuan dengan para investor, tapi tak sekalipun mereka bertemu dengan kami para sulinggih dan budayawan,” ungkap seorang sulinggih.</p>
<p>Dalam kondisi seperti sekarang, di mana persoalan RTRW Bali menjadi begitu krusial, di mana kasus-kasus pelanggaran RTRW yang dilakukan para investor begitu sering terdengar, di mana perizinan pembangunan kawasan wisata begitu mudah dikeluarkan oleh para bupati tanpa terlalu memedulikan dampak-dampak lingkungan dan sosial, maka usulah revisi Perda RTRW Bali (yang justru datang dari para bupati/walikota) itu tentu sangat mudah menyulut kecurigaan: Pasti ada tangan investor bermain di balik usulan kontroversial ini.</p>
<p>Memang ada berbagai kepentingan investor yang berbenturan dengan ketetapan RTRW Bali yang banyak mengakomodir bhisama (semacam fatwa) dari Parisada Hindu Dharma (PHDI) tentang kawasan suci. Sebutlah, misalnya, tentang ketinggian gedung yang tidak boleh melebihi ketinggian pohon kelapa. Bagi investor, ketentuan ini menyebabkan mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk membebaskan lahan yang lebih luas untuk membangun hotel dengan ratusan kamar. Begitu juga dengan kawasan-kawasan suci yang tidak boleh dijamah untuk kepentingan di luar agama dan adat. Padahal kawasan-kawasan itu sebagian besar merupakan kawasan yang sangat ideal untuk dikembangkan sebagai kawasan pariwisata.</p>
<p>Wajar kalau kemudian muncul tarik-ulur antara pemerintah sebagai lembaga yang berkewajiban menjaga Bali dan investor sebagai pihak yang menginginkan hal terbaik yang bisa diperoleh dari uang yang ditanamkannya di Bali. Wajar kalau kemudian para investor berupaya sekuat tenaga untuk mencari ruang bagi kepentingan investasinya, termasuk berusaha mendekati para pemangku kekuasaan untuk mengubah aturan-aturan yang mereka anggap kurang menguntungkan. Mereka tentu tidak terlalu merasa berkepentingan dengan urusan bhisama para pandhita yang menjadi hambatan dalam meraih keuntungan sebesar-besarnya.</p>
<p>Di sisi lain, para bupati/walikota memiliki kepentingan meraup dana sebanyak mungkin melalui perizinan dan perpajakan yang bisa mereka peroleh dengan memberikan ruang bagi pembangunan berbagai fasilitas yang diusahakan oleh para investor. Ada juga kecurigaan-kecurigaan yang beredar yang menyatakan bahwa di balik derasnya perizinan yang begitu mudah keluar dari meja para bupati dan jajarannya, ada permainan dana besar yang menggelembungkan saku pribadi oknum tertentu.</p>
<p>Kepentingan. Itulah persoalan kita di Bali. Begitu banyak kepentingan yang simpang-siur yang tidak selalu sejalan dalam pembangunan di Bali. Begitu pulalah yang diisyaratkan oleh filosofi <em>rwa bhinedha</em> yang diyakini masyarakat Bali: selalu ada yang bergerak di kegelapan, dan selalu juga ada yang mencoba berjaga di kecerahan. Di sinilah nurani mestinya berperan.</p>
<p>Dan untuk urusan RTRW kita memang harus berani berkata ”Tidak” untuk hal-hal yang akan menghancurkan Bali. Kalau menjadi ”kaya” harus dilalui dengan merusak tatanan dan lingkungan Bali, maka rasanya lebih baik kita memilih jadi masyarakat yang sederhana saja. Kita mesti berani berkata ”Stop pembangunan hotel, villa, restoran, dan segala jenis sarana kepariwisataan, jika itu menjadikan ruang Bali amburadul dan kesucian tanah Bali tercemar.”</p>
<p>Jika para pandhita telah marah dan berdo’a dengan nada keras seperti yang diucapkan pada pertemuan di DPRD Bali pekan lalu itu, maka semestinyalah kita merenung. Melanggar bhisama para pandhita itu bisa mendatangkan dua sanksi: <em>skala</em> dan <em>niskala</em>. Kerusakan diri dan alam sangat besar kemungkinannya akan terjadi akibat sanksi <em>niskala</em>. Ini jauh lebih mengerikan ketimbang sekadar sanksi yang dihasilkan sistem peradilan yang sangat mungkin bisa disesatkan.</p>
<p>Mari berjaga.</p>
<p><em>Kopi Pagi, Harian Bali Tribun, 28 November 2011</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketutwardi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketutwardi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketutwardi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketutwardi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketutwardi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketutwardi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketutwardi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketutwardi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketutwardi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketutwardi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketutwardi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketutwardi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketutwardi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketutwardi.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=192&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/bhisama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/070a9464366c0349ef74fdfac129a49b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketut syahruwardi abbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ganti Rugi</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/ganti-rugi/</link>
		<comments>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/ganti-rugi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 02:09:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketutwardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketutwardi.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[DI BULELENG, hektaran tanah rakyat digerus, dijadikan proyek pembangunan bendungan. Tentu saja harus ada ganti rugi. Tentu saja pemilik tanah harus mendapatkan kompensasi atas tanah yang ”diambil” untuk kepentingan proyek itu. Harga pun telah disepakati. Demikian juga dengan jadwal pembayaran, telah disepakati pula. Tapi apa lacur, ditunggu berbulan-bulan, dana pembelian tanah milik warga Dusun Sari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=190&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DI BULELENG, hektaran tanah rakyat digerus, dijadikan proyek pembangunan bendungan. Tentu saja harus ada ganti rugi. Tentu saja pemilik tanah harus mendapatkan kompensasi atas tanah yang ”diambil” untuk kepentingan proyek itu. Harga pun telah disepakati. Demikian juga dengan jadwal pembayaran, telah disepakati pula.<span id="more-190"></span></p>
<p>Tapi apa lacur, ditunggu berbulan-bulan, dana pembelian tanah milik warga Dusun Sari Mekar, Desa Ringdikit, Kecamatan Seririt itu tak kunjung turun. Hanya sebagian dari seluruh biaya pembebasan tanah, memang. Sebab, sebagian (di desa berbeda) telah dilunasi. Rakyat pun marah. Bukan semata karena keterlambatan berbulan, tetapi juga karena mereka merasa dibedakan. ”Kenapa di kawasan lain sudah dilunasi sementara kami harus menunggu berbulan-bulan?” tanya warga.</p>
<p>Karena kesal, warga pun mengancam bakal menghentikan secara paksa proyek raksasa yang dibiayai APBN, APBD Bali, dan APBD Buleleng itu. Entah dengan cara apa mereka ”menghentikan paksa” proyek yang direncanakan rampung pada tahun 2014 itu. Tapi pelaksana proyek, PT Nindya Brantas KSO mengaku khawatir juga mendengar ancaman itu. ”Kami tidak tahu menahu soal pembayaran pembebasan tanah. Tapi kalau benar masyarakat melaksanakan niatnya, jawal penyelesaian proyek ini bisa molor,” ungkap Komang Gede Indira, Humas PT Nindya Brantas.</p>
<p>Sekali lagi, ini pelajaran sangat penting bagi pengambil kebijakan di daerah. Janganlah rakyat terus saja dianggap bodoh, terus saja diperlakukan seperti ”panjak” di masa raja-raja masa lalu. Kini rakyat punya hak berdaulat. Kini para bupati, gubernur, presiden, dan seluruh jajarannyalah yang menjadi ”panjak” rakyat. Mereka dipilih dan digaji oleh rakyat. Bumi beserta seluruh isinya adalah milik rakyat (negara). Para petinggi hanya berfungsi sebagai pengelola, sebagai manajer. Tidak lebih, tidak kurang.</p>
<p>Karena itu, rakyat tidak boleh diperlakukan seenak perut penguasa seperti raja-raja memperlakukan rakyat. Tak boleh, atas nama kehati-hatian dan atas nama administrasi, kemudian bupati dan jajarannya merasa berhak menunda-nunda pembayaran ganti rugi atau upah atau apa saja yang menjadi hak rakyat.</p>
<p>Rakyat adalah air yang mengalir menyejukkan jika ia diperlakukan baik, jika ia diberi saluran yang benar. Jangan pernah memperlakukan air tidak pada azas kepatutan, tidak pada azas kebenaran, tidak pada azas kealamiahan. Jangan coba-coba membendung arus air, sebab suatu saat ia akan menerjang dengan dahsyat, menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya.</p>
<p>Terlalu banyak contoh yang bisa kita pelajari dari sejarah. Terlalu sering Bali dilanda ketidaknyamanan karena rakyat diperlakukan tidak sepatutnya. Terlalu sering rakyat menjadi air bah dan menerjang membabi buta karena putus asa, karena mereka merasa seluruh lorong telah mampat, karena mereka tidak menemukan cara untuk bergerak ke depan.</p>
<p>Kita paham belaka makna kehati-hatian pengelolaan keuangan. Tapi, bukankah semua hal (seharusnya) sudah tertata, sudah tersistem, dan (sekali lagi, seharusnya) aplikatif? Bukanlah seharusnya sebuah sistem dibangun agar juga memudahkan semua pihak melaksanakan seluruh kebijakan dengan efisien (juga cepat)? Bukankah seharusnya sistem pengadministrasian kegiatan pemerintahan berpihak bagi kepentingan umum? Bukankah seharusnya kehati-hatian menjadi unsur yang secara otomatis terlaksana dalam sebuah sistem yang baik?</p>
<p>Untuk birokrasi pemerintahan di negeri ini, terlu sering kita mendengar sindiran ”Jika bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?”</p>
<p>Jadi, apa pun alasannya, membuat rakyat kesal hingga mengancam akan menghentikan paksa sebuah proyek yang sangat vital seperti pembangunan Bendungan Titab sangatlah tidak bijaksana. Tanah rakyat telah diambil, maka ganti rugi harus segera dilaksanakan sesuai perjanjian semula. Jika tidak, jika rakyat benar-benar melaksanakan niatnya untuk menghentikan paksa proyek penting itu, maka kita akan bersedih berkali-kali. Sedih karena rakyat tidak didengar oleh pemimpin yang dipilih dan digaji oleh rakyat, sedih karena ratusan orang dirugikan, sedih karena ternyata birokrasi kita masih saja lamban dan senang berlamban-lamban, sedih karena ternyata benar kata orang: rakyat hanya diperlukan saat pemilu(kada) saja, sedih karena &#8230;.</p>
<p><em>Kopi Pagi, Bali Tribun, 25 November 2011</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketutwardi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketutwardi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketutwardi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketutwardi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketutwardi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketutwardi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketutwardi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketutwardi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketutwardi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketutwardi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketutwardi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketutwardi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketutwardi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketutwardi.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=190&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/ganti-rugi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/070a9464366c0349ef74fdfac129a49b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketut syahruwardi abbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalah (lagi)</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/kalah-lagi/</link>
		<comments>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/kalah-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 02:06:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketutwardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketutwardi.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[KURNIA Miega menyergap bola yang meluncur deras. Ia berhasil menepis tendangan penalti yang dilakukan Kapten Tim Malaysia, Bakhtiar Baddrol. Sayang bola itu tak tertangkap dan melenggang memasuki gawang. Indonesia kalah. Tim merah-putih harus keluar lapangan dengan wajah murung. Sekitar 80 ribu penonton di Gelora Bung Karno pun pulang dengan muram. Jutaan penonton lain yang menyaksikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=188&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KURNIA Miega menyergap bola yang meluncur deras. Ia berhasil menepis tendangan penalti yang dilakukan Kapten Tim Malaysia, Bakhtiar Baddrol. Sayang bola itu tak tertangkap dan melenggang memasuki gawang. Indonesia kalah. Tim merah-putih harus keluar lapangan dengan wajah murung. Sekitar 80 ribu penonton di Gelora Bung Karno pun pulang dengan muram. Jutaan penonton lain yang menyaksikan pertandingan penuh emosi itu melalui televisi pun larut dalam kepedihan.<span id="more-188"></span></p>
<p>Apa boleh buat. Pedih memang. Penantian panjang untuk meraih gelar juara di ajang SEA Games kembali terkubur. Tapi untuk kali ini kekalahan Tim Merah Putih tidak membuat kita berduka. Kita menerima kekalahan itu dengan sedih. Memang. Tapi permainan Egi Melgiansyah dan kawan-kawan sangatlah membuat kita bungah. Mereka tampil luar biasa. Trengginas. &#8220;Kita sudah mencapai hasil puncak. Kami harus syukuri dan terima. Aku bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah diberikan kepada kami pada babak pertama, kedua, hingga perpanjangan waktu,” ungkap Titus Bonai (Tibo) kepada wartawan seusai pertandingan. Ia mengucapkan selamat kepada tim juara dan menerima kekalahan.</p>
<p>Ada banyak cara untuk melihat kekalahan seperti ini. Kita bisa saja melihatnya sebagai kegagalan berulang setelah lebih dari 20 tahun bangsa ini tidak merasakan kegembiraan sebagai juara di ajang resmi persepakbolaan. Bisa saja kita menganggapnya sebagai semacam ”kutukan” dengan segala latar belakang yang bisa kita susun berderet-deret, mulai dari kisruh PSSI, ketidakprofesionalan pemain, kecenderungan untuk tidak disiplin, atau tidak adanya mental juara. Kita juga bisa melihat kekalahan ini sebagai sekadar kejadian biasa, sama saja dengan ratusan peristiwa yang acap kita lihat di televisi. Kekalahan ini tidak beda dengan cerita tentang peradilan yang tidak becus, politik korup, dan mental maling di hampir seluruh jajaran pengelola negara. Semua itu hanyalah rangkaian peristiwa-peristiwa besar yang lewat begitu saja dan terlupakan: Kita tidak belajar apa-apa dari sana. Terlalu banyak kebusukan, terlalu banyak keteledoran, terlalu banyak kegagalan, terlalu banyak kekecewaan, hingga kita terbiasa dan menganggapnya biasa-biasa saja.</p>
<p>Tapi kita juga bisa melihat sisi lain yang lebih bercahaya, yang lebih mencerahkan. Kekalahan Tim U-23 dalam ajang SEA Games pastilah memedihkan. Benar. Tapi kita bisa melihat begitu banyak hal positif pada tim ini. Dalam pandangan saya, inilah tim terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dalam kurun 20 tahun terakhir. Inilah tim yang membuat kita sangat betah berlama-lama di depan televisi menyaksikan kenyinyiran para komentator hanya karena sedang menunggu Tibo dkk akan berlaga. Inilah tim yang membuat kita lebih bisa menegakkan kepala sembari berkata, ”Ada masa depan di sini.”</p>
<p>Masa depan itu jelas terlihat pada Tim U-23 kita. Masa depan persepakbolaan kita nyata tampak pada Kurnia Meiga, Gunawan Dwi Cahyo, Abdul Rahman, Hasim Kipuw, Egi Melgiansyah, Oktovianus Maniani, Andik Vermansyah, Titus Bonai, Patrich Wanggai, dll. Masa depan sepak bola Indonesia juga akan sangat menjanjikan di tangan <em>Coach</em> Rahmad Darmawan. Yang tak kalah penting, masa depan persepakbolaan Indonesia sangat ditentukan oleh dukungan yang begitu besar dari pecinta sepak bola tanah air. Kita punya pelatih dan pemain hebat. Kita punya suporter luar biasa.</p>
<p>Lalu apa lagi?</p>
<p>Ini saatnya pengurus PSSI mawas diri. Timnas U-23 seperti memberi teguran keras kepada PSSI. Mereka seperti berkata, ”Tanpa sentuhan tangan PSSI pun kami bisa memberikan sesuatu kepada persepakbolaan nasional.”</p>
<p>Maka, kini, tugas PSSI adalah ”diam” saja. Tak perlu terlalu banyak campur tangan. Biarkan saja RD membangun tim ini dengan kebebasan penuh. Jangan ambil tindakan aneh-aneh lagi. Jangan sok tahu, menganggap RD gagal lalu menggantikannya dengan pelatih Tarkam dari Belanda atau Jerman atau dari aman pun. Sokong RD dengan memenuhi semua kebutuhannya untuk membangun tim yang baik.</p>
<p>Pengalaman mengajarkan, campur tangan PSSI selalu menghasilkan kebobrokan. Timnas senior adalah contoh paling jelas. Kompetisi Liga Indonesia adalah contoh lain. Karena itu, kini saatnya PSSI duduk manis saja, biarkan RD bekerja dengan tenang.</p>
<p>Sekali lagi, satu-satunya tugas PSSI adalah DIAM.</p>
<p>Kopi Pagi, Harian Bali Tribun, 23 November 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketutwardi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketutwardi.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketutwardi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketutwardi.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketutwardi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketutwardi.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketutwardi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketutwardi.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketutwardi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketutwardi.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketutwardi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketutwardi.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketutwardi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketutwardi.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=188&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/kalah-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/070a9464366c0349ef74fdfac129a49b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketut syahruwardi abbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sidak</title>
		<link>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/sidak/</link>
		<comments>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/sidak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 02:04:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketutwardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketutwardi.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[KALI ini saya tidak ingin berkomentar panjang lebar. Baca sajalah berita-berita yang saya kutip dari beberapa media nasional berikut. Sesudah itu, beri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini: Siapakah yang sesungguhnya tolol? Siapakah yang sesungguhnya menipu? Siapakah sesungguhnya yang patut tercengang? Alkisah, Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana membantah adanya fasilitas di dalam Rumah Tahanan Salemba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=186&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KALI ini saya tidak ingin berkomentar panjang lebar. Baca sajalah berita-berita yang saya kutip dari beberapa media nasional berikut. Sesudah itu, beri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini: Siapakah yang sesungguhnya tolol? Siapakah yang sesungguhnya menipu? Siapakah sesungguhnya yang patut tercengang?<span id="more-186"></span></p>
<p>Alkisah, Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana membantah adanya fasilitas di dalam Rumah Tahanan Salemba seperti kamar mewah yang diceritakan oleh mantan narapidana, Syaripudin S. Pane, melalui rekaman video yang dibuatnya dan disiarkan oleh banyak stasiun televisi.</p>
<p>&#8220;Tidak ada bukti adanya kamar mewah di dalam rutan. Dan blok-bloknya juga sudah berubah,&#8221; kata Denny saat mengunjungi Rutan Salemba, Rabu (16/11).<br />
Pada saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke rutan Salemba, Wamenkumham Denny Indrayana datang bersama Menkumham Amir Syamsuddin. Mereka mengitari setiap blok yang ada di Rutan Salemba untuk mengetahui apakah benar kehidupan di dalam rutan sesuai dengan pernyataan Syaripudin yang pernah ditahan pada 2007-2008 lalu.<br />
Menkumham dan Wamenkumham tidak menemukan adanya berbagai fasilitas seperti kamar mewah serta arena perjudian. Sidak yang dilakukan oleh menteri dan wakil menteri itu sudah diketahui oleh para petugas rutan. Pasalnya, ketika tiba di pintu rutan, mereka disambut dengan tabuhan rebana yang dilakukan oleh anak-anak.</p>
<p>Pengamat komunikasi UI, Effendy Ghazali menilai ‘sidak’ yang dilakukan Menkumham Amir Syamsudin hanya pencitraan belaka, bukan sidak dalam arti sesungguhnya untuk memperbaiki keadaan.</p>
<p>“Kalau sidak yang benar adalah untuk memperbaiki dan mencocokkan laporan Syaripudin Supri Pane. Tapi kalau LP Salemba sudah dipersiapkan anak buahnya itu bukan sidak, melainkan pencitraan,” ujar Effendy di Jakarta, Kamis.</p>
<p>Menurutnya, berdasarkan keterangan sejumlah wartawan yang ikutdalam ‘sidak’ Menkumham Amir Syamsudin dan Wamenkumham Denny Indrayana diketahui bahwa suasana LP Salemba sudah berubah. Sejumlah anggota pramuka tampak berjejer di sana. Sejumlah staf LP pun sudah disiapkan menyambut menteri.</p>
<p>Komisi Hukum DPR pun mengkritik gaya kepemimpinan Menkumham Amir Syamsuddin dan Wakilnya Denny Indrayana. Wakil Ketua Komisi Hukum DPR Nasir Djamil dari PKS mengatakan respons cepat Amir dan Denny menanggapi beredarnya video kesaksian mantan narapidana, hanya reaktif dan pencitraan belaka.</p>
<p>Ini lagi: Terjadi di Kalimantan Timur. Ada dugaan kuat terjadi pembantaian orangutan Kalimantan jenis Morio (Pongo Pygmeus Morio) di areal sawit PT Khaleda Agroprima Malindo, anak usaha Metro Kajang Holdings Bhd asal Malaysia. Dugaan itu dibuktikan dengan puluhan foto dan rekaman video. Tapi hal itu dibantah Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Farouk Ishak.</p>
<p>&#8220;Saya sudah katakan berkali-kali bahwa pemerintah daerah, baik provinsi dan Kutai Kartanegara bersama dengan kepolisian di Polda dan Polres, sudah ke lapangan. Kita tidak menemukan bukti adanya pembantaian itu,&#8221; kata Awang kepada wartawan usai menghadiri Rapat Paripurna ke-33 di Gedung DPRD Kaltim, Jl Teuku Umar, Samarinda, Jumat (18/11).</p>
<p>Menurut Awang, tidak ada yang perlu diragukan karena tidak ada bukti-bukti terjadinya pembantaian orangutan, sebagaimana yang ramai diberitakan di media massa.</p>
<p>&#8220;Pasti, jangan diragukan. Kita juga sangat terganggu dengan pemberitaan itu, seolah-olah kita tidak perduli. Padahal selama ini, kita bekerjasama dengan konservasi orangutan dan pengusaha,&#8221; ujar Awang.<br />
Saat ditanya tentang hasil penelitian tulang orangutan yang dilakukan peneliti orangutan Dr Yaya Rayadin dari Universitas Mulawarman, diduga mati tidak wajar serta beredarnya foto-foto kondisi orangutan yang mati cukup mengenaskan dan diduga berada di areal sawit perusahaan tersebut, Awang kembali menyangkal.<br />
&#8220;Ya diusut foto-foto itu darimana? Kan ada polisi yang menyelidikinya. Kita juga lakukan penyelidikan. Kalau setelah penyelidikan, tentu ada penyidikan,&#8221; katanya.</p>
<p>”Hahahahahaaaaa &#8230; Sidak? Hahahahahaha,” komentar keponakan saya saat menyaksikan berita kedua Sidak pejabat itu di televisi. ”Sidak apaan kok disambut seperti itu?” katanya tentang keriuhan Sidak Menkumham ke Rutan Salemba. Ia menduga, sebelum sang menteri bersama rombongan datang melakukan ”Sidak”, tentu telah dipersiapkan segala-galanya secara cermat dan sesuai kebutuhan pencitraan.</p>
<p>Lalu tentang Sidak sang Gubernur yang menghasilkan ”Tidak ada bukti mengenai pembantaian orangutan” itu, keponakan saya berkomentar lebih konyol lagi. ”Masak sih orang disuruh membantai orangutan di hadapan gubernur dan kapolda dulu agar ditemukan bukti? Saya kok merasa jadi sangat bodoh, Om. Kayaknya kecerdasan saya sangat dilecehkan, deh, Om,” kata ponakan saya, mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di Jawa.</p>
<p>Para pejabat kita lucu ya?</p>
<p><em>Kopi Pagi, Harian Bali Tribun, 21 November 2011</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketutwardi.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketutwardi.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketutwardi.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketutwardi.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketutwardi.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketutwardi.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketutwardi.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketutwardi.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketutwardi.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketutwardi.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketutwardi.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketutwardi.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketutwardi.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketutwardi.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketutwardi.wordpress.com&#038;blog=7622300&#038;post=186&#038;subd=ketutwardi&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketutwardi.wordpress.com/2011/11/28/sidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/070a9464366c0349ef74fdfac129a49b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketut syahruwardi abbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
