Lakon “Kereta Kencana” yang merupakan karya WS Rendra atas adaptasinya terhadap “The Chairs” karya Eugene Ionesco (1909-1994), sudah dipentaskan beberapa kali di Indonesia. Pementasan yang disutradarai oleh Abu Bakar adalah yang kesekian kalinya. Tiap-tiap sutradara dan aktor menyajikan kreativitasnya sendiri dalam menjinakkan atau memberikan makna pada lakon ‘absurd’ ini. Read the rest of this entry »
Category Archives: Artikel
Karena Panggung Memakai ”Style Bali”
”Aku belum pernah dengar pementasan teater rumahan.” Itulah komentar Putu Satria Kusuma, dedengkot Sanggar Kampung Seni Banyuning, Singaraja. Kendati demikian, dia bisa membayangkan, teater rumahan pastilah memiliki karakter tontonan yang beda dengan teater pangggung, karena jarak penonton dengan yang ditonton dekat sekali, bisa dikatakan tidak berjarak. ”Peristiwa teater seperti menjadi peristiwa sehari-hari di dalam rumah. Karena itu sutaradara mesti peka membaca karakter teater rumahan,” ujar Putu. Read the rest of this entry »
Teater Rumahan, Alternatif Pentas Murah
Beberapa kali terjadi: Dramawan Abu Bakar menjadikan rumah kediamannya di Jalan Sakura I, Denpasar, sebagai ”gedung pementasan.” Dengan penonton yang sangat terbatas, Abu selalu bisa ”mengendalikan” audience-nya. ”Kalau tidak menyukai pementasan ini, mohon dengan sangat agar keluar dengan diam-diam. Siapa tahu ada yang masih suka melanjutkan menonton.” Selalu begitu. Abu selalu mengucapkan kalimat itu sebelum pementasannya dimulai. Ia tidak mau tidak dihargai. Ia tidak mau penonton ngobrol sendiri, sementara pementasan sedang berlangsung. Read the rest of this entry »
Kalah (lagi)
KURNIA Miega menyergap bola yang meluncur deras. Ia berhasil menepis tendangan penalti yang dilakukan Kapten Tim Malaysia, Bakhtiar Baddrol. Sayang bola itu tak tertangkap dan melenggang memasuki gawang. Indonesia kalah. Tim merah-putih harus keluar lapangan dengan wajah murung. Sekitar 80 ribu penonton di Gelora Bung Karno pun pulang dengan muram. Jutaan penonton lain yang menyaksikan pertandingan penuh emosi itu melalui televisi pun larut dalam kepedihan. Read the rest of this entry »
Agama bukan hanya Masalah Kematian
KETIKA kasus bunuh diri kian marak, saya tersentak oleh pikiran sendiri: Jangan-jangan kita salah membuat kurikulum pendidikan agama. Jangan-jangan pendidikan agama kita terlampau berorientasi pada kehidupan sesudah kematian ketimbang upaya menanamkan perjuangan dalam hidup. Jangan-jangan kita memang lebih sering bicara tentang berani mati ketimbang berani hidup dengan gagah dalam balutan kesulitan paling sulit sekalipun.
Rumah Sakit
Mendung berjuang menurunkan hujan. Kota kami seperti enggan dibasahi. Segerombolan burung pipit terbang riang. Mereka mengejek para pasien di rumah sakit Sanglah, Denpasar, yang sedang mengerang. Dua orang perawat berlari kecil membawa obat-obatan dan beberapa kantong infus. Saya berpikir. Tak habis pikir. Untuk apa rumah sakit didirikan?
Saat sakit kita benar-benar paham betapa sesungguhnya Tuhan itu mahapemurah. Satu kantong bahan infus berisi nutrisi lengkap harus ditebus seharga Rp 600.000. Hanya untuk 12 jam. Sementara di warteg kita hanya perlu mengeluarkan selembar 5 ribuan untuk seonggok makanan yang cukup memberi kita hidup selama 6 jam. Dari infus seharga 600 ribu rupiah itu tak ada kenikmatan lidah. Tak ada kenikmatan perut kenyang. Read the rest of this entry »
Tak Berbudaya seusai Id Fitri
ISLAM mengenal tiga pilar: Iman, Islam, Ihsan. Tapi kita paling jarang membicarakan pilar terakhir, Ihsan. Maklum, Rasul Muhammad hanya memberi definisi sangat umum terhadap Ihsan. Tidak seperti Iman dan Islam yang diurai, dirinci, dan dipenuhi penetapan, yang kemudian diterjemahkan oleh banyak ulama sehingga sering berkesan bawel dan rewel. Ihsan hanya didefinisikan dengan “Kerjakanlah segala hal sebaik mungkin seakan engkau berhadapan dengan Allah. Kalaupun tidak, ingatlah bahwa Allah senantiasa mengawasimu.”
Bagian sangat penting dalam ihsan adalah kebudayaan, adat, etika, estetika, dan akhlak. Karena persoalan-persoalan ihsan tadi tidak mungkin digeneralisir pada setiap kelompok, suku, maupun bangsa, maka Allah dan Rasul pun tidak merinci dengan detil persoalan ini. Islam, karena itu, diharapkan bisa mengakomodir perkembangan ihsan berdasarkan budaya, adat-istiadat, tata sosial, etika, dan estetika setempat. Read the rest of this entry »
Kesucian telah Bunuh Diri
(Iseng-iseng buka file lama, ada berita tentang bunuh diri yang dimuat Koran TOKOH, 18 Januari 2006. Masih relevan untuk disimak.)
Tahun 2005 lalu, dalam sebulan lebih dari 10 orang tewas bunuh diri di Bali. Apa yang menyebabkan kecenderungan yang kian meningkat dari tahun ke tahun itu?
SAMA dengan pendeta, anak-anak adalah representasi kesucian. Bila anak-anak bunuh diri, sama artinya dengan pendeta bunuh diri. Itu juga berarti kesucian telah membunuh dirinya sendiri.
Pernyataan menggetarkan itu keluar dari Dr. Ida Bagus Made Dharma Palguna dalam diskusi dan apresiani seni bertajuk “Seni dan Bunuh Diri” di Yayasan Kanaivasu, Jumat (23/12/2005) lalu. Yang menjadi pertanyaan mendasar bagi Dharma Palguna adalah: Mengapa anak-anak bunuh diri? Menurutnya, jawaban atas pertanyaan itu perlu dicari dengan menjawab serangkaian pertanyaan lanjutan: Dari mana dan bagaimana cara anak-anak mendapatkan “pengetahuan” bahwa masalah hidup dapat “diselesaikan” dengan bunuh diri? Dari mana dan bagaimana cara anak-anak mendapatkan keberanian aneh itu? Situasi kondusif apa yang menyebabkan anak-anak berhasil memraktikkan penegtahuan dan keberanian itu? Apakah ada yang harus bertanggung jawab terhadap fenomebna ini? Jika ada, siapa? Sayangnya, tak satu pun dari pertanyaan itu yang terjawab dalam malam diskusi “ramai” itu. Read the rest of this entry »
Gangguan Jiwa Pascabom yang Meluas
Pascabom Bali II saya sempat menulis sebuah laporan di sebuah media tentang ganguan kejiwaan pasca teror bom. Saya turunkan kembali untuk mengingatkan kita bahwa teror bom memiliki dampak lanjutan yang tidak kecil, termasuk kejiwaan. Semoga berguna.
TIDAK banyak terungkap, bom Kuta dan Jimbaran tidak hanya meninggalkan kepedihan karena kematian. Ratusan orang kini terancam terkena gangguan kejiwaan ringan hingga berat. Sialnya, bukan hanya mereka yang langsung menjadi korban atau langsung melihat kejadian mengerikan itu yang berpotensi terkena gangguan. Masyarakat yang hanya menonton dari televisi pun sangat mungkin terimbas juga. “Media massa, terutama televisi kita suka tak mau mempertimbangkan hal-hal itu. Tayangannya pun penuh darah,” komentar Dr. IBM Dharma Palguna, MA, pekerja sosial yang bergabung dengan Yayasan Kanaivasu Bali memberikan pelayanan konseling kejiwaan kepada para korban bom Jimbaran dan Kuta.
Seorang lelaki yang sempat mendengar suara ledakan bom tanggal 1 Oktober 2005 lalu, entah apa sebabnya, kini suka kaget dan spontan berlari bila mendengar dering HP. Lelaki lain, sebutlah namanya Bawa, sempat mkenyaksikan seorang waiter di R.Aja’s Café sedang membawa nampan berjalan persis ke arah ledakan. Hingga kini Bawa terus saja tak bisa melupakan kejadian itu dan menghantuinya hingga ke dalam mimpi. Read the rest of this entry »
Pegayaman (3): Bermula dari Penaklukan Teruna Goak

Mengarak sokok taluh keliling desa saat Maulid
MASA paling dramatis dalam sejarah Buleleng (kawasan utara Pulau Bali) adalah ketika seorang bangsawan Gelgel (Kerajaan di Klungkung) yang kurang disenangi di lingkungan purinya sendiri datang ke Den Bukit (sebutan untuk Buleleng pada masa kerajaan). Bangsawan muda berusia 14 tahun itu kemudian dikenal sebagai seorang ahli diplomasi yang ulung sekaligus seorang panglima tangguh. Panji Sakti nama remaja luar biasa itu.
Sebelum Panji Sakti membangun Kerjaan Buleleng, kawasan utara Pulau Bali itu telah dihuni oleh beragam etnis. Selain kelompok Wong Bali Aga (suku asli Bali) di pegunungan, di pantai telah ada pelaut-pelaut Bugis, Jawa, dan Madura. Sementara itu, pedagang-pedagang Cina, Melayu, dan juga Bugis telah pula mulai merambah kawasan itu. Beberapa catatan sejarah malah membuktikan bahwa sebelum Panji Sakti datang, beberapa kelompok Wong Bali Aga telah melakukan kontak perdagangan (sistem barter, tentu saja) dengan pelaut-pelaut Bugis dan Madura di Pelabuhan Temukus atau Labuan Aji. Read the rest of this entry »


