RSS

Ibu

Perempuan adalah “laki-laki yang tidak lengkap”. (Aristoteles)

Ibu. Pada setiap kali panggilan itu kita beri tempat dalam pikiran, maka yang terbayang adalah gambaran sempurna Dewa Wishnu: memberi kita kesadaran tentang makna pertumbuhan, pemeliharaan, kasih-sayang …

Tetapi, seperti selalu kita lihat, tak banyak orang yang bisa dengan baik mengapresiasi karya “dewa wishnu”. Dalam pandangan kita, manusia paling unggul adalah para pencipta, orang-orang yang mampu menghadirkan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada. Kita juga selalu “mengagumi” kekuatan perusak: bom, senjata, dan kekuasaan yang cenderung jadi bandit. Itulah bagian yang secara turun-temurun dianggap sebagai “wilayah laki-laki”. Proses pemeliharaan, kasih-sayang, penumbuhan, dan “maintenance” sebagai “wilayah perempuan” adalah kerja kaum lemah: para pembersih kaca, tukang sapu jalanan, dan para petani. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 21, 2011 in Esai

 

Kami Khawatir, Bapak Presiden

SAYA bertanya-tanya, apa yang kini ada di pikiran Yang Terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Dr. Susilo Bambang Yudhoyono? Apakah beliau mendengar prihal kematian Sondang Hutagalung yang membakar diri di depan istana negara yang nyaris menjadi menara gading itu? Apakah beliau sempat mendengar teriakan Sondang, ”Hukum Mati Koruptor” sebelum membakar diri? Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 12, 2011 in Uncategorized

 

Poliandri Mosuo

DALAM sebuah perjalanan ke China beberapa tahun lalu, seorang pemandu wisata menawari saya sebuah ”petualangan kultural” ke kawasan Danau Lugu yang berada di perbatasan China dengan Tibet. ”Sangat indah. Danau itu berada di ketinggian sekitar 2.700 meter di atas permukaan laut,” tutur si pemandu wisata dengan Bahasa Inggris yang membuat kepala saya pening. Ia pun membisikkan sesuatu ke telinga saya. ”Siapa tahu Anda terpilih,” katanya.

Terpilih jadi apa? Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2011 in Esai

 

Bhisama

PARA sulinggih, budayawan, dosen, mahasiswa, dan beberapa komponen masyarakat Bali yang tergabung dalam Tim Penegak Bhisama secara tegas menyatakan menolak usulan untuk merevisi Peraturan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali. Di hadapan Komisi I DPRD Bali, Tim Penegak Bhisama menyayangkan munculnya usulan revisi Perda Nomor 16 Tahun 2009 Tentang RTRW yang diajukan oleh para bupati/wali kota se-Bali itu. Semestinya, kata mereka, tidak perlu ada revisi lagi. Sebab, sebelum disahkan, perda tersebut sudah melewati kajian mendalam. Baik menyangkut tata ruang maupun lingkungan Bali secara menyeluruh. “Dalam perda itu sudah semuanya diatur. Baik pembangunan kawasan pendukung wisata maupun kawasan suci. Jadi apa lagi yang harus direvisi?” ucap Putu Wirata Dwikora, Sekretaris Tim, usai bertatap muka dengan Komisi I DPRD Bali pekan lalu. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2011 in Esai

 

Ganti Rugi

DI BULELENG, hektaran tanah rakyat digerus, dijadikan proyek pembangunan bendungan. Tentu saja harus ada ganti rugi. Tentu saja pemilik tanah harus mendapatkan kompensasi atas tanah yang ”diambil” untuk kepentingan proyek itu. Harga pun telah disepakati. Demikian juga dengan jadwal pembayaran, telah disepakati pula. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2011 in Esai

 

Kalah (lagi)

KURNIA Miega menyergap bola yang meluncur deras. Ia berhasil menepis tendangan penalti yang dilakukan Kapten Tim Malaysia, Bakhtiar Baddrol. Sayang bola itu tak tertangkap dan melenggang memasuki gawang. Indonesia kalah. Tim merah-putih harus keluar lapangan dengan wajah murung. Sekitar 80 ribu penonton di Gelora Bung Karno pun pulang dengan muram. Jutaan penonton lain yang menyaksikan pertandingan penuh emosi itu melalui televisi pun larut dalam kepedihan. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2011 in Artikel

 

Sidak

KALI ini saya tidak ingin berkomentar panjang lebar. Baca sajalah berita-berita yang saya kutip dari beberapa media nasional berikut. Sesudah itu, beri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini: Siapakah yang sesungguhnya tolol? Siapakah yang sesungguhnya menipu? Siapakah sesungguhnya yang patut tercengang? Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2011 in Esai

 

Partai Nasdem

SANGAT bisa dipahami jika banyak anggota Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) yang menimbang-nimbang keberadaannya di organisasi itu sejak diluncurkannya Partai Nasdem yang kini telah disahkan oleh Kemenkumham. Paling tidak, sangat mungkin itulah yang dirasakan oleh mereka yang berasal dari lingkungan perguruan tinggi, pegawai negeri, orang-orang yang berprofesi khusus yang menuntut independensi diri dari keterlibatan dengan politik praktis, dan anggota parpol lain. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 19, 2011 in Esai

 

Megalomania

KEINGINAN baik tidak selalu berarti baik. Ada orang yang memiliki kekuatan sangat besar untuk melakukan kebaikan. Ada juga orang yang terobsesi sangat kuat untuk selalu berada dalam posisi ”orang baik” dan cenderung melakukan segala upaya untuk mewujudkannya. Sialnya, di antara sekian banyak orang yang punya obsesi seperti itu, ada yang mewujudkannya ”hanya” dalam bentuk angan-angan. Ia berfantasi seakan-akan dirinya berlimpah kekayaan, memiliki kesaktian dan kejeniusan tak terkalahkan, dan kemampuan tak berbatas. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2011 in Esai

 

Paedofilia (2)

KENAPA kita sangat “membenci” prilaku paedofilia? Sebab ia menghancurkan masa depan anak-anak yang menjadi korbannya. Menghancurkan masa depan anak-anak adalah menghancurkan masa depan bangsa, menghancurkan masa depan kemanusiaan. Sama dengan pendeta, anak-anak adalah representasi kesucian,” ungkap budayawan Dr. IBM Dharma Palguna dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu. Bersikap buruk kepada anak-anak, sama artinya dengan bersikap buruk kepala pendeta. Menyodomi anak-anak sama saja dengan menyodomi pendeta. Itu berarti bersikap buruk dan menyodomi kesucian. Begitulah logika moralnya.  Begitulah keyakinan kita, masyarakat Bali. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2011 in Esai

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.